Tampilkan postingan dengan label MASA LALU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MASA LALU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

Human oh Human, We're difference and UNIC...




"Aku sih pinginnya blablabla... tapi aku gak bisa... "
"Aku punya pacar, aku sih pinginnya dia bla bla bla bla tapi dia gak bisa bla bla bla"

Itu kalimat yang sering aku denger beberapa hari belakangan ini. Tentang keinginan, tapi tidak mampu terpenuhi. Namun orang masih menginginkan dan menuntut. Beberapa waktu yang lalupun ada teman yang mengeluh karena telah punya pasangan dan ingin tidak punya pasangan. Di lain waktu seorang teman lainnya mengeluh karena belum punya pasangan. Yang sudah punya pasangan menuntut pasangannya menjadi apa yang diinginkan. 

Well, aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati "human oh human". Yang sudang punya begini ingin begitu. Yang sudah punya begitu ingin begini. Oh, maumu apa toh? 

Pertanyaan itu juga menyadarkanku, mauku apa toh?
hehehe, Setahun lalu, 2014 adalah tahun yang berat bagiku. Ketika keluargaku tidak lagi menjadi keluarga seperti dulu. Ketika orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Ketika merasa semua kerja kerasku terasa sia-sia. Ketika aku merasa rekan kerjaku tidak menghargaiku. Ketika aku merasa teman-temanku tidak menganggapku teman. Ketika aku merasa atasanku tidak menghargai apa yang telah aku lakukan. Dan ketika itu pula aku merasa depresi. Ketika hari itu keinginan bunuh diri sekali dua kali terbesik dipikiran. Kapankah itu? 
Adakah yang memperhatikan bahwa "KETIKA AKU MERASA" .... 

Kata merasa jelas mengisyaratkan itu semua hanya ada dipikiranku. Ya, ketika aku merasa maka aku mulai menuntut bukan sekadar mengharapkan. Dengan tuntutan itulah maka pikiran akan terbelenggu. Ya, begitu juga cara terbaik untuk tidak membebaskan jiwa. 

Syukurnya sekarang udah tobat. Eh, maksudnya syukurnya beberapa kejadian dalam hidupku itu membuatku tersadar bahwa menuntut orang lain tidak akan menghasilkan sesuatu. Maka aku mulai menerapkan "sudahlah". Dengan begitu aku belajar mengalir dan dengan mengalir semua tampak lebih indah. 

Sekarang, .... BERSAMBUNG, But I love my life... 

Jumat, 06 Februari 2015

If, If, If


"Jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin sekali .... "

Sebuah kalimat yang cukup sering aku dengarkan. Mengisyaratkan sebuah penyesalan. Yah, aku katakan sebuah penyesalan. Bagaimana tidak, jika kita ingin mengulang waktu pasti ada yang ingin kita perbaiki bukan? Sesuatu yang perlu diperbaiki tentu sesuatu yang salah. Iya atau ya?

Kalau aku, jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin sekali SEMUA BERJALAN SEPERTI INI. APA ADANYA. Yah, tak ada hal yang ingin aku ulang. Sudahlah sudah berlalu.

Kadang kita berpikir ini yang mungkin akan lebih baik. Begitu mungkin jauh lebih baik. Tapi percayalah bahwa BEGINILAH yang TERBAIK. Aku tahu bahwa sebagian hidupku mungkin pincang. Tapi, sudahlah. Berdamai dengan segala kepincangan yang ada adalah jalan terindah yang bisa aku pilih.

Kadang pemikiran mengulang waktu terbesik dipikiran, tidak bisa dipungkiri. Namun, sekalipun itu terbesik tapi bukankan mengulang waktu adalah hal yang mustahil. Jadi jika terus saja membahas itu, semua kehidupan akan stagna di situ.

Jadi, jika ada kesempatan mengulang waktu, satu-satunya keinginanku adalah aku tetap menjalani semuanya seperti. Entah itu keluarga, kuliah maupun asmara. Aku suka dan aku mencintai semua terjadi seperti ini.

Aku menyadari di tengah guncangan keluarga ini, terkadang menyakitkan menjalani semua sendiri. Tapi aku tahu bahwa beginilah aku didewasakan. Dengan cara inilah aku mulai mengerti bahwa sesekali orang dewasa akan bertengkar seperti anak-anak. Tapi cara mereka menyelesaikan tidak sama seperti anak-anak. Lama mereka menyelesaikan pertengkaran sungguh berbeda dengan anak-anak. Yah, semua perlu berproses untuk menjadi dewasa.

Begitulah aku mulai mengerti dan belajar mencintai hidupku. Menerima segala luka yang pernah hadir. Dari segala arah luka yang pernah ada, aku senang ia pernah datang mengajarkanku cara mengobati. Dari jatuh yang pernah aku alami, aku senang aku telah belajar untuk bangkit. Dari kehilangan yang pernah aku jalani, aku senang aku belajar menemukan.

Kepada hidup dan segalanya yang pernah hadir, aku berterimakasih.
Kepada cinta yang mencintaiku kelak, aku senang kita sedang didewasakan kehidupan untuk saling percaya. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.

Senin, 02 Februari 2015

Hati-hati dengan HATI

Hii, Welcome February, (telat tehari sih, but gak papa lah ya)

Selamat datang bulan penuh cinta..
Orang berkata bulan ini penuh cinta bukan?
Mari kita chek, apakah hati anda sudah penuh cinta ?
Masihkah ada luka di hatimu yang indah itu?
Jika ia mari diobati dengan cinta.

Siang ini saya berbagi cerita dengan seorang teman. Ia bercerita tentang temannya. Tentang seorang teman yang akhirnya masih sendiri karena hatinya pernah terluka. Sebuah luka yang mungkin menyisakan bekas menyakitkan. Membuat saya teringat kisah Ceria.

Bagi beberapa orang mungkin mengobati hati bukanlah perkara mudah (sy contohnya). Mengobati hati perlu ketegasan. Megobati hati perlu keberanian. Mengobati hati perlu kesabaran. Mengobati hati perlu keikhlas. Banyak hal yang diperlukan untuk mengobati hati. Satu hal yang penting adalah TEKAD. Tekad untuk terus berjuang mengobati.

Nah, beberapa orang yang sulit itu terkadang terus menyimpan lukanya hingga akhirnya mengurung mereka dalam belenggu masa lalu .

Jadi berhati-hatilah ketika berusan dengan hati.
Hati itu kuat. Tapi dia kuat yang kadang rapuh. Hati itu tidak pernah salah, tapi kadang ia tidak didengarkan hingga akhirnya suaranya benar-benar tidak terdengar maka ia sudah tidak terlatih lagi.

Jadi mengutip kata seorang dosen, "mari melatih hati"

SELAMAT MENGIKUT KATA HATI,
SELAMAT MENCINTAI DALAM BULAN PENUH CINTA ini






Minggu, 11 Januari 2015

Tanpa Judul Seperti Tak Berwajah


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
Dengan kata 
yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu....

Aku ingin mencintai dengan sederhana, 
Dengan isyarat 
yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

~Sapardi Djoko Damono~ 

Ada yang penah dengan puisi itu. 
Ya, sebuah puisi karya pujangga dari era pujangga baru, Sapardi Djoko Damono. Puisi yang jika didengar dan diresapi maka memberi banyak arti. Tentang cinta. Cinta yang universal.

Banyak orang (termasuk saya) cukup sering mengeluhkan bahwa cinta rumit. Oh, sebenarnya cinta tidaklah rumit. Seperti kata Sapardi, CINTA SEDERHANA. Sangat sederhana seperti halnya kebahagiaan. Seperti Hidup menurut Confosius.



"Life is really simple, but we insist on making it complicated"


-Confucius-

Benar. Begitulah seringnya. Entah itu hidup. Entah itu bahagia. Entah itu masa depan. Entah itu "Cinta". Sebenarnya semua begitu sederhana tapi seringnya kita sendiri membuat semuanya begitu rumit.

Hidup misalnya. Kalau hidup ya hidup saja. Bernafas. Makan. Minum. Lakukan saja yang memang ingin dilakukan. Begitu juga dengan cinta.

Cinta sejatinya adalah memberi. Tapi seringnya cinta itu kita campurkan dengan keinginan dan pemikiran hingga ia melahirkan sebuah belenggu dalam jiwa. Ia disanalah letak kelembutannya. Jika cinta itu memberi, mengalir seperti air ya sudah. Begitulah adanya. SEDERHANA. Sesederhana kebebasan.

