Senin, 03 Agustus 2015

Dance and sing on disappointed

It's called happiness, hehehe

Awalnya judul ini saya buat rencananya untuk menulis ide tentang, bahwa ketika kita kecewa, kita bisa tetap memilih bahagia dengan bersyukur. 

Awalnya saya berencana menuliskan kekecewaan saya terhadap seseorang yang saya percaya mengenai keputusan yang dia buat. Saya berencana menulis betapa saya kecewa padanya karena sikap-sikapnya terhadap saya. Bagaimana saya harus memulai berjuang terlebih dahulu bahkan hanya untuk pergi bersamanya. Betapa kecewanya saya, karena dia seolah tak menganggap saya. Betapa kecewanya saya karena saya tidak melihat usahanya. Betapa kecewanya saya, karena dia belum memenuhi janjiny sampai sekarang (dan kemungkinan besar dia lupa janjinya). Betapa kecewanya saya dia memilih dekat dengan orang lain. Betapa kecewanya saya ketika dia membantu seseorang yang saya anggap wanita itu begitu manja dan menyedihkan. Dan betapa kecewanya saya ketika dia mengatakan pada saya memilih wanita itu dan tidak membiarkan saya menempati posisi yang bisa saya tempati. Betapa kecewanya saya..., betapa kecewanya saya..., betapa kecewanya saya..., dan entah berapa banyak lagi betapa kecewanya saya yang bisa saya deskripsikan tentang dia. Dan diakhir tulisan ini rencana awalnya saya ingin membagi bahwa dalam kekecewaan itu saya bisa berbahagia karena keyakinan "jika itu terjadi, maka saya telah mengizinkan terjadi dan itu bukan jalan saya jika itu tidak terjadi". Jadi saya tetap berbahagia. 

Itu rencana awalnya. Dengan versi yang lebih panjang dan dramatis dari tulisan diatas tentunya. Namun, alih-alih menulis, saya malah mengantuk dan menyimpannya di draf. Lalu? Terlupakan dan tak pernah tertulis. Apalagi diterbitkan. 

Kira-kira satu bulan atau 2 bulan setelah peristiwa kekecewaan saya itu terjadi, di bulan Agustus ini saya ingin menulis lagi karena bertemu dengan guru. Membuka blog ini lalu menemukan draf judul ini. Sayangnya,tidak banyak ingatan yang masih saya ingat tentang kekecewaan yang ingin saya tulis saat itu. Kalimat-kalimatnya telah hilang. 

Hari ini saya menuliskan dibadan tulisan ini
ini. Tapi dengan cara yang berbeda. 

Aku kecewa padanya. 
Aku kecewa pada situasi. 
Aku kecewa pada beberapa orang. Pernahkah kalian merasa butuh bantuan, tapi seorangpun teman yang pernah kaliam bantu bisa membantu. Pernah gak berpikir,kalau mereka gak tahu balas budi? 
Pernah, jujur saja. Saya dulu sering, maka saya kecewa. Namun, setahun terakhir itu sedikit demi sedikit mulai terkikis. Masih kadang ada, tapi jarang dan sebentar. Seringnya sekarang tidak semenyakitkan itu. 
Jika itu terjadi, reaksi selanjutnya adalah bersyukur. "syukur, satu karma saya telah berakhir." 
"Syukur, saya tidak membuat hutang dengannya. Saya tidak perlu lagi membayarnya di kehidupan ini ataupun mendatang." 

Contoh simpelnya saja, dulu waktu gebetan saya masih teman sma saya dan saya beberapa kali gak ada yang jemput ke bandara. Saya selalu menghubunginya. Meminta bantuan . Dia selalu tidak bisa. Waktu itu saya kecewa. Cukup lama. Maka lama juga solusi siapa yang jemput datang kepada saya. Endingnya ya, naik taksi atau bus sendiri. (begitulah kalau udah tinggal sendiri). 

Beberapa waktu belakangan. Saya tinggal sendiri (dalam istilahnya ngekost), diminta jemput adik. Baru kemarinnya disuruh bapak bawa helm yang awalnya ada di kost pulang ke rumah. Dengan kondiai habis mengerjakan beberapa kerjaan harus pulang ke rumah yang jaraknya satu jam kemudian balik lagi ke kos dan masih harus urua tiket kepulangan adik sampai jam 1an.gak disangka ternyata tiket palimg murah ada besoknya. Dengan mengerjakam beberapa hal, males banget harus balik lagi ambil helm doang. Gak usah dibayangkan betapa lelahnya tubuh saya. Segeralah saya memutar otak. Saya menghubungi teman yang paling memungkinkan untuk saya pinjami helm. Sayangnya, dia yang sangat saya harapkan bisa membantu tidak dapat membantu. 'saya tidak dirumah' katanya waktu itu. Dan dengan santai saya jawab. "oke". 

Entah sejak kapan saya suka mengatakan oke atau tidak apa-apa. Efeknya baik bagi saya secara keseluruhan. Waktu itu saya bersyukur karena hari itu saya sadar dia tidak bisa membantu saya berkali kali.karena ada pengalaman juga minta bantuannya ternyata tidak bisa membantu. Saya anggap itu sebagai sebuah kode alam kalau dia tidak bisa membantu saya dan kalau mau minta bantuan ke dia lagi, cukup dia di waiting list. Bila sangat kepepet sekali baru coba minta bantuannya. Sebisa mungkin jangan sampai meminta bantuan kepada dia lagi. Itulh yang ego saya inginkan karena ternyata egos saya masih terluka. Masih kecewa, dan ternyata ini lebih sulit terdeteksi. 

Di satu sisi saya bersyukur. Berkat kekecewaan itu saya jadi ingin lebih banyak belajar mengikis kekecewaan ini. Penyebab kelecewaan maksudnya. 
Hari demi hari berjalan dengan penuh pesan pesan. Hingga pertemuan dengan beberapa orang.

Pesan pesan yang ada banyak. Tapi satu pesan hadir untuk memperlihatkan jalan kepada saya melihat tujuan. Pesan yang menyadarkan saya untuk melakukan sebuah perjalanan. Journey to find the true self. Who I'm? 

Empat hari ini saya belajar banyak. Kemarinsaya memutuskan. Dan hari ini saya memulai perjalanan ini. Memulai akhie proses.

Dan, suatu ketika jika saya masih memiliki ikatan karma yang kuat maka saya akan punya kesempatan, tapi untuk terjadi butuh saya putuskan. Kapan waktunya? Ketika semuanya sudah matang. 
Ketika waktunya tiba, kita, saya dan kamu akan bertemu untuk berpisah. 

Terimakasih atas segala yang terjadi selama ini. 

Have a great journey... 

-Perjalanan dimulai- 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar