Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

Letter to ...?

I Want Tell You 


Kotak Masuk
x
Aurora Gadisaira
Lampiran28 Jul 
ke saya
Hey Nara,
Long no see you :)
Sometime I miss you. Oh, bukan. Aku bukan rindu padamu, tapi rindu pada kenangan kita. Rindu pada saat-saat kita masih bersama. Rindu tentang apa yang telah kita lalui namun bukan rindu padamu. 

Uhmm, I'm sorry. Maaf untuk semuanya. Semua tingkah kekanakanku. Pergi tanpa sepatah katapun. Ternyata sekian lama bersama tetap saya ya, kamu adalah laki-laki yang akan meninggalkan saya ketika saya mengatakan, "ya sudah pergi saja duluan". Masih saja laki-laki seperti terakhir kali saya temui. Saya pikir kamu akan mencoba menghubungi saya duluan setelah saya meninggalkanmu. Ternyata setelah sekiaan lama berlalu kamu tetap saja diam di tempatmu. Diam tak bergeming mendekat pada saya. *sambil senyum saya nulis ini* Padahal saya menunggumu menghubungi saya. Dan sampai sekarangpun kamu tidak menghubungi saya. Oke, inipun bagus. 

Mengenai kenapa saya meninggalkan kamu tanpa sepatah katapun. Kamu ingat kejadian sebelum terakhir kita bertemu? Ya, kejadian dimana kamu memutuskan sesuatu untuk kita berdua. Saya kecewa. Tapi bukan atas keputusan itu. Kamu ingat setelah keputusan yang kamu buat saya masih ingin berdamai dan ingin mengajakmu bicara? Kamu ingat apa reaksimu? 
Jika tidak mari saya ingatkan. 

Hari itu jelang akhir bulan sebelum musih hujan berakhir. Saya tak ingin ingatkan keputusan apa yang kamu buat waktu itu. Tapi saya ingat betul saya sudah bilang saya memaafkan kamu atas segala keputusan berat yang kamu ambil hari itu. Itu baik untuk kita berdua. Kemudian aku mengajakmu tetap pergi keesokan harinya. Aku pikir sebelum kamu pergi kamu akan pergi bersamaku seperti sebelum-sebelumnya.Sayangnya, itu hanya pikiranku. Aku kecewa terlebih alasanmu menolak pergi. Apa alasanmu waktu itu aku harap kamu ingat sendiri. (Jika kamu tak ingat, itu lebih bagus. Itu tanda bagi saya bahwa segala sesuatu yang pernah kita jalani bersama memang bukanlah apa-apa.) 

Saya kecewa dan terus menghindari pertemuan denganmu. Kamu ingat? Iya, saya sengaja hingga akhirnya saya mendapat kabar gembira ini. Yeah, I'm here. Saya sudah lebih baik dari hari itu. Saya tahu saya turut andil dalam perpisahan kita. Saya tahu sayapun bersalah. 

Di masa lalu, semasa kita hanya teman biasa, ada banyak yang sudah saya lakukan yang mungkin tanpa sengaja menyakitimu. Mengingat itu, saya pikir wajar kalau kamu tidak menghubungi saya ketika saya tidak menghubungimu. Wajar ketika kamu tidak memperjuangkan saya lagi seperti dulu. Kalau dulu ketika saya meninggalkanmu tanpa mengakhiri dengan jelas semuanya, sekarang saya menghubungimu untuk memberitahu hal penting. 

Perjalanan saya di sini sangat menyenangkan. Bertemu banyak cerita, berkenalan dengan banyak teman dan merasakan banyak pengalaman. Dari perjalanan itu saya sadar bahwa apa yang dulu ada diantara kita sekarang telah tiada. Itu hanya bagian dari hidup saya karena kamu tidak berjuang hingga sayapun enggan berjuang. Sekarang, dari keenganan kita berjuang maka kita tidak ada sekarang yang ada hanya aku dan kamu dengan cerita kita masing-masing. Tidak ada cerita kita. Maka, asumsinya adalah jika aku dan kamu tanpa cerita kita tidak berjuang maka semua akan tetap berujung pada ketiadaan cerita untuk mendatang. Maka jika memang cerita itu sudah menuju pada aku dan kamu bukan kita, itulah jalan masing-masing diantara kita. Aku ikhlas jika itu memang hanya bagian dari cerita hidupku. 