Kebabasan memilih. Sama halnya kita yang berhak mencintai, apa yang kita cintai juga berhak tak mencintai kita. Jika kita berfokus pada cinta adalah "take and give" maka kita akan memaksa untuk mendapatkan sesuatu. Tapi, cobalah lepaskan.Berikan. Jika memang mencintai, ya berikan saja cinta itu. Jika ia memberi juga cinta yang sama dengan kita maka itu bagus. Tapi jika dia tidak memberi cinta yang sama, ya sudah. Tidak apa-apa. Bukankah memberi itu sebuah kelegaan? Bukankah ada nasihat kuno mengatakan "memberi tidak akan membuatmu kehilangan lebih banyak, justru membuat mendapatkan lebih banya." Percayalah memberi dengan ikhlas membuat kita lega. Bahagia. Begitu juga memberi cinta. Ceria sudah buktikan itu dengan baik.

Ya, dengan memberi cinta itu aku telah mendapatkan namaku kembali Ceria. Aku telah kembali seperti Ceria. Sederhananya, aku mulai memberikan cintaku pada semua orang. Cinta yang berbeda jenis tentunya. Simpelnya, cinta hanya perlu mengikuti kata hati. Jika hati mengatakan 'ya berikan' ya berikan saja. Pada siapapun yang hati katakan berhak mendapatkan. Tapi penting diingat bahwa cinta itu butuh ketegasan. Ya adalah ya. Tidak adalah tidak. Ragu hanyalah membuat kebimbangan atau yang disebut anak zaman sekarang Galau.

Ya, itulah yang aku alami beberapa waktu lalu. Ketika dia 'cintaku' kembali beberapa hari yang lalu, aku yang mulai stabil merasa terjatuh lagi. Aku bimbang untuk melanjutkan hidupku. Padahal sebelumnya aku bertekat untuk menerpa diri dulu menjadi pribadi lebih baik. Tapi ketika ia kembali rasanya semua benteng yang sedang mulai ku bangun runtuh. Hatiku hancur lagi.

Satu hal yang aku syukuri selain teman-teman yang mendukungku adalah di hari ulang tahunku aku tahu ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Dan aku tahu bahwa hatiku benar. TIDAK ADA MASA DEPAN UNTUK KAMI. Sudahlah, seperti katanya. Aku tahu bahwa seseorang yang lebih baik sedang disiapkan untukku. Yang walau aku tak tahu apa dia sedang di dekatku atau sedang jauh denganku sekarang. Aku tak tahu. Yang aku tahu, hati kami masih belum sepakat untuk bersama. Begitulah aku menyadari bahwa ini adalah kesempatan diriku untuk tumbuh menjadi sebuah pribadi hingga aku "bertemu" dengannya. Kami hanya sedang berproses untuk sama-sama dewasa hingga hati kami sepakat untuk bersama. Selama itu, ya cintai saja dulu semuanya. Siapapun. Apapun. SEMUANYA.

Seperti aku mencintai langit biru. Sinar matahari. Udara yang bisa ku hirup. Kaki yang membawaku melangkah. Tangan yang dengan cantik bergerak. Semua. Semua tubuh. Semua teman. Semua alam. Semua keluarga. Cintai saja. Cintai dengan mendengarkan kata hati.

Aku tak menaruh harapan dalam setiap cinta yang kuberikan. Seperti kataku, cinta itu memberi. Hanya satu harapanku, semoga seseorang (cinta sejatiku) juga mendengarkan kata hatinya. Karena kata hati hanya kita yang tahu, mari dengarkan kata hati kita masing-masing. Percayalah, hati ini akan menuntun kita untuk melangkah. Dan hati inilah yang akan menuntun kita untuk bersepakat. BERSAMA.

Semoga kita segera bertemu dalam keadaan penuh cinta. Dewasa. Dan dapat bertumbuh bersama.

So, FOLLOW YOUR HEART PLEASE. :)

I LOVE YOU, ALL.

-Teruntuk semua orang, selamat mengikuti kata hati. SEMOGA BERBAHAGIA-
Karena cinta dan kebahagiaan, BEGITU SEDERHANA.

Sabtu, 03 Januari 2015

SIAPA "AKU" (?)

Hey, HAPPY NEW YEAR...

Yeah, ternyata tanpamu langit masih biru. Lagu ini sedang mengalun lantang di sebelah telingaku. Benar, ternyata tanpamu langit masih biru. Benar, masih indah seperti langit-langit yang aku suka. Langit punya fungsi yang sama seperti warna-warna biru lainya. Penyembuh. Ah, sudahlah. Ya, sudahlah seperti "katanya" waktu itu.

Ada banyak kata yang ingin aku tulis. Ada banyak huruf yang aku ingin ketik. Tapi otakku tak mau memprosesnya. Tanganku ingin sekali menari diatas keyboard hanya saja diantara keramaian ini otakku tak memproses satupun kata itu.

Tahun baru. Semua suka. Aku juga (?).
Apa harapanmu di tahun ini.
Harapanku ?

Aku? Aku ingin mencari, tapi aku sendiri tak tahu apa yang ingin ku cari. Pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi sendiri tak tahu apa yang kamu inginkan?
Pernahkah?
Itu terasa begitu membingungkan. Sangat membingungkan. Aku ingin, tapi aku sendiri tak tahu apa yang aku inginkan. Atau sebenarnya ada banyak yang aku inginkan?

Ehm, entahlah. Aku sekarang tak memiliki keinginan apapun, kecuali satu LULUS.

LULUS? Yeah, lulus dari ujian hidup ini. Wkwkwkwk.
Benar. Konon katanya, ibarat sebuah cuaca, sekarang, oh bukan sekarang tapi tahun lalu adalah masa badai. Baiklah, aku hanya butuh sedikit bertahan untuk melihat pelangi. Oke,oke.

Sebenarnya kalau aku ingin, aku ingin sekali memaksa mengubah semua keadaan ini. Tapi siapa aku?
Baiklah, bukankah cara terbaik adalah menerima semuanya. Ya, terima saja.

Setahun yang lalu aku pernah menolak semua terjadi, tapi semua terasa begitu menyakitkan bukan? Baiklah, terima saja semuanya. Begitu dia hadir, ya hadir saya. Suatu hari dia akan terlepas. Suatu hari ia akan pergi dan akan datang sesuatu yang baru.
Ya, ya sudahlah.

Pada tahun ini, siapa sih aku yang ingin menolak semuanya?
Siapa aku yang ingin memaksa keadaan. Sudahlah. Sudahlah seperti pesan seseorang. Semua pasti berlalu. Dan rasa ini pasti berlalu. Seperti langit. Pagi, siang, sore dan malam. SEMUA BERLALU. YA BERLALU.





Minggu, 21 Desember 2014

Happy Mother Day


Happy Mother Day :)
Ups, belum ya hari ini. Tapi besok. Tapi ya sudahlah. Boleh dong ya, kita ucapkan kapan saja kepada ibu kita?
Sudahkah kamu mengatakan pada ibumu, "I LOVE YOU" ?

Dalam sebuah vidio yang saya tonton, dikatakan "kalimat itu sebuah kalimat yang mudah untuk diucapkan, tapi sudahkah kita mengatakannya pada ibu kita"?

Ehmm, seandainya kami berdekatan mungkin aku akan tetap lupa mengatakan kalimat itu. Karena yang seringnya aku ingat adalah bahwa aku mencintai seseorang dan aku merasa sakit atas rasa ini. Aku mungkin akan tetap terlalu sibuk dan tidak mengatakannya. Aku tetap terlalu asyik menceritakan lukaku ini dan begitulah aku melupakan ia yang mencintaiku. Dan, aku lupa mengatakan "I LOVE YO, MEME"


#Meme=panggilan ibu di Bali.

