Kamis, 20 Agustus 2015

Random

Belakangan ingatan ini sering memunculkan kejadian-kejadian dalam hidup yang telah terjadi. Melihat aku dimasa lalu dan melihat aku hari, kadang pengen berkata "Hey, ITU BUKAN AKU". Yup, aku yang dulu seratus delapan puluh derat berbeda.

Aku yang ambisius,
Aku yang emosional,
Aku yang suka berteriak,
Aku yang selalu marah,
Aku yang mudah kesal,
Aku yang manja,
Aku yang selalu bergantung sama Bapak,
Aku yang selalu merengek sama Ibu,
Aku yang tak suka mengalah sama adik-adik,
Aku, aku, aku yang begitu terpuruk,
Aku yang sangat buruk,
Aku yang sangat mahal memberikan senyum...
Yes, Itu aku. Bahkan ada seribu keburukan lagi tentangku.
Aku yang pernah membully teman SDku hingga dia tak punya teman.
Aku yang takut ditinggalkan oleh cinta pertamaku.
Aku yang ingin menikah dengan cinta pertamaku.
Aku yang ....
Siapa sangka, sekian langkahku dari ribuan hari yang telah berlalu itu kini aku yang terkemas itu bukan lagi aku. Aku yang secara perlahan aku tinggalkan.

Aku bahkan tak ingat lagi caranya menjadi ambisius, yang ada hanya harapan lalu melangkah sesuai tuntunan hati.
Aku bahkan lupa caranya marah, yang aku ingat justru bernafas lalu sudahlah jika memang sudah terjadi.
Mulutku tak mampu lagi berteriak (kecuali untuk bercanda), yang aku ingat adalah diam dan (kadang) tanpa sengaja air mataku menetes.
Aku bahkan lupa kapan terakhir marah, yang aku ingat adalah rasa kecewa lalu belajar memaafkan.
Aku bahkan tak ingat bagaimana caranya mengutarakan kesal, ya balik lagi aku sibuk mencari cara memaafkan.
Aku lupa bagaimana rasanya dimanja, yang aku ingat adalah bagaimana caranya mengerjakan sesuatu dan bertahan hidup sendiri. Aku hanya punya diriku sendiri. Tidak ada siapapun disini.
Dan banyak hal yang aku lupakan ttentang diriku dimana lalu.
Seingatku, aku bukan aku dan perlahan aku yang sekarang pun akan menjadi bukan aku yang sekarang. Aku ya, entah aku sedang belajar menjadi bukan aku hingga aku mampu melepaskan semuanya, terbang bebas menjadi manusia tanpa ikatan.

Jumat, 14 Agustus 2015

Letter to ...?

I Want Tell You 


Kotak Masuk
x
Aurora Gadisaira
Lampiran28 Jul 
ke saya
Hey Nara,
Long no see you :)
Sometime I miss you. Oh, bukan. Aku bukan rindu padamu, tapi rindu pada kenangan kita. Rindu pada saat-saat kita masih bersama. Rindu tentang apa yang telah kita lalui namun bukan rindu padamu. 

Uhmm, I'm sorry. Maaf untuk semuanya. Semua tingkah kekanakanku. Pergi tanpa sepatah katapun. Ternyata sekian lama bersama tetap saya ya, kamu adalah laki-laki yang akan meninggalkan saya ketika saya mengatakan, "ya sudah pergi saja duluan". Masih saja laki-laki seperti terakhir kali saya temui. Saya pikir kamu akan mencoba menghubungi saya duluan setelah saya meninggalkanmu. Ternyata setelah sekiaan lama berlalu kamu tetap saja diam di tempatmu. Diam tak bergeming mendekat pada saya. *sambil senyum saya nulis ini* Padahal saya menunggumu menghubungi saya. Dan sampai sekarangpun kamu tidak menghubungi saya. Oke, inipun bagus. 

Mengenai kenapa saya meninggalkan kamu tanpa sepatah katapun. Kamu ingat kejadian sebelum terakhir kita bertemu? Ya, kejadian dimana kamu memutuskan sesuatu untuk kita berdua. Saya kecewa. Tapi bukan atas keputusan itu. Kamu ingat setelah keputusan yang kamu buat saya masih ingin berdamai dan ingin mengajakmu bicara? Kamu ingat apa reaksimu? 
Jika tidak mari saya ingatkan. 

