Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 April 2013

Tak sekadar angka 24

Aku tak tahu apa yang mendorongku kali ini. Perasaanku terlalu kacau untuk ku jelaskan. Perkataanku terlalu tajam untuk setiap orang yang ku temui. Sedikit saja kata mereka tak sesuai dengan aku maka langsung ku serang. Tak ku biarkan mereka berkutik menentangku lagi. Aku marah.

Enam puluh menit pejalanan pulang membuat pikiranku mengulang lagi hal yang ku lakukan tadi. Pikirku cukup lelah. Istirahat adalah hasrat terbesarku saat ini. Menenangkan pikiran dan memulihkan tenagaku.
Namun, pikiranku yang sangat lelah haruslah ku letakkan. Ku lakukan ritual sebelum tidur ketika sangat lelah. Ku ambil buku harianku dan aku mulai menulis, namun otakku terlalu panas untuk menulis. Kuputuskan saja membaca lagi sejarah yang pernah ku tulis.

Di lembar pertama buku itu tertulis jelas ketika pertama kali aku jatuh cinta padanya. Perasaanku sungguh bahagia. Ada harapan. Ada ambisi. Membuatku tersenyum sendiri membaca lembar-lembar itu. Lembar demi lembar terus ku balik. Semua ku baca kembali dengan jelas. Seperti juga diingatanku, setelah lembar pertama tidak ada lagi tulisan bahagia. Sisanya adalah kisah sedih dan luka karena cinta itu. Aku jatuh cinta yang membuatku benar-benar jatuh.

Sampai di lembar ke dua puluh empat, tanggal menunjukkan 24 September 20**. Ada sebuah kisah, kami berjalan bersama. Hari itu adalah hari pertama aku mengenalnya lebih dari sekadar nama dan mengaguminya dari jauh. Jika sejak dulu aku mengaguminya tanpa bisa mengobrol, hari ini aku mengobrol dengannya. Ringan memang, namun itulah hari pertama kami berbicara cukup banyak. Jika selama ini aku cemburu pada setiap wanita yang dekat dengannya, hari ini setiap wanita berhak cemburu padaku karena hari ini dia mengantarku pulang untuk pertama kalinya. Jika selama ini, aku hanya bisa berharap dia melihatku, hari ini adalah hari kemenanganku karena dia menatapku tajam. Perasaanku bahagia. Membuatku melambung tinggi ke langit. Aku mengharapkannya. Semakin mengharapkannya.

Hingga 3 November 20** aku terjatuh. Aku kembali menginjak tanah. Membuatku sadar, aku hanya bermimpi. Dia membangunkanku dari mimpiku dengan "bersamanya".

Aku terus membaca lembar demi lembar buku harianku, dan tak pernah ku temukan lagi tulisan kebahagiaan di sana. Di saat aku meraih kemenanganpun, aku tak ingat caranya tersenyum dari hari. Ada foto-fotoku tersenyum di sana, namun sayang aku tak ingat aku pernah tersenyum di foto itu. Aku hanya mengingat luka yang ada di hatiku. Luka yang terasa sangat sangat sakit.

Ku balik lagi lembar-lembar putih penuh coretan itu. Aku seperti membaca kembali lembaran pertama buku ini. Di sana tertulis 24 Desember 20**. Tepat di hari ulang tahunku, aku menemukan kembali cintaku. Bukan, ternyata bukan sebuah cinta baru, namun cinta lama yang tidak aku sadari ada di sisiku karena aku sibuk mengejar cintanya. Ya, itu cinta dari keluargaku, cinta dari sahabatku dan cinta dari seluruh kerabatku.

Walau sampai sekarang luka itu masih ada, namun setidaknya aku ingat cara tersenyum. Aku tahu cara bahagia. Aku memiliki harapan untuk meraih banyak hal. Walau aku tak tahu perasaanku sekarang padanya namun setidaknya aku mampun tersenyum. Dan...Aku tersenyum sendiri membaca kembali semuanya. Ada banyak hal dan kebahagiaan di tanggal 24. Aku yakin sekarang, mengapa aku suka sekali angka itu berpasangan. Angka 2 dan 4. Ketika mereka bersama aku melihat mereka sangat serasi. Iya, karena 24 adalah tanggal yang membuatku selalu bahagia. 24 Desember pertama kali aku dilahirkan dan hari aku berani memupuk cintaku lagi. 24 September ada sebuah sejarah antar aku dan dia. Dan entah apa lagi yang akan terjadi di 24 lainnya. Mungkin 24 selanjutnya dia kembali padaku sehingga 24 Desember lengkaplah kebahagiaanku, atau 24 selanjutnya dia memintaku untuk tidak lagi mengharapkannya dan melukaiku semakin dalam. Tapi apapun itu, kupikir tidak perlu dicemaskan karena itu belum terjadi. Cukup yang aku tahu sekarang aku suka 24. :)

Sabtu, 13 April 2013

Rinduku Senja


Sejuknya udara senja ini dapat ku hirup dengan leluasa. Begitu segar. Indahnya senja ku nikmati, sambil melihat-lihat foto perjalananku bersama Rafa. Aaah… sudah lama aku merindukan senja di rumah ini, di balkon depan kamarku. Dari balkon kamar yang terletak di lantai dua ini aku dapat melihat seseorang yang datang ke rumah. Selain itu, duduk di balkon membuatku dengan leluasa menatap cakrawala. Mataku terpesona pada langit biru berpadu awan merah terkena sinar matahari yang akan kembali ke peraduannya. Begitu cantik. Menatap senja di sini menggores senyum bibirku. Air mata tak sanggup ku bendung. Otakku berputar. Ada sebuah ingatan yang bangkit.