Kamis, 04 Desember 2014

(Mencari Aku dalam AKU)

Di malam-malam gelap tanpa bintang itu. Ketika suara hujan bercampur tangisku menjadi sahabat menemani tidur. Kala tidak ada yang mau mendengar teriakan-teriakan dari dalam diriku. Aku sibuk mencari bantuan. Aku sibuk mencari obat untuk luka hatiku. Dan tak ada yang mampu memberikan itu semua.
Aku terus mencari, hingga aku meninggalkan apa yang selalu bersamaku. Aku mencari seseorang untuk mendengar namun mereka tidak menerima. Hingga tinggallah aku bersama topeng-topeng tebal ini.
Aku terbelenggu topeng-topeng ini.
Dalam teriakan lukaku, aku tertawa.
Dalam baluran perih hatiku, aku tersenyu.
Terbesik dalam benakku, aku ingin katakan bolehkah aku menjadi aku sebagai manusia tanpa topeng ini.
Hatiku perih. Ini bukan hanya menjadi cerita pada malam-malam tanpa bintang.
Jiwaku sepi, kala semua orang sibuk berbincang dan aku harus tertawa bersama mereka.

Dan kamu tak pernah peduli pada aku dan lukaku.
Dan kamu meninggalkanku tanpa kata.
Dengan sejuta makna. Dengan ribuan tanya.

Sakit ini menjadi saksi betapa tengarnya aku melawati jalan penuh liku tanpamu.
Saat kamu tak melihatku.
Saat kamu tak pernah menginginkanku.
Saat kamu tak menginginkanku di sisimu.
Dan hingga kamu meninggalkanku.

Hari ini, 100 hari setelah kepergianmu.
Hingga kita terpisah lautan ratusan kilometer.
Tanpa aku tahu bagaimana kamu disana.
Kamu dan aku memiliki kesempatan yang sama bertemu entah siapa untuk sama-sama dewasa.
Belajar menjadi dewasa tepatnya,
Entah sampai kapan kita terpisah.
Entah kapan waktu akan mempertemukan kita.
Tapi hari ini aku berdiri.
Tanpamu disisiku.
Dan tak lagi meresahkanmu bersama siapa disana.
Aku tak tahu.
Aku tak yakin,
Kadang luka ini masih terasa perihnya.
Tapi aku, aku, aku hanya berdiri besama diriku.
Menunggu seseorang yang tepat menghampiriku.

#Sudah begitu saja caraku merindukanmu. :)

Sabtu, 29 November 2014

THE END OF NOVEMBER

This's November end?
Ya di tahun ini.
Akhir november yang dipenuhi hujan. Padahal sama aja sih ya maubsetahun yang lalu. Dua tahun yang lalu atau di tahun-tahun sebelumnya ya november ya hujan.
 Kata seseorang kalau kita butuh hujan kalau mau lihat 🌈 pelangi. Tapi yakin deh besok gak akan ada pelangi. Sama aja kayak kondisi keluargaku atau mungkin keluarga setiap orang yang bermasalah. Maaf ya. Mungkin kita gak akan bisa melihat pelangi di keluarga kita. Tapi satu hal yang aku percaya setidaknya besok hujan pasti reda.

Hei, sudah beberapa hari aku rindu. Rindu kehidupan normalku. Rindu pada 'aku' yang dulu, suka hujan.

Hujan itu baik.
Tapi tidak sekarang dengan keluargaku yang seperti ini.
Hujan itu bagus.
Tapi tidak sekrang dengan segala rindu pada cintaku yang jauh entah dimana.
Hujan itu menyenangkan.
Tapi tidak dibulan november dab desember.
Tidak di bulan april dan maret.
Bulan bulan penuh kenangan bersama seseorang.
Hujan itu indah.
Tapi tidak sekarang, saat aku hanya memiliki diriku sendiri untuk berdiri.karena hujan membuatku risau dan aku tahu bahwa aku hanya sendiri.
Hujan. Hujan. Hujan dan lagu hujan di bulan november saat aku dan kamu terpisah dalam ruang dan waktu.


-Aku yang mencintaimu sebelum kita dipertemukan-

Selasa, 25 November 2014

SELAMAT HARI GURU


Teruntuk Guru-guru kehidupan,

Hari ini Indonesia merayakan hari guru. Yang aku tahu banyak murid hari ini merayakan hari guru teruntuk guru-guru di sekolah. Upacara bendera, lepas merpati, menyanyi adalah serangkaian perayaan yang pernah aku ingat untuk memperingati hari  guru. Tapi aku, hari ini aku tidak melakukan apapun.

Dari hatiku, aku hanya berterimakasih kepada seluruh guru yang pernah hadir dalam hidupku.
Bukan hanya guru sekolah, tapi semua guru yang pernah hadir. Dengan kata lain, semua orang dan semua kejadian serta situasi yang pernah mampir ataupun tinggal dalam hidupku.

Mengenai orang, ada beberapa orang yang hadir tapi tidak tinggal
Ada orang yang hadir sekadar lewat.
Atau ada orang hadir untuk tinggal.
Semuanya tentu ada dalam kehidupan ini.

Kepada orang yang pernah hadir tapi tidak tingggal,
aku berterimakasih karena mengajariku tentang arti kehilangan sehingga aku dapat belajar mengenai berlapang dada.
Kepada orang yang sekadar lewat seperti cinta yang kulepaskan,
aku berterimakasih pernah datang, menolak dan mengajariku arti menerima.
Kepada orang yang pernah membuat aku MERASA terluka,
terimakasih telah datang karena aku mengerti cara berlajar mengobati.
Kepada orang yang menerimaku,
aku berterimakasih telah menjadi panutan.
Kepada orang yang mencintaiku (cuma keluargaku sekarang)
aku berterimakasih karena membuatku merasa di terima.
Kepada seluruh orang yang pernah hadir,
aku menerima dan mencintai setiap episode yang pernah kalian hadirkan.
Mungkin aku pernah menolak episode yang pernah tampil diantara kita,
namun ketika aku telah sembuh dan mengingat kembali setiap episode yang pernah hadir diantara kita,
aku tersenyum karena sesakit apapun terjatuh itu, aku tahu aku mampu melewati dan mengobati lukaku asalkan aku bertahan.

Kepada seseorang yang (akan) rela tinggal,
terimakasih telah mengajariku arti bersabar.
Sabar itu....
Ah, kau isi saja sendiri titik, titik itu.
Kamu tahu, betapa menjenuhkannya menunggumu di ujung jalan?
Hahaha, lelah terkadang.
Rasanya lama sekali.
Kenapa lama sekali kita dipertemukan?
Aku tak tahu pasti.
Tapi yang aku yakini, kamu yang terbaik untukku sedang dipersiapkan untuk dewasa seperti juga aku yang sedang berlatih menjadi dewasa.
Ruang dan waktu memang menjadi pemisah diantara kita sekarang (hingga aku menulis ini).
Tapi suatu saat ruang dan waktu yang tepat akan mempertemukan kita.
Membuat kita bersama dan merawat sebuah rumah bernama keluarga.
Hey, engkau yang (akan) rela tinggal.
Aku selalu penasaran, tapi aku percaya padamu yang jauh disana.
Untuk sementara, aku hanya memiliki diriku sendiri untuk bertahan menghadapi kehidupanku ini.
Seperti ketika hatiku begitu sakit semalam,
Seperti ketika aku begitu gugup menghadapi ujian hari ini,
Seperti ketika aku merindukan keluargaku yang dulu,
Seperti ketika aku kesepian,
aku ingin sekali kamu di sisiku setidaknya meminjamkan bahu untuk aku tersedu dan terisak,
tapi aku sadari bahwa kamu juga sedang berjuang sepertiku,
Jadi, untukmu selamat berjuang dan semoga kehidupan yang sedang kita jalani sekarang menjadi guru agar kita bisa bersama sebagai pribadi yang utuh.

Untuk alam yang selalu menjadi guru terbaik semua makhluk.

TERIMAKASIH untuk semua kehidupan yang pernah hadir.
Kepada guru-guru terindah.

Senin, 17 November 2014

Melepaskan (untuk) Mendapatkan


Melepaskan? Penahkah kamu melakukan itu? 
Entah itu melepaskan orang yang kita cintai? Melepaskan jabatan yang telah lama kita kejar? Melepaskan pekerjaan yang telah lama kita kerjakan? Atau melepaskan apa yang membelenggu jiwa? Sulitkah melepaskan? Ah, itu persepsi masing-masing orang saja. 

Melepaskan. Banyak orang mengaitkan melepaskan ini dengan sebuah kehilang. Tapi adakah yang pernah memandang kalau melepaskan adalah sebuah proses mendapatkan? 