Hari itu jelang akhir bulan sebelum musih hujan berakhir. Saya tak ingin ingatkan keputusan apa yang kamu buat waktu itu. Tapi saya ingat betul saya sudah bilang saya memaafkan kamu atas segala keputusan berat yang kamu ambil hari itu. Itu baik untuk kita berdua. Kemudian aku mengajakmu tetap pergi keesokan harinya. Aku pikir sebelum kamu pergi kamu akan pergi bersamaku seperti sebelum-sebelumnya.Sayangnya, itu hanya pikiranku. Aku kecewa terlebih alasanmu menolak pergi. Apa alasanmu waktu itu aku harap kamu ingat sendiri. (Jika kamu tak ingat, itu lebih bagus. Itu tanda bagi saya bahwa segala sesuatu yang pernah kita jalani bersama memang bukanlah apa-apa.) 

Saya kecewa dan terus menghindari pertemuan denganmu. Kamu ingat? Iya, saya sengaja hingga akhirnya saya mendapat kabar gembira ini. Yeah, I'm here. Saya sudah lebih baik dari hari itu. Saya tahu saya turut andil dalam perpisahan kita. Saya tahu sayapun bersalah. 

Di masa lalu, semasa kita hanya teman biasa, ada banyak yang sudah saya lakukan yang mungkin tanpa sengaja menyakitimu. Mengingat itu, saya pikir wajar kalau kamu tidak menghubungi saya ketika saya tidak menghubungimu. Wajar ketika kamu tidak memperjuangkan saya lagi seperti dulu. Kalau dulu ketika saya meninggalkanmu tanpa mengakhiri dengan jelas semuanya, sekarang saya menghubungimu untuk memberitahu hal penting. 

Perjalanan saya di sini sangat menyenangkan. Bertemu banyak cerita, berkenalan dengan banyak teman dan merasakan banyak pengalaman. Dari perjalanan itu saya sadar bahwa apa yang dulu ada diantara kita sekarang telah tiada. Itu hanya bagian dari hidup saya karena kamu tidak berjuang hingga sayapun enggan berjuang. Sekarang, dari keenganan kita berjuang maka kita tidak ada sekarang yang ada hanya aku dan kamu dengan cerita kita masing-masing. Tidak ada cerita kita. Maka, asumsinya adalah jika aku dan kamu tanpa cerita kita tidak berjuang maka semua akan tetap berujung pada ketiadaan cerita untuk mendatang. Maka jika memang cerita itu sudah menuju pada aku dan kamu bukan kita, itulah jalan masing-masing diantara kita. Aku ikhlas jika itu memang hanya bagian dari cerita hidupku. 

Entah sejak kapan aku suka berkata "tidak apa-apa". Namun aku senang mengatakan ini. Tidak apa-apa kalau kamu tidak berjuang untuk saya. Tidak apa-apa kalau kamu berjuang untuk orang lain. Tidak apa-apa kalau kita berjalan di hidup kita masing-masing. Tidak apa-apa. Atau kalaupun kita bersama kemudian berpisah lagi (setidaknya dipisahkan kematian) itupun tidak apa-apa. 

Dulu saya pernah memintamu berjuang. Sekarang saya tidak akan memaksamu lagi. Jika memang semua hanya kenangan yang kini tidak ada sayapun senang. Tidak apa-apa kalau kamu bersama orang lain. Saya mengikhlaskan itu. Dengan begitu saya dapat lebih bahagia, juga saya lebih dapat menerima orang-orang yang hadir dalam hidup saya. Saya menerima ini sebagai bagian dari perjalanan saya. Nama saya Aira kan. Iya, saya hanya perlu mengalir dalam kehidupan ini. 