***                                                     
 ‘’Aku merindukanmu’’ kata anak laki-laki padaku ketika aku melangkahkan keluar gereja. Anak itu langsung memelukku. Membuatku terkejut. Tak ada terlintas di pikiranku ada orang lain selain aku yang mau mampir ke gereja kecil di sekolah ini. Geraja ini memang kurang terawat sehingga tak pernah sekalipun orang lain yang ku temui jika aku mampir ke sini.
‘’Ini aneh.” Jawabku singkat melepas pelukannya. Ku tatap dia yang kini tepat di depanku beberapa senti. Wajahnya tak asing di mataku. Ia tampak menggunakan seragam putih abu sepertiku.
“Kenapa?” tanyanya heran.
“Aneh saja kamu merindukanku. Aku hanya 3 hari tidak sekolah karena kecelakaan. Kamu menjenguk waktu hari pertama aku tidak sekolah. Jadi kita baru 2 hari tidak bertemu. Bukankah sebuah keanehan kamu merindukanku?”
“Aku tidak tahu ini hanya ketergantungan atau bukan. Ada 6 hari yang kita habiskan di sekolah dari pagi hingga sore selama 2 tahun. Hari minggu pun setiap sore kita bertemu untuk mendiskusikan program kerja OSIS. Setiap hari kita bertemu. Tidak melihatmu selama 2 hari, membuat endorphin[1] di otakku sedikit diproduksi. Serotonin[2] ku menurun, aku jadi tak bahagia. Tidak bisa menikmati beberapa hariku. Melihatmu tadi muncul membuat aku sadar, aku rindu.”
            “Makanya kamu cari pacar. Biar kamu tidak adiksi padaku.” Ledekku dengan wajah ceria walaupun hatiku setengah hati mengatakannya.
‘’Ini aku sedang mencari pacar.’’
“Woow, seorang Nara yang terkenal pintar dan tampan sehingga tidak ada wanita yang tidak terpesona padanya di SMA Nuansa Prestasi ini. Selama 3 tahun telah membuat banyak wanita patah hati, dan akhirnya hari ini kamu punya pacar…. Kemajuan pesat. Bagus…bagus.” Kataku dan tersenyum palsu. “Mana ni traktirannya? Sebagai wakilmu di OSIS, selalu membantu pekerjaanmu dan dekat denganmu kamu wajib memberiku traktiran kalau kamu sudah punya pacar!” ledekku lagi.
“Aku bilang sekarang aku sedang mencari pacar. Bukan sudah punya pacar” katanya sedikit membentak dan serius.
“Ups, sorry deh. Terus siapa dong yang kamu cari?” tanyaku polos.
Nara menarik napas panjang sebelum berkata “Walaupun kamu tidak sensitive, namun kamu pintar. Kamu manis. Aku suka. Bolehkah aku menitipkan
 hatiku ke kamu, Misa Auroralysta Gadisaira?”
***
            “Kak, ada tamu tuh.” Kata Zena membuyarkan lamunanku. Tatapan yang semula ku arahkan ke langit berarah padanya.
            “Rafa udah datang?”
            “Bukan kak Rafa,kak. Tapi Nara.”
            “Apa?” tanyaku terkejut. Dia hanya mengangkat bahu, berniat pergi.           “Oiya, kak. Aku mau les dulu. Hati-hati di rumah,kak. ” katanya sebelum pergi.
            Sedikit lemas, aku mengikuti langkah Zena. Di sebuah sofa minimalis yang mehiasi ruang tamu, aku melihat seseorang yang aku rindu beberapa tahun belakangan ini. Ia duduk di sofa dengan mengentak pelan kakinya. Melihat sosokku muncul, aku menangkap senyum darinya. Ia masih tampan seperti dulu. Masih sama seperti ketika aku meninggalkannya ke Amerika untuk melanjutkan study. Delapan tahun kami tak pernah bertemu, ia tak banyak berubah.
            “Apa kabar, Nara?” Sapaku membalas senyumnya.
            “Bertambah baik karena meliharmu, Aira.” Jawabnya, yang hanya ku balas senyum.
            “Mau minum apa?”
            “Seperti biasa.”
            “Tunggu, ya.” Kataku, pergi mengambilkannya minuman.
            Hanya butuh 5 menit untuk membuatkan teh manis kesukaannya. Seusai meletakkan teh kami, aku duduk berhadapan dengannya. Kursiku dan kursinya dibatasi sebuah meja tempatku meletakkan teh. Aku duduk menghadap pintu masuk, sedangkan ia duduk membelakangi pintu yang terbuka. Pintu sengaja kubiarkan terbuka untuk menghindari gunjingan tetangga karena kami hanya berdua di rumah dan sesuai kata adikku, aku harus berhati-hati.
            “Aku baru tadi subuh sampai disini, bagaimana kamu tahu aku sudah di sini, Nara?” aku membuka pembicaraan.
            “Dari status yang selalu kamu update di jejaring sosial.” Jawabnya tersenyum. “Maaf ya, bukannya aku kepo atau mau menguntit kamu. Aku butuh berbicara denganmu. Jadi aku terus mencari informasi dari statusmu. Walau kita tidak pernah bertemu, namun aku turut bahagia mengetahui kuliah sarjana dan profesimu di Amerika berjalan lancar, mendapatkan pekerjaan yang bagus dan melakukan perjalanan ke beberapa Negara seperti impianmu.”
            “Wah, aku seperti seorang selebriti saja. Segala beritaku kamu tahu.” Candaku, mencoba tidak marah. Sebenarnya aku marah karena dia seperti agen menyelidikku dengan mengikuti status. Namun, setelah ku pikir-pikir aku ikut andil bersalah karena terlalu memamerkan yang aku lakukan di jejaring sosial. Untung tidak semua hal aku ungkap, salah satunya status hubunganku. Pikirku.