Aku. Aku memandangnya seperti itu. Beberapa waktu lalu aku masih memandang bahwa melepaskan adalah kehilangan besar dalam hidup. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi jalan melangkah kedepan. Terbelenggu ketakutan akan "melepaskan". Ketakutan yang akhirnya membuat semua jalan lainnya tidak terlihat. Hingga akhirnya aku belajar arti "melepaskan" yang sesunggunya. 

Melepaskan adalah bagian dari proses mendapatkan. Manusia hanya punya dua tangan untuk menggenggam. Dua tanggan itu memperingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang kadang lupa hingga kita serakah ingin mendapatkan ini dan itu. Tapi dengan dua tanggan itu, kita bisa ingat bahwa kita bisa memiliki tapi jika kedua tanggan kita sudah terisi kita punya sebuah pilihan "melepaskan" untuk bisa mendapatkan apa yang belum ada di tangan kita. Begitulah kita bisa belajar melepaskan untuk mendapatkan. 

Tahun ini, aku belajar banyak tentang melepaskan. Tentang keluarga yang tidak lagi utuh. Dan aku belajar melepaskan masa lalu bersama mereka untuk mendapat keluarga di masa depan yang lebih baik. Aku belajar banyak tentang kemandirian. Mengerjakan semua sendiri. Mencintai apa yang sudah aku miliki. Entah itu teman, saudara, atau lainnya. 

Tahun ini, aku belajar melepaskan cinta 'romantis'-ku. Kisah cinta yang bahkan belum sempat aku jalin. Bukan satu, bahkan dua. Oh, bukan cinta ya, tapi orang yang aku cintai secara romantis. Seorang cinta pertama yang selama 6 tahun tak pernah melihatku sebagai sosok perempuan yang menarik. Hingga aku menyadari cinta pada karibku sendiri. Cinta yang membuatku terbelenggu dan merasa tidak percaya diri. Karena karibku itu seorang yang penuh wawasan, tampan, dan pastinya menarik bagi banyak wanita. Hanya saja aku mencintainya. Kemarin, ya tepat kemarin lusa, aku berusaha menemuinya. Sayangnya jodoh tidak mempertemukan kami. Sejak saat itu, aku belajar mengenai "melepaskan" harapan. Aku berharap kami bertemu. Tapi jodoh yang tidak mempertemukan kami, aku anggap semua adalah pembelajaran menerima untuk yakin bahwa peristiwa ini ada maksud dan tujuannya di depan nanti. Aku melepaskan harapan bisa bersamanya dan menganggapnya sebagai masa lalu. Aku melepaskan cintaku padanya agar tidak terbelenggu dalam kesedihan karena kami tidak bersama. Ya, sudahlah. Tidak apa jika kami memang tidak dipertemukan kembali entah sampai kapan. Yang aku tahu kami sedang diajarkan untuk sama-sama dewasa dengan hidup kami masing-masing sekarang. 

Tahun ini, aku belajar banyak tentang melepaskan ekspektasi yang terlalu tinggi dan menerima keadaan ini sebagai sebuah hal yang membahagiakan. Melepaskan kekecewaan pada seseorang (atasanku #anggap saja begitu). Aku belajar banyak tentang menjadi dewasa. Di tahun ini aku dipercaya memegang sebuah divisi. Dengan begitu, setiap bulang aku mendapatkan tambahan uang jajan yang cukup banyak untuk seorang mahasiswa sepertiku. Dengan begitu juga, maka ada tanggungjawab-tanggungjawab yang harus aku selesaikan. Bergandengan dengan rasa yang aku tahu, aku mendapatkan sesuatu aku rasa aku harus bertanggungjawab dengan kewajibanku. Semampu aku telah berusaha untuk menjalankan semuanya. Sejauh ini, aku pikir aku telah menjalankan apa yang harus aku kerjakan. Tapi, mungkin baginya mungkin aku tidak memuaskan. Kerjaku tidak bagus. Entah aku lupa, atau tidak ingat, aku tak pernah mendengar dia memuji pekerjaanku. Dia tak pernah memintaku mengerjakan hal-hal baru seperti teman-temanku yang lain. Disaat itu, aku sadar aku mulai iri dengan kehidupan teman-temanku. Sejak dulu, aku tahu aku telah berusaha. Lagi-lagi mungkin aku tidak disadari. Di saat teman-temanku mendapatkan sebuah kesempatan pergi ke luar, tidak denganku. Maksudku, kupikir kesempatanku tidak sebanyak mereka. Oh, aku tahu aku sudah mulai tidak baik dengan mendambakan kehidupan orang lain. Belum lagi, teman yang tidak kondusif untuk bekerja sama namun tak ada tindakan tegas yang aku lihat. Aku mulai muak dengan semuanya. Di situ aku tahu harus berhenti. Aku berhenti sejenak, hingga aku sadar jika aku mencintai apa yang aku kerjakan. Namun, ada saat-saat ketika aku mulai muak dan marah dengannya. Seperti misalnya ketika dia menawariku sebuah kesempatan untuk mengikuti pelatihan, namun dia akhirnya menunjuk orang lain yang akhirnya tidak berkontribusi selanjutnya. Atau disaat temanku ditawari sebuah kesempatan namun aku tidak. Begitulah aku terkadang muak dengan kondisi-kondisi dalam organisasi ini. Tapi, aku tetap bertahan. Bodoh mungkin kedengarannya. Terserahlah. Tapi bagiku, cuma cinta yang mampu membuatku seperti ini. Aku mencintai apa yang harus kukerjakan hingga aku memilih bertahan. Tapi aku tahu, akan ada saat aku harus berhenti. Akan ada saat, dimana aku rasa cukup untuk memberi cintaku disini. Akan ada saat dimana lebih baik aku melepaskan apa yang selama ini aku cintai, melepaskan tambahan uang jajan dan melepaskan apa yang aku sebut tanggungjawab untuk lebih mencintai diriku sendiri. Saat itu adalah ketika aku tahu bahwa jika aku tetap disini maka aku tidak akan berkembang. Aku tidak akan mampu mewujudkan mimpi-mimpiku. Saat aku tahu bahwa aku tidak memiliki kesempatan seperti yang lain. Diluar kekecewaan itu semua, aku tahu tempatku sekarang adalah tempat terbaik untukku belajar tentang arti MEMAAFKAN kekecewaan. MENERIMA semua hal yang terjadi. Dan, disaat itu juga aku belajar arti kata MENCINTAI secara universal. Membagi CINTAku kepada lebih banyak orang. Mencintai dengan TULUS. TULUS yang diajarkan oleh seseorang paling aku kagumi adalah "KERJAKAN" LUPAKAN. Dosenku, Bu Diah Lestari mengajarkan itu padaku. Aku belajar banyak tentang perlakuan orang-orang kepadanya. Di saat beliau seharusnya memiliki kesempatan yang sama namun beliau tidak diberikan haknya. Tapi beliau bekerja karena cinta. Aku belajar banyak dari beliau dan aku tahu bahwa Tuhan tidak tidur dengan keadilannya. Walaupun manusia berusaha adil, tapi aku tahu manusia tidaklah bisa adil seadil tuhan. Jadi, aku percaya apa yang kukerjakan cukuplah dilihat Tuhan. 

"Ibaratnya. Sebagai orang tua dengan banyak anak, pasti lelah memikirkan untuk bisa bersikap adil. Percaya dan yakin kok kalau sudah ada sebuah usaha untuk adil walaupun pada akhirnya hasilnya tak menunjukkan itu. Pasti adalah berat sebelah. Makhlumlah. Kan cuma tuhan dan karma yang bisa adil. Mana ada manusia yang sempurna. Lagipula adil itu kan gak harus sama." 

Tapi sungguh, apapun yang terjadi padaku, APAPUN itu, aku menerima dengan senang hati (walau beberapa ada yang diawali dengan kesal) namun aku tahu semua sudah ada jalannya. Aku kini berbahagia dengan semua yang telah terjadi. Begitulah aku mencintai semua yang datang padaku dengan segala waktu dan kondisi. Aku mencintai semuanya. Mencintai hidupku. 