Kamu berhak memutuskan apapun dihidupmu. Segala keputusan itu hanya akan membawa kita pada keputusan-keputusan lainnya. Apapun keputusanmu saya akan menghormatinya karena saya suka ketika saya memutuskan sesuatu untuk hidup saya, orang lain menghormati keputusan saya. 
Sudah itu saja. Terimakasih atas semuanya yang pernah berlalu. Apapun yang telah membuat saya kecewa, saya telah memaafkan hingga kelak ketika kita bertemu lagi tidak akan ada dendam ataupun sakit hati. 
Saya bahagia. 
Semoga kamupun bahagia. Terimakasih. 



Salam from Sydney,
Aira

[e] misa.aira@gmail.com
[e] raraira@yahoo.com

---------------------------------------------
~ Everything is Nothing ~

Senin, 03 Agustus 2015

Dance and sing on disappointed

It's called happiness, hehehe

Awalnya judul ini saya buat rencananya untuk menulis ide tentang, bahwa ketika kita kecewa, kita bisa tetap memilih bahagia dengan bersyukur. 

Awalnya saya berencana menuliskan kekecewaan saya terhadap seseorang yang saya percaya mengenai keputusan yang dia buat. Saya berencana menulis betapa saya kecewa padanya karena sikap-sikapnya terhadap saya. Bagaimana saya harus memulai berjuang terlebih dahulu bahkan hanya untuk pergi bersamanya. Betapa kecewanya saya, karena dia seolah tak menganggap saya. Betapa kecewanya saya karena saya tidak melihat usahanya. Betapa kecewanya saya, karena dia belum memenuhi janjiny sampai sekarang (dan kemungkinan besar dia lupa janjinya). Betapa kecewanya saya dia memilih dekat dengan orang lain. Betapa kecewanya saya ketika dia membantu seseorang yang saya anggap wanita itu begitu manja dan menyedihkan. Dan betapa kecewanya saya ketika dia mengatakan pada saya memilih wanita itu dan tidak membiarkan saya menempati posisi yang bisa saya tempati. Betapa kecewanya saya..., betapa kecewanya saya..., betapa kecewanya saya..., dan entah berapa banyak lagi betapa kecewanya saya yang bisa saya deskripsikan tentang dia. Dan diakhir tulisan ini rencana awalnya saya ingin membagi bahwa dalam kekecewaan itu saya bisa berbahagia karena keyakinan "jika itu terjadi, maka saya telah mengizinkan terjadi dan itu bukan jalan saya jika itu tidak terjadi". Jadi saya tetap berbahagia. 

Itu rencana awalnya. Dengan versi yang lebih panjang dan dramatis dari tulisan diatas tentunya. Namun, alih-alih menulis, saya malah mengantuk dan menyimpannya di draf. Lalu? Terlupakan dan tak pernah tertulis. Apalagi diterbitkan. 

Kira-kira satu bulan atau 2 bulan setelah peristiwa kekecewaan saya itu terjadi, di bulan Agustus ini saya ingin menulis lagi karena bertemu dengan guru. Membuka blog ini lalu menemukan draf judul ini. Sayangnya,tidak banyak ingatan yang masih saya ingat tentang kekecewaan yang ingin saya tulis saat itu. Kalimat-kalimatnya telah hilang. 

Hari ini saya menuliskan dibadan tulisan ini
ini. Tapi dengan cara yang berbeda. 

Aku kecewa padanya. 
Aku kecewa pada situasi. 
Aku kecewa pada beberapa orang. Pernahkah kalian merasa butuh bantuan, tapi seorangpun teman yang pernah kaliam bantu bisa membantu. Pernah gak berpikir,kalau mereka gak tahu balas budi? 
Pernah, jujur saja. Saya dulu sering, maka saya kecewa. Namun, setahun terakhir itu sedikit demi sedikit mulai terkikis. Masih kadang ada, tapi jarang dan sebentar. Seringnya sekarang tidak semenyakitkan itu. 
Jika itu terjadi, reaksi selanjutnya adalah bersyukur. "syukur, satu karma saya telah berakhir." 
"Syukur, saya tidak membuat hutang dengannya. Saya tidak perlu lagi membayarnya di kehidupan ini ataupun mendatang." 