            Ia tertawa karena perkataanku. “Ra, boleh aku tahu teman yang selalu bersamamu di foto yang kamu upload?” tanyanya, membuatku berpikir. Siapa teman yang selalu bersamaku? Ada banyak temanku. “Teman yang sama disampingmu dalam perjalananmu ke Slandia baru, Nerwegia, dan tempat-tempat lainnya?” tanyanya lagi seolah mengetahui isi pikiranku.
            “Oh, itu.” Jawabku mulai mengerti pertanyaannya. “ Namanya Rafa. Teman kuliahku dulu. Kemudian, kami bekerja dalam perusahaan yang sama dan sering mendapat tugas bersama ke beberapa negara.” Jelasku padanya.
             “Ra, masihkah kamu marah?” tanyanya mulai lebih serius.
            Aku menarik napas cukup panjang sebelum menjawab, “hari ini sudah tidak.”
            “Kamu terlihat marah sekali waktu itu.”
            “Cewek nomal mana yang tidak marah diperlakukan seperti itu, Nara?” tanyaku membungkam mulutnya. Sekitar 1 menit kami terdiam karena pertanyaan yang ku lontarkan. “Dua tahun aku memendam cinta dan akhirnya kamu memintaku menjadi pacarmu.Bisa kamu bayangkan betapa bahagianya aku? Aku suka menghabiskan waktu mengobrol sembari memandang senja bersamamu di hari minggu seusai kita rapat. Setiap minggu kita memandang langit senja sambil berbagi cerita dan keluh.”
            “Senja yang indah.”
            “Iya, hingga kamu menenggelamkan mentari senjaku yang indah.” Kataku penuh makna.
            “Maafkan aku, Aira.” Kata Nara, mengingatkanku pada sebuah senja kelabu.
            Ingatanku melayang. Membuka lagi lembaran-lembaran masa lalu yang kukubur. Terlihat jelas bayangan laki-laki dan perempuan seusiaku sedang berpelukan mesra di sebuah taman. Mereka melakukan itu, tanpa tahu kehadiranku. Jika tidak dengan jelas ku dengar perempuan itu memanggil nama yang  tak  asing di telinga, tidak sedikitpun aku berniat menghampiri mereka. Aku tak tahu menjadi berapa keping hatiku ketika dengan jelas ku lihat bahwa laki-laki tersebut adalah Nara, pacar yang sangat ku cintai.
            “Ra ?” Tanya Nara mengembalikanku pada masa ini.
            “Aku marah ketika itu… Aku sedih… Aku hancur…”
            “Maafkan aku, Ra. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, namun kamu sudah terlanjur pergi. Aku mencarimu ke rumah, orang tuamu mengatakan bahwa kamu sudah pergi ke luar negri. Aku mencoba menghubungimu namun tak bisa. Aku pikir setelah S1 kamu akan langsung pulang, ternyata kamu melanjutkan S2 disana, bakhan bekerja dan ke beberapa Negara. Aku tak sempat menjelaskan padamu.”
            “Saat itu kita hanya belum sama-sama dewasa, Nara. Andai saja, aku bisa sedikit lebih sabar dan menunggu penjelasanmu mungkin senja hari ini tidak akan seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur,bukan? Mungkin aku memang bukan untukmu.”
            “Bolehkah aku menjelaskan semuanya sekarang?”
             “Silakan!” jawabku mencoba bersabar.
            “Dia bernama Esa. Temanku sejak kecil. Aku menyukainya. Dia tahu itu, tapi dia bilang kami tidak boleh ada hubungan pacaran karena tidak ingin hubungan kami rusak. Dia tahu kita pacaran. Hampir 2 bulan kita pacaran, dia bilang merasa kehilangan dan memintaku meninggalkanmu. Aku tentu tidak bisa meninggalkanmu. Kamu tampak lebih bahagia yang membuatmu makin cantik. Dia memberikan tawaran, kami pacaran dan aku setuju tanpa berpikir panjang.”
            “Enam bulan kamu membohongiku…” kataku, menyesal.
            “Saat kamu melihat kami, aku ingin menjelaskan semuanya. Aku ingin kita putus waktu itu dan meminta agar kamu memaafkanku.”
            “Jadi hari ini kamu datang hanya untuk menjelaskan ini?” tanyaku, tak percaya. “Aku sudah memaafkanmu.”
            “Bukan.” Katanya sedikit ragu. “Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Kita pacaran lagi. Bersama lagi. Bisakah?”
            “Tidak.” Jawabku tegas. “Kamu sudah bersamanya, mana bisa kita bersama.”
            “Dia telah hamil dengan lelaki lain dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku baru sadar kamu adalah bagian hidupku yang tidak ada gantinya. Aku menyesal menduakanmu dengan wanita yang salah.” Katanya, meluluhkan hatiku.
            “Aku mencintaimu, Nara. Ketika aku di luar negeri, aku selalu merindukanmu. Aku merindukan senja bersamamu. Aku merindukan tertawa di bawah langit senja bersamamu. Empat tahun aku rindu senja bersamamu. Setiap melihat senja yang ku sukai hatiku terluka. Namun aku rindu.” Kataku menatapnya. “Tahun berlalu…, Aku mencintaimu, Rafa.” Kataku tersenyum menatap pria tampan di belakang Nara yang sejak 5 menit lalu mendengar pembicaraan kami. Seorang pria yang menemaniku ketika aku terjatuh. Menjagaku selama 8 tahun dan mengobati hatiku yang dilukai Nara.
           