Entah sejak kapan aku suka berkata "tidak apa-apa". Namun aku senang mengatakan ini. Tidak apa-apa kalau kamu tidak berjuang untuk saya. Tidak apa-apa kalau kamu berjuang untuk orang lain. Tidak apa-apa kalau kita berjalan di hidup kita masing-masing. Tidak apa-apa. Atau kalaupun kita bersama kemudian berpisah lagi (setidaknya dipisahkan kematian) itupun tidak apa-apa. 

Dulu saya pernah memintamu berjuang. Sekarang saya tidak akan memaksamu lagi. Jika memang semua hanya kenangan yang kini tidak ada sayapun senang. Tidak apa-apa kalau kamu bersama orang lain. Saya mengikhlaskan itu. Dengan begitu saya dapat lebih bahagia, juga saya lebih dapat menerima orang-orang yang hadir dalam hidup saya. Saya menerima ini sebagai bagian dari perjalanan saya. Nama saya Aira kan. Iya, saya hanya perlu mengalir dalam kehidupan ini. 

Kamu berhak memutuskan apapun dihidupmu. Segala keputusan itu hanya akan membawa kita pada keputusan-keputusan lainnya. Apapun keputusanmu saya akan menghormatinya karena saya suka ketika saya memutuskan sesuatu untuk hidup saya, orang lain menghormati keputusan saya. 
Sudah itu saja. Terimakasih atas semuanya yang pernah berlalu. Apapun yang telah membuat saya kecewa, saya telah memaafkan hingga kelak ketika kita bertemu lagi tidak akan ada dendam ataupun sakit hati. 
Saya bahagia. 
Semoga kamupun bahagia. Terimakasih. 



Salam from Sydney,
Aira

[e] misa.aira@gmail.com
[e] raraira@yahoo.com

---------------------------------------------
~ Everything is Nothing ~

Rabu, 01 April 2015

Perjamuan Diantara Keheningan


Aku melihat jelas wajahmu dari kejauhan sama memanggil nama Silla. Mengejar. Melintasi mobil yang berlalu lalang. Melewati langkah-langkah puluhan orang. Berpacu bersama waktu mencengah si cantik Silla pergi meninggalkanmu. Jelas sekali kudengar suaramu saat berkata dengan wajahmu yang syahdu itu, "Tolong tetap tinggal."

Dan dia tetap meninggalkanmu kan? Hingga kita bertemu dalam perjamuan di siang hari itu. Aku tak pernah menyangka, kamu yang tak aku lihat adalah apa-apa. Kamu yang aku pikir saat itu hanyalah lelaki lemah tanpa suara. Mudah menyerah. Dan hanya mampu berkata,"tolong tetap tinggal." Lelaki yang sangat tidak menarik bagiku ketika itu.

Ah, aku tak pernah menyangka, aku mengingat jelas banyanganmu ketika kita bertemu hari itu. Kita yang tidak saling mengenal tapi kini begitu akrab. Keakraban yang kadang membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Beterbangan hingga jantung. Menggelitik hati. Mewarnai hari. Membuatku merindu sebelum tidur lelapku.

Apa ini cinta? Bagaimana kalau kita anggap iya. Aku tahu rasa di hatiku dapat kusebut cinta. Cinta masa muda diantara pertumbuhan menuju kedewasaan ini. Aku yakin pada rasa yang kumiliki. Hanya saja, aku tak yakin padamu. Wajar bukan?

Aku mengingat jelas bagaimana putus asanya dirimu dihari itu. Masih jelas diingatanku bahwa mukamu bersemu syahdu ketika namanya di bahas. Silla. Iya, aku tahu betapa cantiknya dia. Aku tahu betapa pintarnya dia. Wanita yang sempurna dimatamu. Terkadang aku ingin mengatakan, "Tapi dia telah memilih kehidupannya, Ra."