Contoh simpelnya saja, dulu waktu gebetan saya masih teman sma saya dan saya beberapa kali gak ada yang jemput ke bandara. Saya selalu menghubunginya. Meminta bantuan . Dia selalu tidak bisa. Waktu itu saya kecewa. Cukup lama. Maka lama juga solusi siapa yang jemput datang kepada saya. Endingnya ya, naik taksi atau bus sendiri. (begitulah kalau udah tinggal sendiri). 

Beberapa waktu belakangan. Saya tinggal sendiri (dalam istilahnya ngekost), diminta jemput adik. Baru kemarinnya disuruh bapak bawa helm yang awalnya ada di kost pulang ke rumah. Dengan kondiai habis mengerjakan beberapa kerjaan harus pulang ke rumah yang jaraknya satu jam kemudian balik lagi ke kos dan masih harus urua tiket kepulangan adik sampai jam 1an.gak disangka ternyata tiket palimg murah ada besoknya. Dengan mengerjakam beberapa hal, males banget harus balik lagi ambil helm doang. Gak usah dibayangkan betapa lelahnya tubuh saya. Segeralah saya memutar otak. Saya menghubungi teman yang paling memungkinkan untuk saya pinjami helm. Sayangnya, dia yang sangat saya harapkan bisa membantu tidak dapat membantu. 'saya tidak dirumah' katanya waktu itu. Dan dengan santai saya jawab. "oke". 

Entah sejak kapan saya suka mengatakan oke atau tidak apa-apa. Efeknya baik bagi saya secara keseluruhan. Waktu itu saya bersyukur karena hari itu saya sadar dia tidak bisa membantu saya berkali kali.karena ada pengalaman juga minta bantuannya ternyata tidak bisa membantu. Saya anggap itu sebagai sebuah kode alam kalau dia tidak bisa membantu saya dan kalau mau minta bantuan ke dia lagi, cukup dia di waiting list. Bila sangat kepepet sekali baru coba minta bantuannya. Sebisa mungkin jangan sampai meminta bantuan kepada dia lagi. Itulh yang ego saya inginkan karena ternyata egos saya masih terluka. Masih kecewa, dan ternyata ini lebih sulit terdeteksi. 

Di satu sisi saya bersyukur. Berkat kekecewaan itu saya jadi ingin lebih banyak belajar mengikis kekecewaan ini. Penyebab kelecewaan maksudnya. 
Hari demi hari berjalan dengan penuh pesan pesan. Hingga pertemuan dengan beberapa orang.

Pesan pesan yang ada banyak. Tapi satu pesan hadir untuk memperlihatkan jalan kepada saya melihat tujuan. Pesan yang menyadarkan saya untuk melakukan sebuah perjalanan. Journey to find the true self. Who I'm? 

Empat hari ini saya belajar banyak. Kemarinsaya memutuskan. Dan hari ini saya memulai perjalanan ini. Memulai akhie proses.

Dan, suatu ketika jika saya masih memiliki ikatan karma yang kuat maka saya akan punya kesempatan, tapi untuk terjadi butuh saya putuskan. Kapan waktunya? Ketika semuanya sudah matang. 
Ketika waktunya tiba, kita, saya dan kamu akan bertemu untuk berpisah. 

Terimakasih atas segala yang terjadi selama ini. 

Have a great journey... 

-Perjalanan dimulai- 





I'm not the only one (the End)









(NB: Foto ini hanya ilustrasi, thanks buat yang mengambil foto ini, mungkin kak mega)






#Pertemuan Kemarin & Pesan Hari ini


Hingga akhirnya, saya menyadari. Menjadi lebih paham.
Paham bahwa saya tidak sendiri. ada banyak orang yang menyanyangi saya.
Siap datang memeluk.
Siap mendengarkan.
Siap memahami.
Siap menyadarkan kalau pas saya lagi gak melek. Gak mawas sama keadaan.
Seperti pertemuan kami kemarin.

Setelah 2 tahun berpisah. Kepergian  Bu Diah F, beliau datang namun dengan waktu yang sangat terbatas. Dua tahun tentu ada banyak kisah yang ingin saya ceritakan. Ada banyak tantangan yang ingin saya pecahkan. Sayangnya, sekali lagi waktu kami terbatas. Lalu dalam pertemuan singkat itu, beban beban ini terasa lebih ringan dan memperoleh kesimpulan, "Dulu sulit dan terasa berat, sekarangpun masih sulit tapi terasa sangat ringan bahkan saya terkadang merasa hampir terbang (untungnya belum terbang, karena bobot tubuh masih berat)".