[1] Endorphin : hormon tubuh yang memberikan rangsangan kepada otak dengan sensasi kebahagaian, kenyamanan dan cinta.
[2] Serotonin : kontributor untuk perasaan sejahtera (bahagia), sehingga dikenal juga sebagai “hormon kebahagiaan” meskipun serotonin bukanlah hormon.



Senin, 11 Februari 2013

Mungkin

Deru motor terdengan jelas ditelingaku. Ada banyak. Satu. Dua. Tiga. Empat, sudah tidak terhitung lagi berpa motor yang melewati motorku. Terlalu banyak. Mereka terlalu cepat mengedarinya atau aku yang terlalu hati-hati.

Ya, mungkin aku yang terlalu hati-hati.

Aku hati-hati ? 

Iya. Begitulah kenyataan yang dapat dipungkiri, Spidometer menunjukkan kecepatan motorku hanya 40 km/jam. Hati-hati? Itu keterlalu hati-hati namanya untuk ukuran jalan baypass. 

Satu penyebab pasti, kelambanan motorku adalah kecepatan otakku berpikir.Tak kalah dengan banyaknya motor yang berlalu itu, pikiran di otakkupun banyak melintas.

Aku jatuh cinta. Sayangnya, aku kembali jatuh cinta dengan orang yang salah. Ini adalah kesekian kalinya aku jatuh cinta dengan orang yang salah. Harirama, kamu adalah yang pertama. Aku terluka dan menimbulkan trauma mendalam di diriku. Apa setelah itu aku tidak pernah jatuh cinta ?

Oh, ternyata setelah aku berpikir kembali. Sudah 3 kali aku kembali jatuh cinta. Namun akhirnya, aku kembali padamu, Harirama. Mungkin bukan kembali, namun menjadikanmu tameng.Atau mungkin aku memang tak pernah jatuh cinta lagi. Aku hanya mencintaimu. Aku tak yakin. Ini hanya mungkin.

Pertama, mungkin cintaku padamu telah sangat mendalam. Aku tak bisa melepasmu. Aku tak mampu mengikhlaskanmu. Hingga sakit yang kurasa karena mencintaimu membuatku tak mampu lagi mencintai orang lain. Ini hanya mungkin.

Kemungkinan lainnya adalah aku jatuh cinta. Contohnya saat ini, aku jatuh cinta dengan seseorang yang bersamaku. Menemaniku bekerja. Rekan kerjaku. Seorang senior dalam pekerjaan ini. Namun belakangan aku tahu, dia pernah juga menjalin hubungan dengan rekan kerjanya yang membuat mereka tak berakhir bahagia. Beberapa hari lagi, aku akan mempertemukan mereka. Dia dan mantan kekasihnya, dan tentunya ada aku. Jika benar aku mulai mencintainya, aku akan sakit. Jalan satu-satunya adalah mengingatmu Harirama. Menceritakan bahwa aku masih mencintaimu. Agar perasaan cintaku padanya tak ia ketahui. Semua berakhir bahagia, walau hatiku sakit mengingatmu Harirama. Mungkinkah begini ? Mungkinkan inilah yang selama ini ku lakukan ? menjadikanmu tameng. Oh, Harirama. Aku tak tahu. Semua mungkin. Hanya mungkin. Dan akupun tak tahu bagaimana perasaanku saat ini.

Aku hanya ingin, sesuatu yang kita awali dengan baik berakhir dengan baik. 

Di bawah bayang putih abu

Sabtu, 02 Februari 2013

Tentang Sunny

Aku berjalan menelusuri dua tembok besar sekolahku dulu. Masih tak berbeda. Memasuki gerbang besar ini, disambut oleh sebuah kolam besar penuh teratai. Penegok ke kanan, ada sebuah pura kecil yang kami sebut padmasana. Aku langkahkan kakiku menuju tempat suci itu.

Memasuki gerbang padmasana yang mungil. Menapakkan lagi kakiku di tempat ini membuat sebuah cerita terlintas di benakku. Aku duduk di tempat aku biasa duduk dua tahun lalu. Sebuah tempat yang disebut piasan. Sebuah tempat yang digunakan untuk menata persembahan sebelum di haturkan kepada Tuhan. Tempat ini menghadap selatan yang menyuguhkan pemandangan kolam dan jalan menuju ruang kelas.

Ah, duduk di tempat ini mengingatkanku pada tahun-tahun aku masih mengenyam ilmu di sekolah menengah atas. Di tempat suci dan mungil ini kami pertama bertemu. Piasan ini merupakan tempat aku biasa menantinya di tahun-tahun lalu. Dia. Dia yang mengisi hatiku selama aku melewatkan masa putih abuku. Selama tiga tahun, dan aku tak tahu hingga kapan. Hingga saat ini, saat kami tak pernah terhubung lagipun aku masih membiarkannya mengisi hatiku.

Dengan langkah pasti seseorang menghampiriku. Tersenyum lembut. 
"Sudah lama ? " tanyanya.
"Belum setahun lah," jawabku tersenyum "Apa kabar?"
"Semakin baik, ketika melihatmu hari ini baik."
"Aku tak sebaik yang kamu,pikir Ram."
"Apa ? "
Aku hanya tersenyum, tak menjawab rasa penasarannya. Matahari senja mulai menyentuh lengan kananku. Membuat tanganku terasa sedikit panas. 
"Ayo, kita ke aula." Ajakku. 
Kami berjalan beriringan membuat orang yang hadir dalam reuni kali ini berbisik mengembangkan pemikiran mereka tentang kami. 
"Hey, kalian lesbi ya?" tanya seseorang teman pria pada kami "Sejak SMA, aku tak pernah melihat kalian punya pacar. Kalian selalu berdua."

Ku lihat raut wajah Rami berubah merah ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Entah karena marah. Karena malu. Atau gugup. Atau sedih. Atau takut, aku tak tahu. Dan aku tak bisa menebak. Namun, yang pasti ada sebuah kemarahan dari dalam diriku. Sebuah kekuatan yang membuatku menarik tangan pria tadi. Diikuti Rami.

"Apa yang salah?" tanyaku pada priia itu.
"Yah.." jawabnya gugup" yah,..."
"Apa? apa kamu anggap tidak normal?" bentakku. Rami yang ada di sampingku hanya terdiam. Yah, aku maklum. Dia memang sosok pendiam.Kurasa kehadirannya disini untuk mencegah jika amarahku tak sanggup ku tahan dan mungkin bisa saja melukai mangsaku. Eh, maksudku seseorang yang kuajak bicara kali ini.
"Habis kalian.."
"Bukan itu pertanyaanku. Apa kamu anggap tidak normal bila seseorang perempuan memilih pasangan perempuan. Atau laki-laki memilih pasangan laki-laki?"
"Ya.." Jawabnya.
"Aku tak menyangka pikiranmu sesempit itu, Hari." Kataku mulai tenang. "Beginilah kita yang telalu hidup dalam dunia heteronormatif. Ketika hanya ada dua, normal dan tidak normal. laki-laki dan perempuan. Apa mencintai seseorang adalah kesalahan? apakah itu bukan hal normal"
"Tidak. Mencintai seseorang adalah hal normal."
"Jika kamu setuju bahwa mencintai seseorang adalah bukan kesalahan, bagaimana mungkin kami menganggap bahwa memilih pasangan sejenis adalah tidak normal. Itu adalah pilihan. Jika, seandainya aku memang mencintai Rami yang seorang perempuan dan aku seorang perempuan, apa aku salah ? Tidak seharusnya kamu bilang kami tidak normal. Bukankan mencintai seseorang itu normal. Hanya saja kita berbeda. Bukan berarti aku tidak normal kan? Aku tidak mengganggu siapun, ini ada pilihan jika seseorang memilih pasangan. Tidak ada yang dibuat menderita dari pilihan itu. Dan aku tidak ingin kamu menganggap seorang dengan pasangan sesama jenis itu tidak normal. "Ceramahku panjang, membuatnya hanya bengong mendengar.
"Kami tulus saling menyayangi, Hari. Sebagai dua orang yang saling menerima dan tanpa pamrih. Sebagai dua orang yang berbagi cerita. Dan sebagai dua orang yang saling belajar mengerti." Akhirnya Rami angkat bicara.
"Sebaiknya kamu cerna kata-kataku tadi. Dan sebagai seorang calon dokter, kamu lebih banyak membaca agar pengetahuanmu tak sesempit daun kelor." Kataku lagi, bersiap pergi meninggalkan mereka. 

Aku tidak melihat Rami mengikutiku seperti tadi. Ada yang masih dia katakan pada pria menyebalkan itu.
 Samar-samar aku masih mendengar sedikit suaranya yang lembut. "Kami saling.." aku tidak tertarik lagi mendengar pembicaraan mereka. Aku mempercepat langkahku. Perasaanku begitu kacau. Senja kali ini lebih menusuk di bandingkan senja sebelumnya. Air mataku menetes tanpa aku sadar. Aku tak tahan lagi jika berada dalam reuni penuh hingar bingar ini. Kuputuskan menelusuri kelasku yang terpencil. Jaraknya sedikit jauh dari aula tempat reuni. Walaupun masih terdengar suara musik dari aula, setidaknya aku memiliki tempat untuk menangis. Sendiri.

"Misa," Kata seseorang memegang pundakku.
"Aku sakit," kataku, begitu melihat wajah Rami.
"Maafkan aku, Misa". Kata seorang pria, membuatku menoleh. "Bolehkah aku bicara dengannya, Rami?"
"Yah, aku rasa kalian memang butuh bicara berdua." Kata Rami memengang pundakku. "Katakan semuanya, Misa." bisiknya di telingaku sebelum pergi. Tersenyum pada kami berdua.

***
"Rami telah mengatakan semuanya padaku,Misa." Buka Hari.
"Semuanya?" Tanyak. Kaget.
"Ya. Dia telah mengatakan bahwa kalian saling menyayangi seperti kakak dan adik. Kalian sahabat, bukan pasangan sejenis." 
"Apa lagi yang iya katakan?" tanyaku penuh selidik. Takut jika sebuah rahasia besar terbongkar.
"Hanya itu." katanya, membuatku akhirnya menghela nafas tenang. "Aku minta maaf. Kupikir kamu benar. Aku berpikir terlalu sempit."
"Sudahlah, maaf bukanlah kata yang tepat lagi." Kataku, beranjak pergi.
"Kenapa kamu tidak jujur, Mis ? " tanyanya membuat langkahku terhenti.
"Apa?"
"Kamu mencintaiku,kan?" Tanyanya lagi.
"Apa?" Kataku sambil tertawa kembali ke tempat dudukku semula.
"Rami sudah menceritakannya..." katanya membuatku menarik nafas putus asa."Kenapa kamu tak pernah jujur?" tanyanya membuatku bisu.
"Kamu tahu film Cinta pertama, bukan?" bukaku lagi setelah diam beberapa saat."Nama kami sama. Alya..."
"Gadisalya" gumamnya.
"Iya. Aku takut memiliki kisah seperti Alya. Dia hanya mampu memendam perasaannya pada Sunny. Dan Sunnypun tak pernah bertanya akan perasaan Alya. Sunny menikah dengan orang lain, saat Alnya masih juga mencintainya. Aku tak ingin memiliki kisah seperti itu. Namun pada kenyataannya kisahku berakhir dengan lebih buruk." Kataku, menatapnya. "Kamu seperti Sunny untukku. Kamu adalah cinta pertamaku. Aku seperti matahari yang membuatku bersemangat ke sekolah setiap hari. Kamu membuatku belajar mencintai. Kamu, dan kamulah yang ada dihariku. Sayangnya, Aku tak pernah memiliki keberanian menyatakan perasaanku, dan kamu pun telah memilih orang lain, Hari."
"Maafkan aku."
"Tidak, Hari. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tak pernah memiliki kesalahan padaku. Mencintai bukanlah kesalahan. Kamu mencintai Sari, dan itu bukanlah kesalahan padaku. Kita tak pernah terikat hubungan apapun."
"Sekarang kita bisa bersama, Mis." Katanya, membuatku tersenyum.
"Jika ini tiga tahun lalu, aku akan sangat senang. Tapi ini hari ini. Aku mencintaimu, tapi aku memilih mengikhlaskanmu, Hari."
"Mengapa?"
"Hari. Aku hanya tidak ingin hidup dalam masalaluku. Kamu memang tidak memiliki kesalahan padaku, namun aku menyimpan luka. Aku tak mau, luka itu menjadi penyulut api dalam sekam."
"Tapi Rami bilang, kamu belum punya pacar sampai sekarang."
"Sepertinya ada yang belum Rami sampaikan. Selama ini aku hanya belum mengikhlaskanmu, Hari. Tapi aku salah. Sama halnya seperti melupakan sama halnya seperti mengikhlaskan. Sangat sulit. Namun, aku pasti bisa. Aku harap kamu menghargai keputusanku. Aku mencintaimu, tapi aku memilih mengikhlaskanmu. Aku rasa selama ini aku mempertahankan hal yang sebenarnya tak pernah aku miliki. Dan dirikulah yang membentuk itu. Aku hanya perlu waktu untuk mengikhlaskanmu bersamanya." Kataku meninggalkannya sendirian.
"Walaupun aku mulai mencintaimu?" katanya samar kudengar. Aku memilih mengabaikan kata-kata itu. Aku tak ingin lagi kembali padanya, masalaluku. Setiap orang memang terikat pada masalalu. Satu hal penting adalah orang tersebut dapat memilih kembali dan diam terus pada masalalunya. Terjebak. Atau maju meninggalkan masa lalunya memwujudkan mimpi yang ingin diraihnya. Aku memilih yang kedua. Ikatan masalalu mungkin akan mempertemukan kami di masa depan. Namun, ikatan itu hanyalah ikatan yang membuatku terus belajar bukan tenggelam. :))









Jumat, 25 Januari 2013

Embun di Kala Senja

Tidak seperti biasa, matahari hari ini malu-malu bersembunyi di balik mega. Mendung menutipi sinarnya yang menyengat. Bersyukur juga aku hari ini tidak sepanas biasanya. Aku punya seribu rencana untuk bepergian.
Sudah lama aku tak bertemu seorang sahabatku. Setahun.

Terakhir aku melihatnya adalah ketika kamu reuni setahun lalu. Dan hari ini, adalah pertama kali kami bertemu setelah setahun. Kini aku berdiri di depan gedung sekolah kami bersiap bertemu dengannya.

"Duaar", seseorang mengangetkanku. Aku langsung memeluk orang itu begitu melihatnya. 
"Dani, " sapaku sambil memeluknya, melepaskan kerinduan. "Waah, tambah kurus saja kamu. Lihat aku, woow, bajuku tambah sempit semua."
"Alaah,, tidak juga. Kamu masih sama seperti dulu.."
"Iya, sama tembemnya" jawabku sedikit kesal.
"Sudahlah, Sa itu tidak telalu penting. Aku sangat merindukanmu".
"Aku juga." jawabku datar.
"Ahh, kamu nii kebiasaan. Dari SMA sampai sekarang gak pernah serius tanggepin kalau ada orang menyatakan perasaannya."
"Yee, aku serius lagi. aku juga rindu."
"Habis muka dan suaramu datar begitu."
"Ehmm.." jawabku seadanya, tidak mau membahas itu lebih lanjut.
"Mau kemana sekarang?"
"Pantai Pelilit"
"Yakin? Mau ke pantai pelilit ?" Tanyanya heran. Aku yang tahu keheranannya hanya tersenyum menyakinkan bahwa aku ingin pergi ke tempat itu.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke pantai yang dikenal sebagai tempat singgah orang yg lalau lalang di jalan menuju sebuah pelabuhan di dekat sana. Jauh dari espektasiku pantai itu tidak seindah bayanganku. Tidak sebersih dugaanku. Cukup banyak sampah berkeliaran. Dibenakku hanya terbesih, bahwa keadaan pantai ini sebuah tanda kurangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan. Mungkin menunggu alam marah, barulah kita peduli. 