"Love is art. Art of love. Seni mengendalikan amarah. Cemburu. Sedih. Melepaskan. Mendapatkan. Memaklumi. MENERIMA hingga kebahagian menjadi sebuah hadiah setiap waktu dalam segala kondisi. " -Naya-

Tahun ini aku belajar banyak tentang melepaskan. Aku melepaskan harapanku mendapatkan pacar. Diusiaku yang sekarang, melihat teman-temanku pacaran dan aku tidak tentu punya sensasi tersendiri di hatiku. Tapi, aku tahu bahwa aku telah memiliki jalanku sendiri untuk bertemu dengan calon ayah dari anak-anakku itu. Kemarin seseorang teman di Viharaku bertanya tentang kriteria yang aku inginkan. Ehmm.. bingung juga ya ditanya seperti itu. Dia juga bertanya apa aku menginginkan pria kaya? Hahahaa, menurutku pria kaya itu pria paling gak menarik kecuali dia cakep. Pria paling cakep adalah ketika seorang pria itu memiliki wawasan yang luas (kayak jaringan operator) jadi nyambung ya diajak ngobrol, bertanggungjawab sama pekerjaannya (well, bisa dibayangin dong kalau nanti dia jadi seorang ayah), bisa diajak olah raga bareng, dan gak nganggep aku aneh karena aku baru sadar aku seorang introvert yang pastinya butuh waktu buat sendiri di saat tenagaku begitu terkuras karena bertemu banyak orang. Dia akan tampak begitu menarik ketika dia membaca buku, bekerja, dan berolahraga. Kalau dia bisa aku ajak travelling bareng itu bakalan lebih bagus lagi. Hehehee... aku tahu dia tidak hanya ada dihayalanku. Aku tahu kami akan dipertemukan suatu saat nanti disaat dan waktu yang teman. Hanya saja sekarang kami terpisah ruang dan waktu agar kami sama-sama belajar menjadi dua manusia utuh yang akan saling menerima perbedaan yang ada di diri kami nanti. Sampai saat itu tiba, kepadanya yang belum pernah aku temui, aku akan menjaga diriku dan belajar menjadi dewasa. Aku akan bersabar menunggu kita dipertemukan diwaktu yang paling tepat di sebuah tempat terindah. Untukmu, cinta yang belum pernah aku temui, aku harap kamu sedang baik dan berbahagia hari ini. I Love you the way you're. 


Well, sudah ya itu aja. Semoga kalian gak muak baca tulisan ini. Ambil yang baik aja ya, yang jelek gak usah dipedulikan. 



(Sumber gambar : https://www.google.com/search?q=melepaskan&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=MbJqVNPcDoW_uASVtYGACw&sqi=2&ved=0CAYQ_AUoAQ#facrc=_&imgdii=_&imgrc=gIK9rs3nq6taYM%253A%3B28vd1lPlHPJICM%3Bhttp%253A%252F%252Fberhati.com%252Fwebdata%252Fnews%252F1376455869_news_Berani-Melepaskan%252Fheadline.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fberhati.com%252Fhome%252Fnews%252F2013%252F08%252F14%252F339%252FBerani-Melepaskan%3B400%3B300)

Kamis, 30 Oktober 2014

i can't speak

Alaaah... Dunia begitu menarik dengan segala degradasi warnanya. Merah. Kuning. Hijau... Biru.. Ungu... Semua menarik...
Tapi mengapa dunia yg kini aku jalani tak lagi menarik?
Bosan?
Jenuh?
Uang yg kurang?
Ah rasanya tidak.
Semua masih cukup. Hanya satu ya kurang.
Ya, CINTA.
Cinta yang dulu membuatku datang.
Cinta yang membuatku bertahan.
Cinta yang membuatku enggan beranjak.
Aku mencintai apa yang kulakukan, karenanya yang kulakukan penuh cinta.
Tapi kini?
Ya mungkin cinta itu mulai pudar karena usia dan kurangnya penghargaan.
Wah, itu berarti cintaku tak tulus?
Ah tidak juga. Hanya aja cintaku mulai memudar. Dan AKU INGIN PERGI.
AKHIRI apa yang pernah AKU MULAI.
Iaya, karena cinta :')

Selasa, 28 Oktober 2014

Jatuh (CINTA)




Well... Dijam gue ini menunjukkan pukul 12.37 wita. Dan mata gue belum bisa terpejam karena tenggorokan sakit tapi gak juga bisa buat apa-apa. Sakitnya dimana?
Dimana-mana. Nah jadi gue mutusi nulis di blog aja karena gue lagi galau dan berharap ada cowok yang baca ini trus nembak gue. #alah harapan bodoh. Tapi tetep berharap.

Nah jadi gue mau ceeita dong kalau gue lagi jatuh cinta. Tadi temen gue sempet muji sih kalau gue makin cantik. Hehehee... Ya mungkin karena gue lagi jatuh cinta kali ya.
Nah gue udab kenal lama sama ini orang. Sekitar 3 tahun. Lebih-lebih dikitlah. Terus, terus dari semua kriteria yang gue punya gak ada satupun yang masuk. Eh tapi ya kalau ketemu dia gue seneng
 Dan bagusnya sih gue masih bisa ngendaliin diri buat gak nunjikin gue cemburu kalau dia lagi deket sama cewek lain. Yah gue udah kebal dan resisten
 Gue udah berdamai sama.cemburu

Uhm... Gue sih pingin dia nembak gue sebelum atau pas diusia gue 21 tahun nanti. Tahun lalu dia ada kok di ultah gue, tapi dengan perayaan yang telat, gak ikut.ngasi hadiah dan tentu gak nembak gue.

Eh, ngomong-ngomong soal tembak.menembak. Sebenarnya gue udah putus harapan sejak gue usia 17 tahun.  Inget bangey gue waktu itu berharap.banget ditembak sama gebetan gue.

Di mimpi gue, gebetan gue itu bawa bunga lili 24 tangkai, lengkap.dengan sedikit sedap malam dan.margot putih terus bawa.kue dan bilang seenggaknya "jadian yuk". Omigot, matrealistis banget ya gue. Dan kenyataannya adalah waktu itu dia jadian sama cewek lain. Sejak itu gue udah gak berharap banyak lagi soal ultah dab jadian

Yaudah jalanin aja. Gue gak lagi berharap bunga di ultah gue. Kalau dapat ya syukur. Kalau gak dapat ya syukur juga gue masih punya umur yang panjang. Gue juga gak ngarep banget punya cowok walau gue tetap berharap ditembak.cowok
 Gue udah gak pusing lagi soal siapa dia. Gimana caranya dia nembak gue dan dia.bilang apa ke gue waktu minta kami jadia. GUE UDAH GAK PEDULI. Asal dia buat gue jatuh cinta dan ngajak gue.pacaran, dan bukan kode.Soalnya gue.sendiri gak ngerti kode.

Gue gak pernah tahu gimana cowok suka sama gue
 Gue gak ngerti kalau mereka punya sikap yg seandainya mereka bilang pingin lebih deket sama gue. Gue gak.ngerti kalau mereka gak bilang
bilang. So jadi gue bakalan mereapon.kalau mereka bilang. Ah? Jadi apa hubungannya.dengan judul jatuh cinta?

Oiya, ada jelas dong. Kalau dia udah bilang, gue akan belajar buat jatuh cinta. Bukan cinta ya. Soalnya kalau.cinta, cinta gue itu terlalu universal
universal. Gue cinta sama ortu gue. Sama alam. Sama barang-barang yg gue punya. Sama teman. Sama semua orang. Semuanya sama. Gue cinta kayak gue cinta sama diri gue. Cuma kalau ada yg bilang mau standar cinta yang lebih, yuk mengalir kayak air. Hehehe


Dan mari lihat kemaja arahnya. Apakah gue bisa jatuh cinta kayak air yg ngalir ke samudra atau kayak air yang akhirnya kering di tengah sungai. Semua cuma waktu yang bisa.menjawab.

Selamat mencintai
I love you all :)

Rabu, 22 Oktober 2014

Udah Lama




Kalau dihitung2 udah setahun lebih 2 bulan aku gak ke luar. Uhm
. Lama juga ya. Kalau diingat lagi udah hampir setahun aku sadar mulai mencintai cintaku sekarang. Setahun itu cepet ya? Sejak Januari lalu padahal ketakutan banget bakalan ditinggal dia, tapi ternyata ditinggal dia gak semenakutkan yang aku bayangkan. Setahun juga keluargaku berubah Dan aku mulai membenci senja. Tapi bulan demi bulan aku mulai menerima senja. Walau senta tetap mengingatkanku bahwa ada banyak.lenangan kami ketika senja. Andai saja satu diantara kami masih mau berjuang dan bertahan maka senja tak akan semenyakitkan hari-hari yang harus kulalui kini. 