Kesimpulan itu berawal dari sebuah kalimat yang saya buka,
(Nb. dialog hanya gambaran, dibuat mirip tapi tidak sama)
Me : Dua tahun yang sangat sulit buat saya.
Bu D : Begitupun dengan, ibu,
Me : Ohya, gimana?
Bu D : Oh, itu tidak penting. Kamu bagaimana?
Me : Ya, (Blablablabla #sebagian cerita ada diblog ini)
Bu D : ...
Me : ... (kemudian saya lupa percisnya. intinya adalah belajar tentang meditasi).

Saya lupa beberapa bagian seperti sponsor Bu D dipanggil oleh orang. Menemui orang dan lain sebagainya. Namun, beberapa saat setelah pertemuan itu, saya memeluk ibunya. Pesannya sederhana sekali, "selaraskan dulu diri sendiri." Pesan itu mengingatkan saya pada pesan ibunya tadi. Ketika obrolan tadi ibunya hanya mengingatkan, bahwa kita tidak bisa mengubah lingkungan kita. Tidak mungkin bagi kita mengubah orang lain. Terlalu sulit. Sangat sulit. Terlebih orang lain tidak mau berubah. Cara termudah adalah, kitalah yang berubah. Terkadang keputusan yang kita ambil terkesan egois, tapi keputusan dengan penuh kesadaran itu akan membawa dampak yang baik bagi kita dan orang lain. Efeknya untuk jangka panjang. Sepeti pesan-pesan bijak lainnya, untuk memperbaiki hal-hal diluar diri kita, kita hanya cukup melakukan satu hal yang mudah juga sulit "perbaiki diri sendiri". Simpelnya begitu.


Dengan memperbaiki diri sendiri semua pandangan dapat berubah. Contoh singkatnya adalah pandangan yang saya miliki. Dulu ini semua terasa berat. Tapi kini saya paham tantangan (atau orang biasa sebut masalah) tentu dialami semua orang di dunia ini. Tantangan itu kemudian kita ibaratkan sebuah tas dan bebannya. Tas yang besar tak mengisratkan bahwa tas itu penuh dan menjadi berat bagi se penggendong. Begitu juga tas yang kecil, belum tentu ringan. Bukankan berat dan ringan sebuah kata sifat? Kata sifat hanya berada pada tatanan rasa. Berat, ringan, kita merasa. Belum tentu benar terjadi. Jadi, bisa saya tantang ini mampu membawa kita pada permainan yang lebih asyik. Permainan yang membuat kita mengambil sebuah keputusan kemudian membawa kita kepada keputusan lainnya. Tentunya setiap keputusan membawa konsekuensinya sendiri-sendiri yang terkadang membuat kita berpikir akan tepat-tidak tepat keputusan yang kita ambil.

Ah, tepat tidak tepat bukankan kembali lagi perkara pandangan?
Bukankan pada dasarnya setiap keputusan adalah tepat, asalkan kita siap bertanggungjawab pada konsekuensinya. Seperti juga, keputusan mengakhiri pertemuan kemarin. Pengakhiran dengan konsekuensi adanya beberapa hal yang belum terselesaikan.


Kemudian, akhir dari pertemuan kemarin adalah pelukan hangat dari dua guru besar saya Mrs. Diah F dan Mrs. Diah L. Hari yang luar biasa. Kemudian, saya tak ingin lagi mengatakan dua tahun yang berat, saya suka mengatakan dua tahun yang luar biasa. Penuh pembelajaran. Luar biasa, banyak terjadi perubahan. Dari kaku jadi fleksibel. Dari awalnya tembikar pelan-pelan jadi bola bekel walaupun pentalannya belum tinggii. Hingga kesadaran bahwa akhir pertemuan kemarin, akhir dari cerita ini belumlah berakhir. Cerita hari ini bahkan baru berawal karena setiap hari adalah awal harapan baru. Awal kita melepaskan bibit-bibit untuk ditanam menjadi sebuah pohon. Awal untuk mengepakkan sayap-saya kebaikan hingga akhirnya mampu mendorong kita terbang seringan kapas. Dalam mengusahakan ini, kita semua dihadapkan pada tantangan. Pastinya tidak sendiri.

Jadi, kayak lagunya Sam Smith

"I Know I'm not the only one"
So, Keep Strong, 


Selamat bertumbuh
Selamat menemukan jalan hidup
Selamat berjuang dalam menerima maupun penerimaan,
Semoga berbahagia dan setiap penerimaan jalan hidup kita 

Selamat berevolusi untuk memiliki sayap

I'm not the only one (Part II)

#Kejadian Beberapa Tahun Belakangan (Dua Tahun yang Sulit)

Dalam kondisi terberat, tentunya kita menginginkan bantuan dari orang lain. Sayangnya, ketika saya merasa butuh bantuan, seseorang yang saya harapkan bisa membantu, belum mampu melakukan apapun saat itu. Beliau kemudian pergi meninggalkan saya dan rasa berat yang saya miliki. Sayang mengingat diawal-awal masa perkuliahan beliau memberi sebuah pesan,

"jika kamu ingin mengubah lingkunganmu, ubahlah"
"namun jika tidak bisa tinggalkan"
"jika tidak bisa ditinggalkan, cukup dengan terima."

Itu kata-kata yang cukup menguatkan ketika pertama diterima. Kata-kata yang cukup ampun untuk beberapa bulan, hingga semua perubahan terjadi dalam hidup saya. Dan kemudian, kata-kata itu luntur fungsinya. Saya jadi kebal. Kata-kata bijak? Otak saya akan langsung merespon, "alah, apa itu."

Lalu bagaimana saya tetap bertahan? Saya mencoba mencari bantuan.
Banyak bantuan bisa saya temukan. Orang datang silih berganti memberikan pembelajarannya. Sayangnya, kekebalan dan ketebalan hati yang sedang luka tidak mampu melihat semuanya. Telah membutakan.

Teman dan sahabat. Tentu mereka mendukung. Kemana seseorang datang meminta bantuan ketika orang terdekat (anggaplah keluarga) dianggap tidak berfungsi sebagaimana mestinya? Sahabat. Ya, tentu saja. Santi, Desak dan Dewi. Orang yang penuh pengertian dan sabar ketika saya menangis padahal kita harus mengerjakan tugas (lucu juga ya kalau dipikirin sekarang). Sahabat-sahabat yang baik telah membantu saya bertahan. Sayangnya, itu tidak cukup memuaskan. Kesepian tetap menguasai sebagian hati. Kekosongan.

Dosen dan orang-orang optimis. Kekosongan yang masih terjadi tentu membuat seseorang akan tetap mencari bantuan. Begitu juga saya. Kemudian bantuan datang dari beberapa guru. Ada guru yang saya sebut 3D & 2PA (baca two pi ei, ini kayak band korea ya). Yang pertama adalah dari 3D. Adalah bu Diah F, orang pertama yang membantu saya, kemudian harus pergi. Masih dari 3D datang bantuan dari Bu Debi, orang yang sangat baik, optimistik dan strong (menurut saya). Banyak hal yang diajarkan. Ajaran yang bertahan beberapa bulan dan kemudian kalau datang sedikit tantangan lagi, semuanya jadi melumer diotak saya.Ibarat obat, saya resisten. Walaupun beberapa hal tetap menjadi pembelajaran.  Kemudian, saya sebut ini 2PA. Bu Putu kemudian memperkenalkan saya dengan Bu Ari. Entah ikatan karma apa yang kami miliki di kehidupan sebelumnya, bu Ari mengajarkan saya satu hal dan itu membuat saya berjalan lalu mengingat kembali setiap ajaran dari guru-guru sebelumnya. Obat yang pernah diberikan oleh guru-guru sebelumnya tidak lagi resisten. Justru membuat saya menjadi kuat. Mungkin terjadi mutasi gen. (cerita tentang bu Ari Apa itu tidak apa-apa). Kemudian, beberapa hal yang saya pernah lakukan sebelum semuanya berubah saya kembali rindukan.