"Heei, Sa. Kenapa kamu tumben mau ke sini ?"
Aku hanya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu dari Dani. Aku kembali menatap pantai yang biru. Di tengah terdapat sebuah karang yang menarik hatiku. Sebuah karang yang memecah tengah lautan dan bibir pantai. Membuatku membayangkan seseorang berdiri di sana bersama...
"Apa kamu gak sakit, Sa?"
"Sakit?" tanyaku balik pada Dani.
"Iya, apa tempat ini tidak membuatmu kembali terluka?"
"Ah, luka itu." Jawabku sambil tersenyum.
"Apa kamu sudah melupakannya?" Tanyanya lagi, memegang bahuku,
"Aku ingin melupakannya saat - saat itu, Dani. Tapi, aku tidak akan bisa melupakannya. Luka yang pernah dia berikan adalah sebuah semangat untuk aku bangkit dari keterpurukanku karenanya."
"Apa tempat ini..."
"Aku hanya ingin membuktikan kalau aku sudah tidak sakit lagi, Dan. Aku tidak habis pikir, bagaimana Ari memilih tempat seperti ini untuk menyatakan cintanya pada Saria waktu itu. Tempat ini bukan tempat yang tepat untuk menjadi tempat kenangan menurutku."
"Beneran, kamu tidak sakit" tanyanya lagi, meyakinkan.

Petanyaan itu membuatku tersenyum sendiri. Sakit. Entahlah. Aku tidak merasakan apapun lagi. Hatiku tidak senyeri dulu. Dulu, jika ada orang yang mengingatkanku pada Ari, seseorang yang pernah dekat denganku itu hatiku akan nyeri mengingatnya dan penghianatannya bersama Saria. Namun, dua bulan ini berbeda. Jika orang mengingatkanku padanya, aku hanya ingin tersenyum mengingat kebodohanku mencintainya begitu lama. Aku terlalu beku dalam mimpi bersamanya hingga aku tak melihat sebuah pintu indah menuju masa depan. Untunglah aku tidak terus terkurung dalam mimpi buruk itu. 

Aku tersenyum menatap lautan itu. Memandang betapa luasnya dunia. Di dunia seluas ini tentunya bukan hanya di huni aku dan dia. Ada banyak penghuni lain. Matahari beranjak menuju peraduannya. Menyusup diantara lautan luas itu. Membuatku membayangkan seseorang yang jauh di sana...

"Misa..Misa, kamu gak pernah berubah. Penuh misteri, yah aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu. Apapun keputusanmu, asal kamu mampu bertanggungjawab, aku akan mendukung. Satu-satunya orang yang berhak memutuskan hidupmu adalah kamu. Aku hanyalah pendukung, dan datanglah selalu padaku jika keputusanmu membuatmu sakit. Aku akan selalu ada untukmu"



Minggu, 20 Januari 2013

Sepotong Surat untuk Pangeran Hatiku (Dulu)

Aku menikmati senja dari ini di sebuah taman. Tenang. Damai. Langit tampak manis dengan segala hiasannya. Di cakrawala senja itu tergambar goresan-goresan merah dengan wajah matahari yang malu-malu, perlahan menuju tempat tidurnya. Semua indah, tapi semua mengingatkanku padamu. Kenangan kita di masa putih abu itu. Haaah. Aku hanya dapat menghela nafas lega. Apa yang dapat ku perbuat. Aku merindukanmu terkadang. Namun, semua telah berubah. Aku dan kamu bukan lagi kita. Aku adalah diriku dan kamu adalah bagian yang tidak bisa lagi mengisi hidupku. Sejak aku dan kamu memutuskan memilih jalan masing-masing semua telah berubah,bukan? Haaah. Aku menarik nafas panjangku untuk kedua kalinya dalam 5 menit terakhir.

Aku ingin menceritakan semua perasaan yang bertumpu di hatiku kali ini. Namun, dimana mereka teman-temanku. Tidak ada yang bisa mendengarkanku. Tiba-tiba terbesik dalam benakku. Yah, aku dapat menuliskan semuanya dalam sebuah kertas. Tekad ku bulatkan, aku ingin mempersiapkan sebuah surat cinta termanis untuknya, Nara. Pena yang ku pengang mulai menari-nari di atas kertas putih itu.


Dear Nara,

Dulu ketika kita masih sama-sama menggunakan seragam putih abu itu. Tidak akan terlupakan kenangan ini dari memoriku. Betapa tidak, karena berkat kejadian itu aku mampu berdiri setegak sekarang dan memiliki sebuah tujuan seperti sekarang ini. 

Dulu tepat ketika aku menerima pialaku, sebuah kabar datang dari seorang sahabatku. Handphoneku berkicau, menyampaikan sebuah pesan yang intinya seseorang yang mengisi hatiku bersama orang lain. Sakit. Tentu. Sedih. Pertanyaan bodoh! Merasa jatuh, percuma. Betapa tidak ?