Belakangan ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Buat aku gak ke pantai menyaksikan setiap harapanku telah tenggelam hilang bersama senja. Sedih dab sakit tapi dengan menyaksikannya aku bisa belajar mengenai tumbuh Dewasa. Belajar mengenai kebahagiaan yang aku ciptakan dan musnakan sendiri. 
Aku rindu senja. Rindu senja kami semua 
berkumpul dan tertawa bersama. Duduk dan bercerita bersama. Aku rindu senja. Aku rindu senja katika lukaku terobati dengan bertemunya kami di sebuah tempat terindah bernama rumah. Sebuah tempat dimana aku dapat menumpahkan segala keluh kesahku. Aku didengar dan meperoleh semangat baru
 Tapi kini? Rumah itu telah sepi. 
Aku bahkan tak kenal lagi itu sebagao sebuah rumah. Sayang ya? 

Tiap senja aku hanya mampu mengenang dan membiarkan kenanga itu musnah bersama air mataku. 

Kini aku hanya punya diriku sendiri untuk bisa berdiri. Aku tak bisa lagi mengharapkab siapapun bertahan seperti aku. Seandainya saja hari di bulan juli ini tak pernah terjadi mungkin aku masih punya mereka. Tapi itu semua sudah lama sekali. Lama sekali. Dan aku akan bertahan
 Bukankah tuhan memberikan segala sesuatu karena ia tahu kita mampu? Ya aku mampu. Dan badai pasti berlalu hingga senjaku kembali terlukis indah. :) 

Kamis, 09 Oktober 2014

I Can't Speak

Belakangan gue kangen banget sama cinta gue. Ehm.. Udah lama banget gak pergi ke Vihara. Udah lama banget gak pergi meditasi. Sejak pisah sama "dia" gue gak lagi ke Vihara. Dan satu sisi buat gue kembali ngerasa sepi.

Bedanya adalah sejak gue pisah sama dia, gue lebih rajin ketawa. Berat badan gue juga udah nambah. Bahkan sekarang udah kayak ibu hamil, wkwkwkw..
Then, tentang keluarga gue. Gue udah mulai yang namanya nerima kalau semua emang udah berubah. Mereka adalah pilihan yang gak bisa gue pilih. Mereka adalah keluarga gue. Cinta gue. Sumber energi gue. Yah, walaupun mereka gak utuh, tapi mereka masih bisa jadi semangat gue kan?
Iya, gue tahu tuhan ngasi ini semua karena dia tahu gue mampu.

Sekarang gue ngelakuin sesuatu bukan lagi demi ini atau itu. Demi siapa atau siapa. Tapi buat diri gue sendiri. Karena gue tahu, udah gak ada siapa-siapa lagi. Gue pingin banget ada seseorang yang bisa gue pinjem pundaknya buat gue bersandar, tapi gue sadar kalau gue cuma punya dua pundak gue sendiri. Gue pingin bangat pinjem tangan orang lain buat megangin gue waktu gue gundah, tapi gue sadar gue cuma punya dua tangan gue. Oke, itu gak papa. Gak papa ketika gue butuh pelukan, gue meluk diri gue sendiri. Gak papa ketika gue nangis gue butuh pundak orang dan gak ada siapapun. Gue tahu masih ada diri gue sendiri. Gue tahu gue masih punya jiwa gue. Nafas dan hidup gue. Satu hal yang buat gue bertahan adalah ketika gue inget kalau gue gak punya siapapun di dunia ini, gue masih punya diri gue sendiri. Dan gue udah cukup bersyukur kalau gue punya diri gue sendiri.

Orang lain akan datang dan pergi seiring waktu. Kayak cinta gue, tapi diri gue, hati gue yang bersemayam cinta gak bakalan ninggalin gue. Gue berkali-kali tanemin itu di diri gue buat bertahan. So, kita semua sedang bertumbuh. Mari bertahan dalam setiap kehampaan. Karena semua akan berlalu.


Senin, 28 Juli 2014

DILEMA

Ini adalah salah satu keputusan terberat yang pernah gue ambil sepanjang hidup gue (sampai saat ini). Milih sekolah aja gue rasanya gak seberat ini.

Cerita ini gue mulai dari gue gabung jadi relawan di sebuah organisasi remaja. Gue suka banget organisasi ini. Visi misinya bagus. Diluarpun tampak bagus kerjasamanya. Yah, intinya gue lihat semua hal di organisasi ini bagus.

Dari bawah gue mulai semuanya. Pertama gue gabung jadi relawan tanpa ngarep apa-apa. Murni banget gue pingin belajar. Belajar banyak tentang banyak hal. Well, maka terjadilah pembelajaran ini.

Pertama gue belajar tentang kebersamaan. Pertama kali gue gabung gue ikut sebuah acara yang benar-benar kekeluargaan banget. Acara yang seru dengan banyak foto-foto.

Kedua gue belajar ngatur waktu. Disela-sela kewajiban gue untuk kuliah dan belajar, gue harus membagi waktu buat kegiatan di organisasi ini. Yup. Gue berhasil

Ketiga gue belajar tentang arti kerjasama tim

Intinya gue belajar lebih dari apa yang bisa gue dapetin di bangku kuliah.

Gue seneng ngejalanin ini, sampai akhirnya hari ini gue gak kuat ada di sana.

Ini bukan tentang gue yang bosen. Gue akui gue emang orang yang bosenan. Tapi, gue gak pernah bosen di sini di organisasi ini.

Gue mutusin buat berhenti. Dari gue jadi relawan yg gak dapet uang hingga sekarang gue bisa dapet sedikit uang buat (setidaknya) bayar kos. Semua gue lalui dengan sabar. Tapi hari ini gue mutusin buat berhenti. Emang gue gak bisa berhenti sekarang. Paling gak September ini surat pengunduran diri gue bakalan udah ada di meja Direktur organisasi ini.

Sesungguhnya gue sayang banget sama organisasi ini. Gue seneng dan bangga menjadi bagian organisasi ini. Seperti yang gue bilang tadi. Gue banyak belajar di organisasi ini.
Tapi gue gak kuat dengan iklim kerja di sana. Emang kita dapet uang, tapi dibandingkan tuntutan kerjanya, itu gak sebanding. Belum lagi soal kerjasama tim. Gue ngerasa kurang adanya saling dukung antar tim.

Kalau gue kaji (dari persfektif ilmu yg gue tekuni/psikologi), menurut gue iklim kerjanya kurang mendukung. Memang rentang menyebabkan orang stres. Jadi gue gak heran kalau banyak cus dari organisasi ini. Gue sih gak maksud ngejelekin organisasi yg udah besarin gue selama ini (memberikan wadah buat gue tumbuh). Tapi ini beneran.

Kadang gue gak ngerti tentang tanggungjawab orang-orang di dalamnya. Gue gak bisa lagi kerjasama sama orang-orang di dalamnya. Sumpah, gue gak sanggup.
Ini emang dilema karena gue sayang oraganisasi ini tapi gue gak kuat lagi dengan IKLIM KERJAnya terutama kerjasamanya.

Kalau ditanya soal sakit hati. Sakit banget hati gue, ketika mereka (para staf (gue termasuk staf juga) jalan-jalan tapi gue gak diajak. Gue sakit hati banget ketika mereka bersenang-senang dan gue gak diajak. Yang kadang gue gak ngerti, Atasan gue (Koordinator gue), jarang banget bilang "MAKASI". Jujur, gue ngerasa loyalitas gue gak dihargai.

Apa loe gak sakit hati, KETIKA LOE UDAH NYERAHIN TOTAL HIDUP LOE, tapi LOE HIDUP AJA DIA GAK SADARI.

Ah? Apa bahasa gue terlalu tinggi? Yah, inilah saat-saat gue benar-benar MUAK sama semua yang ada di organisasi gue. Karena gue bukanlah apa dan siapa-siapa. Jadi GUELAH yang memutuskan menyingkir. Toh tanpa gue organisasi ini akan jalan baik-baik saja. Setidaknya gue bangga pernahh jadi bagian dari organisasi ini. TERIMAKASIH


Senin, 16 Juni 2014

Gue Butuh, Tapi Tuhan Bilang Gue Gak Butuh

Ada kalanya gue ngerasa sepi. Sepi banget dunia ini  walaupun di sekitar gue lagi ada banyak orang. Ketika itu terjadi, gue ngerasa muak banget sama semua orang di sekitar gue. Ada kalanya, gue ngerasa butuh sendiri. Maka gue pergi sendiri ke tempat yang gue mau. Tapi kadang ketika itu, gue ketemu orang yang ngajak gue ngobrol. Kadang ini buat gue sebel. Tapi ada kalanya gue lagi butuh banget temen ngobrol dan gue baru sadar kalau gue gak punya siapapun lagi buat gue andelin. 