Kerinduan yang membuat saya membuat ikatan karma dengan seseorang dari 3D, bu Diah. Tapi bukan Bu Diah yang sedang pergi. Ini adalah Diah L. Beliau mengajarkan tentang semangat hidup dan menanam karma. Menumbuhkan lagi semangat untuk mengetahui bahwa "setiap orang mampu menjadi orang hebat." Cerita-cerita yang membuat saya mengerti bahwa benar ketulusan akan melahirkan buah yang manis. Hanya kebaikan yang akan melahirkan kebaikan.  Kata yang tetap saya ingat, "tanam, lepaskan."

Kemudian masih banyak lagi orang-orang yang mengajarkan saya untuk bertahan. Langsung tidak langsung.

Singkat cerita, saya bertemu teman-teman dalam hening. Ya, sebuat saja saya belajar meditasi. Awalnya sih pengen banget belajar melepaskan kemelekatan pada masa lalu. Tapi ternyata yang didapatkan lebih dari itu. Saya tidak dapat cerita lebihnya itu apa, yang pasti sebuah perubahan dalam hidup saya telah terjadi. Berubah. Semua berubah. Kemudian berubah lagi. Berubah terus.  Berubah tak mungkin tak berubah. Hingga kapan? Ah, siapa yang tahu. Karena perubahan inilah semua menjadi seru.

Orang-orang kemudian datang silih berganti. Itulah perubahan yang paling nyata. Perubahan yang akhirnya memberi banyak pembelajaran. Hingga akhirnya ....

bersambung (the end)










I'm not the Only One (Part I)



Aku bukan satu-satunya :)

Satu kata itu yang begitu saja terbesik di benak saya. Pertemuan kemarin, kejadian beberapa tahun ini, hari ini dan sebuah pesan dari seseorang yang penting hari ini membuat saya terdasar "I'm not Only One".

#Kejadian Dua Tahun Lalu
Setahuku, aku memiliki segalanya. Aku orang yang kuat. Dan karena begitu kuatnya, aku menjadi begitu kaku. Sesuatu yang tidak sesuai kehendakku, tendang jauh-jauh. Ketidakberhasilan, usahakan lagi sampai dapat. Usaha, usaha terus sampai semua hal yang diinginkan tercapai. Yang tidak sesuai ubah. Kalau tidak bisa diubah, paksa ubah. Rombak semua. Begitulah kira-kira hingga pada suatu titik, sebuah hal terpenting dalam hidupku berubah. Efeknya, seperti seorang anak yang orangtuanya bercerai.

(perubahan yang IBARAT ortu yang cerai) Gimana ya, pasti susah deh nerima kalau orang tua kita yang biasa tinggal serumah tiba-tiba pisah. Sesuai karakteristikku, maka aku pernah mengubah situasi. Aku coba lakukan sesuatu agar perubahan yang terjadi kembali seperti semula. Sayangnya, apa yang telah berubah tak mampu kuubah lagi.

Pada satu titik itu, semua terasa berat. Apa-apa terlihat buruk. Semua hitam. Legam. Semua salah. Semua terlihat tidak tepat. Dunia sangat gelap. Gelap hingga tak terlihat siapapun yang ada. Dalam kegelapan tentu tak mampu melihat apapun. Tidak terlihat ada teman, hingga mungkin aku saling bertubrukan entah dengan siapa. Tubrukan yang membuat luka, entah dibagian tubuh mana. Luka yang akhirnya menimbulkan rasa sakit yang tak terilustrasikan. Sakit yang akhirnya membuat menangis sepanjang hari (bagian nangis ini agak lebay ya, gak sepanjang hari juga sih, tapi hampir tiap hari, wkwkwk). Hari-hari yang berat. Sulit. Aku satu-satunya yang seperti ini.

Merasa sendiri,
Membawa beban ini, kemana-mana
Berpikir mengakhiri semuanya,
Kabar baiknya, tapi aku bertahan hingga mampu menulis ini.
Bagaimana caranya?
Ah, inilah yang disebut dengan "Sudah jalannya",
Sebuah perjalanan seru, dimulai disini.


(Lanjutan Part II)