Saat itu adalah saat-saat terburuk sepanjang kehidupanku (hingga sekarang). Menyakitkan memang hari-hari itu. Tapi terpuruk dalam luka toh tidak membuatku berharga di matanya, bukan ? Jatuh toh tidak akan membuat dia meninggalkan pacarnya dan membantuku bangkit. Aku bangkit dibantu teman-temanku kala itu. Betapa aku tak akan pernah lupa akan saat itu. Berhari-hari ku habiskan untuk menangis, dan yang disebut anak muda sekarang "menggalau". Dan satu-satunya orang yang dapat membuatku menangis ketika aku menerima kemenangan adalah dia. Dia adalah kamu, Nara.

Berhari-hari aku tidak percaya bahwa kamu telah memilih seseorang di sisimu. Bagaimana mungkin aku mudah menerima semua itu, sedang tepat dua hari sebelum kamu bersama Asih, kamu mengatakan kepada Lamda di depan mataku sendiri kamu tak ingin bersama siapapun untuk saat itu. Yaaah, mungkin  aku salah mengerti akan maksudmu. Kurasa maksudmu 'untuk saat itu' adalah ketika kamu mengatakannya.

Sudahkah aku lupa kan kejadian itu ? Tidak . Aku tidak akan pernah melupakannya dan kejadian itu. Tapi aku mengingatnya bukan dalam sebuah wujud yang sama dengan perasaanku dulu padamu. Dulu aku menyukaimu, teramat sangat. Hingga kemarin sebelum aku sampai kembali di Indonesia pun aku masih menyukaimu dan mengharapkanmu. Kemarin ketika aku ke negeri di seberang sana, aku masih berharap ketika aku kembali kamu mampu menghargai perasaanku selama ini. Namun, siapa sangka rencana Tuhan ? Tuhan memang maha baik, adil dan menyayangi semua umatnya. Tuhan sungguh tahu apa yang terbaik bagiku dan buruk. Tuhan memang selalu memilihkan yang terbaik bagiku. 

Beberapa jam sebelum keberangkatanku kembali ke Indonesia, seorang kakak kelas meramalku. Tak urung, ramalan tersebut membuat luka yang coba ku kubur bangkit kembali. Air mata yang kucoba bendung jatuh. Di saat yang bersamaan seseorang menyadarkanku. "Dia yang dulu pernah mengisi hatimu bukanlah orang yang tepat," perkataannya padaku membuatku sadar. Aku mulai berpikir kembali. Aku menjadi tak yakin jika aku bersamamu, aku tak akan sakit. Tak yakin mampu bergerak sebebas sekarang ini. Berteman dengan siapa saja, memilih siapa saja untuk temanku bekerjasama. Berlari ke sana kemari seenak diriku sendiri.

 Masalah sepatu saja, aku suka sepatu yang melindungiku namun masih membebaskanku bergerak kesana dan kemari. Apalagi seseorang yang berarti di hidupku, tentunya aku tak siap untuk di kekang. Aku tak siap ada sebuah tali pelana di leherku. Menjerat hingga aku terluka jika aku melawan. Sedang kamu, menjadi teman saja sudah terlalu posesif , begitu mengekang, apalagi lebih. Aku jadi tak yakin bisa sebebas merpati.

Benar, tidak membiarkanku bersama dengannya adalah keputusan terbaik yang tuhan buatkan untukku. Memberikanku luka ketika masa putih abu itu, adalah anugrah yang patut ku syukuri. Berkat hari itu, aku memilih hidupku menjadi diriku hari ini. Belajar. Mengajar. Bermain. Bersenang senang. Semua ku lakukan.

 Aku berdiri, dan mengikuti berbagai kegiatan yang membuat hidupku sebagai remaja menyenangkan. Bergabung dengan teman-teman sebaya mengajar, sungguh itu pengalaman yang tak ternilai harganya. Melancong ke berberapa tempat dengan bekerja keras. Hingga aku memiliki kenangan ini  
Sepanjang tahun 2012 :)

Kenangan ini membuatku bertemu dengan seseorang. Dia pria yang baik, cerdas, dan tampan lebih dari kamu. Dia juga membuatku semakin menyadari tujuanku. Tepat ketika aku kembali, ketika ulangtahunku yang ke 19. 

Dulu, aku menjadikanmu tujuan ku. Aku melakukan hal-hal untuk dirimu agar kamu melihatku. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku sadar tidak seharusnya itu ku lakukan. Ia menyadarkanku hal yang ku lakukan seharusnya untuk diriku sendiri. Berbanding terbalik dengan dulu, aku melakukan sesuatu bukan untuknya, namun untukku. 

Aku berusaha untuk diriku sendiri agar mampu sejajar dengan dirinya yang hebat. Walaupun kami terpisah jarak puluhan bahkan jutaan kilometer untuk saat ini, namun kepercayaan membuat kami tetap dekat, bukan ? :) Aaah, dulu kamu adalah prioritasku. Sekarang ? Aku adalah prioritas diriku, kebahagiaanku. Keluargaku adalah kebahagiaanku. Kesuksesanku adalah kebagiaanku. temanku adalah kebahagiaanku. dia adalah kebahagiaanku. dan kamu ? hanyalah bagian dari masalalu yang tidak membahagiakan namun memiliki kontribusi dalam kesuksesan. Jadi bisa kau hitung sendiri, urutan keberapa kamu dalam prioritasku !
 :)

Kamu memang menempati sebuah tempat di hatiku. Sebuah tempat terindah bernama kenangan. Sebuah tempat luas bernama masa lalu. Namun, mulai hari ini dan hingga aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, dia adalah satu-satunya pria yang memiliki tempat dihatiku. Tempat termegah bernama impian. Tempat terluas bernama masa depan.

Aira 
Desember 2012