Dari dulu, dari zaman gue baru sadar kalau di dunia ini gak cuma ada gue dan keluarga gue, gua gak percaya yang namanya keabadian. Menurut gue, semua hal itu bakalan hilang. Pengalaman gue ngajarin gitu. Satu-satunya yang nguatin gue adalah keluarga gue. Tapi suatu hari, keluarga gue udah gak kayak dulu lagi. Jadi, mulai ketika itu gue ngerasa gak punya siapa-siapa dan gue ngerasa gue butuh yang namanya orang lain seperti teman, sahabat atau pacar.

Kayak kalau gue lagi galau sekarang ini. Gue "ngerasa" butuh yang namanya pacar atau sahabat.

Dulu, waktu SMP gue pernah bilang ke seseorang kalau gue gak percaya yang namanya persahabatan. Tapi di lubuk hati gue yang paling dalam gue pingin banget punya sahabat. Seseorang yang bisa gue ajak berbagi bukan sekadar tentang duka tapi juga tentang kebanggan yang gue lakuin di hari-hari gue tanpa dia berkomentar bahwa gue sombong.

Sometimes (apa sih bahasa indonesianya, gue lupa), gue butuh seseorang yang peluk tubuh gue ketika gue nangis. Ketika hati gue sakit banget. Tapi Tuhan sedang ngajarin gue hal yang berbeda. Gak semua yang gue rasa butuhin adalah benar yang gue butuhin. Ini gue pelajari dari dulu sebenarnya, tapi maknanya baru semakin gue pelajari ketika gue mamasuki usia 20 Tahun.

Bukan gue gak menghargai teman-teman gue yang selalu bilang bahwa mereka adalah sahabat gue. Tapi di ekspektasi gue sahabat itu adalah seseorang yang lebih dari teman. Seseorang yang ngerti gue dan juga gue ngerti. Bisa gue ajak bercerita dan dia juga bercerita. Intinya bukan hanya komunikasi satu arah tapi komunikasi dua arah.

Sebenernya gue agak sakit hati dengan perkataan teman gue yang nanyain, "apa dulu loe pernah punya sahabat?"

Gue sendiri gak tahu jawabannya. Sometimes, gue menghargai teman-teman gue. Sampai sekarang gue sayang banget sama mereka. Gue menghargai banget apa yang mereka lakuin ke gue waktu gue patah hati di tahun 2010 dulu. Mereka bantu gue bangkit. Mereka semangat gue. Tapi sekarang, apa persahabatan bisa dipisahkan oleh jarak atau perubahan status?

Di ekspektasi gue jawabannya ENGGAK. Tapi pada kenyataannya jawabannya "YA" pake BANGET TENTU SAJA.

Yah, anggap aja gue ngeluh dengan hidup gue ini. Bahkan sekarang gue udah gaak tahu kabar mereka. Dan mereka juga gak tahu kabar gue kan? Yah, cukup mereka tahu bahwa gue bahagia dengan kehidupan gue sekarang. Gue sibuk dengan kehidupan gue sehingga gue gak sempet menghubungi mereka.

Walaupun sebenarnya bukan itu. Ada hal yang gue butuh ceritain tapi gak ada yang mau dengerin gue. Gue cuma butuh seseorang buat dengerin gue dan seenggaknya bilang "Ceria, kamu kuat dan semua memang tidak sedang baik, tapi semua baik saja." Kenyataannya cuma diri gue sendiri yang bilang itu ke diri gue sendiri. Yah, setidaknya itu guatin gue.

Ketika malam-malam gue keinget sama kejadian yang buat gue sakit. Ketika gue inget kenangan tentang keluarga gue. Ketika gue inget tentang cinta gue yang gak merhatiin gue. Ketika gue butuh pelukan seseorang buat nenangin gue, gak ada siapapun di samping gue. Tapi gue tahu, Tuhan ngasi ini ke gue karena gue kuat. Karena gue masih punya DIRI GUE sendiri. Dan maka, gue peluk diri gue sendiri. Setidaknya itu buat gue lega. Dan keesokan harinya gue udah bisa melenggang menghadari hari baru tanpa ada yang tahu berapa liter air mata yang gue keluarin selama berjam-jam semalam. #Enough

Ketika gue pingin jalan-jalan ke sebuah tempat, dan gue sadar gue gak punya siapa-siapa lagi. Dulu, gue sempet ngajakin teman-teman gue buat jalan. Gak jarang mereka menerima. Dan sering juga mereka menolak ajakan gue. Sampai suatu titik gue bosen ngajak mereka, karena yang gue inget yang terakhir kali pergipun gue yang gajakin mereka pergi. Gue gak inget kapan mereka inget ngajakin gue hagout atau sekadar ngumpul bareng. Tapi gue seneng kalau liat mereka upload foto mereka lagi jalan bareng sama teman-teman barunya. Dan ketika gue pingin jalan tapi gak ada siapa, gue jalan aja sendiri. Toh, tujuannya adalah jalan-jalan kan? Jadi gak ada bedanya gue pergi bareng siapa atau sendiri aja. Dan gue paling benci pertanyaan "Sendiri aja?" kalau lagi jalan ketemu sama kenalan. #Enough

Kayak yang gue bilang tadi, gue bersyukur banget banyak orang pernah menjadi teman gue. Gue tetap berterima kasih sama teman gue yang ngusir gue secara halus dari rumahnya ketika gue butuh banget tumpangan. Walaupun kadang gue dongkol dan dipikiran gue muncul pikiran macem-macem tentang gak dihargainya pertolongan gue ke dia. Tapi balik lagi ke prinsip awal gue, gue mungkin gak benar-benar butuh dia.

Loe percaya gak yang namanya ikatan? Nah, jadi mungkin ikatan gue sama mereka semua emang segitu aja. Kalau seandainya suatu saat kita dipertemukan lagi itulah artinya ikatan kita emang masih ada.

Ah, satu lagi. Kadang gue ngerasa butuh pacar. Cinta gue kapan loe nembak gue? hehehe,
Kalau lagi pisah gini, gue ngerasa banget butuh pacar. Kalau lagi ngumpul bareng teman-teman dan bareng dia, gue ngerasa gue butuh status yang lebih. Tapi, lagi-lagi balik ke prinsip awal, mungkin tuhan menganggap gue belum butuh.

Intinya gue pingin nyampein ke loe semua kalau loe semua boleh menjalin ikatan ke orang tapi suatu saat ikatan itu akan putus. Gak ada yang abadi di dunia ini. Cuma kepentingan yang abadi. Ngapain loe temenan? Karena loe butuh hubungan yang hangat kan? Nah, itu juga kepentingan. Seiring dengan perubahan kepentingan itu, maka hubunganpun akan berubah. Jadi kalau loe mau bergantung, bergantunglah pada diri sendiri. Semua orang yang hadir di hidup kita itu cuma dipinjam Tuhan biar kita belajar. Biar kita jadi pribadi yang lebih matang. So, kalau tugas mereka udah selesai, mereka pasti pergi dari hidup kita. Dan ketika itu terjadi, loe tetap gak sendiri. Loe punya diri loe sendiri buat nolongin diri loe sendiri. So, berdirilah di atas kedua kaki sendiri karena tak ada kaki yang lebih kuat menopang tubuh orang lain.  

Minggu, 15 Juni 2014

Wanna Say "THANK YOU"

Adakah yang percaya "Karma" ?

Kalau ditanya ke saya, pasti saya menjawab sangat percaya. Bahkan kalau ditanya lebih percaya mana antara karma dan Tuhan? Kalian boleh mencibir bahwa saya lebih percaya yang namanya karma dibandingkan dengan Tuhan. Kadang bahkan sering saya sering mempertanyakan kehadiran tuhan. Sering kali saya bertanya, apa Tuhan benar ada? Apa tuhan bukan hanya sebuah mitos yang kemudian dipercaya dan diwariskan secara turun temurun? Jika dia ada, mengapa ia tak berwujud, maka semua jawabannya mengarahkan saya untuk lebih percaya yang namanya karma.