Sayangnya, tak satupun kata bahkan huruf itu keluar dari mulutku. Sayangnya itu terus tertahan di hatiku. Mengendap. Menguap bersama rasa cinta yang terus aku sampaikan dalam doaku. Dalam kehingan aku selalu berusaha berkata pada hatimu, "di sini aku merindukanmu dengan cinta tanpa serpihan di hatiku." Berharap hatimupun lapang. Melepas masa lalu. Menyediakan sedikit tempat untuk aku. Sampai suatu titik aku tersadar, pertemuan-pertemuan kita terlalu erat. Terlalu rapat. Tanpa jeda. Mengutip kata Dee, kita baru bisa saling menyayangi jika ada ruang. Mungkin kamu butuh ruang. Aku dan kamu butuh jeda hingga akhirnya bisa menyepakatkan hati. Apakah begitu?
Ah, aku tak tahu pasti Nara.

Kamu adalah wajah yang sulit aku tebak. Kamu yang manis namun terkadang membuatku bingung. Baiklah, jika memang kita butuh jeda, maka kepergianku adalah cara terbaik membuatmu bahagia kan? Jika nanti suatu hari kita bertemu, kemuadian aku dan kamu saling jatuh cinta kembali untuk kedua kalinya, maka itu adalah cara terindah hidup mempertumukan kita. Indah bukan?

Sayangnya, mungkin saja kamu tidak pernah mencintaiku seperti yang aku banyangkan selama ini. Toh, kini saat aku melangkah mantap di depanmu menuju pintu penerbangan, kamu tidak memanggil namaku. Suaramu tak pernah kudengar. Yah, kini aku tahu jika rasa yang aku miliki hanyalah rasa milikku bukan milikmu. Hatimu masih belum melupakannya ya?
Ya, aku paham.
Karena jika kamu memiliki rasa yang sama yang kita sebut itu cinta, maka akan ada sebuah perjuangan bukan. Kamu tahu, kenapa perjuangan itu ada?
Satu jawabannya adalah "CINTA", ketiadaannya akan meniadakan perjuangan. Jadi, jelas bukan?
Rasa di hatimu kamu sebut itu apa?

Jika kamu pernah memperjuangkannya bersama rasa benama cinta, lalu kenapa kamu tidak memperjuangkanku juga? Terimakasih atas jawaban yang tak pernah kamu ungkap. Tak pernah kamu katakan. Tapi aku tahu pasti dari setiap ketiadaan perjuanganmu. 

Adalah sebuah pesan terakhir yang berani aku kirimkan melalui ponselku. Menghantarkan penerbanganku menuju kehidupan baru. Ketika pesawat lepas landas, aku suka sekali melihat wajahku di cermin. Aku tahu, kalau akan ada saat kita bertemu dan berpisah. Jika kita kembali bertemu dalam sebuah kisah berbeda namun tetap membuatku jatuh cinta, maka kamu adalah kehidupan terbaik yang pernah aku miliki. Dan selamat tumbuh menikmati hidupmu dengan segala senyuman tanpa aku, cinta yang tulus. Yang selalu merindukanmu. Memperjuangkanmu dalam setiap doa di kehenigan malam. Dalam pertemuan bersama hati yang suci. Di sini perjamuan diantara keheningan bersama hati, cinta, dan nafas.


-Naya Kanata-
April 2015





Minggu, 13 Juli 2014

I Can't Speak

Pelukan mana yang menyembuhkan?

Satu hal yang paling aku syukuri hari ini adalah aku terbangun dalam pelukan paling menyembuhkan. Setelah berliter-liter air mata semalam, setidaknya hari ini lebih baik.

Dear, seandainya kubisa bersamamu kemarin aku tak tahu aku akan sedekat ini dengan ibuku hari ini. Sungguh kemarin aku merindukanmu dan kamu mungkin sedang asyik bersama orang lain bersenang-senang. Aku tak tahu. Aku telah pergi ke vihara yang mempertemukanku sebuah pembelajaran. Aku mencintaimu. Itu yang aku tahu. Aku tak tahu sampai kapan rahasiaku ini akan bertahan. Aku mencintaimu. Dear.