Yang saya kenal, karma adalah perbuatan. Pernah dengar hukum tarik menarik bukan? Nah, begitulah menurut saya karma juga bekerja. Ketika kita berbuat maka terjadilah yang harus terjadi. Dan begitulah akhirnya saya yakin bahwa segalanya merupakan hasil dari karma. Disamping juga bahwa semuanya telah diizinkan Tuhan terjadi. Yah, kalau saya sendiri mengibaratkan Tuhan seorang pemimpin besar yang jika berkata "Ya" maka semua akan terjadi. Tapi, karma itu adalah proposalnya. Kalau kita buat kegiatan kan harus ada proposal baru bisa di-"Ya" atau "Tidak" kan kegiatan tersebut. Nah, begitu juga hidup dan segala kejadian yang terjadi.

Hoho, untuk semua kejadian itu maka saya berterimakasih. Karena semua orang yang hadir. Karena semua kejadian yang ada. Maka saya berada di titik saya sekarang. :)

Jumat, 13 Juni 2014

I Can't Speak Part I

Hari ini gue lagi duduk di beranda rumah dengan perut yang super buncit dan bakalan tambah buncit lagi dua bulan mendatang. Terus membuncit dan bikin tubuh gue makin melar gak jelas. Dan, dan kayaknya gue bakalan ngerasa gak seksi sama sekali dua bulan mendatang. Walaupun kata cinta gue, gue lebih seksi dari Angelina Jolie. Gue harap juga gitu. Tapi kenyataannya itu, tubuh gue dengan suburnya melar. Memekar dan gak kayak bunga. Tapi satu hal yang tetep bikin gue PD ke mana-mana karena cinta gue tampan dan ganteng ini tetap mau nemenin gue kemanapun gue mau. Hahahaha, itu bikin gue bersyukur.

Sometime, kalau gue lagi jalan sama cinta gue ini dan ketemu temennya yang jadi model, gue ngerasa gue enggak banget ya buat cinta gue. Ya, ampun gue itu beruntung banget bisa sampe dapet ni cowok. Kadang gue mikir sendiri, gue pake pelet apa ya ampe ni cowok nempel gini sama gue dan sekarang bakhan di perut gue sekarang lagi ada juniornya dia, hehehe. Uhm, pake pelet apa coba gue? Loe semua mau tahu gak? Gue cuma punya satu pelet yaitu cinta yang tulus.

Itu jawaban gue jujur kalau teman-teman gue yang baru kenal cinta gue ini syok ngeliat kami jalan bareng. Gak bisa gue pungkiri yaang, untuk ukuran cewek itu gue itu standarnya pake banget. Tinggi gue cuma 153 doang, walaupun masih dibilang proporsional ya dengan berat badan 50 kg (dulu waktu gue belum isi makhluk lucu diperut gue, sekarang jangan tanya). Kulit gue sawo matteng gak jelas gitu. Satu sih yang bagus di gue (itu menurut teman-teman gue), taraa, itulah rambut gue. Rambut gue lurus secara alami dan item. Rambut gue setipe sih sama rambut cinta gue ini. Dan, cuma itu persamaan kami. Sisanya, cinta gue ini manis manget. Loe pada tahu artis Thailand Mario Maureel kan? Nah, cinta gue mirip banget sama itu. Senyumnya,wajahnya, mata sipitnya. Bedanya sama si Mario itu ya cuma satu, orangnya. hehehe, Oiya, cinta gue ini bisa dibilang putih lah untuk ukuran cowok. Dulu ya, waktu pertama kali kami berenang bareng, gue sempet minder liat warna kulitnya. Dibandingin sama kulit gue, miris gue. Yah, kalau ada dongeng yang bilang beauty and the biz, nah gue ini charming and the standar (asal banget). wkwkwk. Yah, intinya gue standar dia itu cakep banget di mata gue. Gak tahu ya, gimana gue dimata dia, secara dia gak pernah muji gue. Gak waktu nembak, gak waktu jadian, gak waktu malam pertama, dan gak sampai sekarang. Jadi bingungkan kenapa dia jatuh cinta sama gue. Ah, gue aja bingung.

Walau dia gak pernah muji gue (atau sebenarnya dia pernah muji tapi gue gak inget? entahlah. Ntar deh gue inget-inget lagi), gue tetap cinta setengah hidup sama dia. Eh, cinta pake banget sekali teramat sangat loo. Karena dia itu cintaa gue. Cinta sejati gue. Cinta yang sangat lucu perjalanannya.

"Kenapa?" tanya cinta gue, narik gue dari dunia memori alias ngejutin gue. Bukannya tadi dia lagi baca koran ya? Diliatnya gue lagi senyum-senyum sendiri kali ya.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" jawabku, membuatnya menarik nafas panjang dan bilang, "ya udah gak usah dikasi tahu."
"Okee, manis" jawabku mendaratkan ciuman lembut di pipi kanannya.
Weist, apa kalian pikir kami marahan? Nononooo, kalian salah. Tapi memang begitulah komunikasi kami setiap hari. Apa terlihat dingin? Sebenarnya gak juga sih, cuma kami saling menghargai. Tepatnya aku mencoba mengerti setiap apa yang dia inginkan. Setiap hal lo, dan apa kalian berpikir ini sulit? Tidak, ini tidak sulit. Ini sangat mudah, karena aku melakukannya dengan setulus hati dan tanpa mengharapkan dia juga mengerti seperti apa yang aku inginkan. Apa aku bodoh?

Gue sendiri akan memberikan pembelaan kalau setiap orang boleh berpikir apapun tentang gue dan sikap gue terutama ke cinta gue ini, tapi gue pribadi berpikir gue gak bodoh. Karena dengan semua hal yang gue lakuin sama dia gue bahagia selama dia gak melanggar hal-hal yang kami sepakati di awal pernikahan kami. Gue gak pernah merasa keberatan buat nurutin kemauan dia yang masih masuk akal. Gue juga gak pernah mau maksaain apa yang gue mau ke dia. Gue cukup minta sekali, kalau dia gak mau ya udah. Itu yang dia latih ke gue sejak kami temenan sampe sekarang kami resmi jadi keluarga. Gue juga sama sekali gak mau ngontrol dia. Karena kalau gue mulai ngontrol dia, guelah yang akan sakit sendiri.Rasa sakit yang ngingetin gue pada masa awal gue baru sadar kalau gue jatuh cinta sama cinta gue ini.
 

I Can't Speak (Prolog)

Ceria. Itu namaku. Pemberian tidak resmi dari keluargaku. Kusebut tidak resmi karena nama itu bukanlah nama yang tertulis di akta kelahiranku. Tidak tertulis juga di seluruh ijazahku sejak TK sampai aku sekarang kuliah. Tidak tertulis di satupun sertifikat yang aku kumpulkan. Ceria hanyalah sebuah nama ketika aku kecil. Nama yang terbawa hingga sekarang. Sebuah nama penuh sejarah. 

Konon katanya nama itu diberikan karena senyumku. Hohoo, bukanya ke GRan atau terlalu PD ya, tapi kata keluargaku senyumku itu bawa keceriaan bagi mereka. Aku hidup dalam keluarga yang keras, tapi aku masih bisa tersenyum. Itulah yang membuat mereka lebih suka memanggilku Ceria dibandingkan nama asli yang tertera di akta.Nama dan cerita itulah yang selalu membuatku kuat ketika aku terluka. Hingga suatu hari aku pernah lupa cara tersenyum. 

Itu terjadi ketika orang yang aku sukai menjadi pacar orang lain. Ah, siapa sangka ternyata aku mengalaminya lagi tiga tahun kemudian. Tapi dengan kasus yang berbeda. Kali ini, keluarga sebagai penguatkulah yang hancur. Ternyata itu tak cukup bagi tuhan untuk mengajariku arti bertanya, disaat yang bersamaan pula aku menyadari cintaku yang baru. Bukan kesadaran yang membuatku semakin kuat. Tapi kesadaran yang membuatku semakin rapuh karena hari itu aku termakan cemburu yang tak tanggup aku bendung selama berbulan-bulan. Oh, kenangan menyakitkan penuh pembelajaran dan kelucuan jika diingat. Kenangan tentang menemukan cinta sejatiku. Cintaku. Cinta yang kini dihadapanku. Calon ayah dari kehidupan mungil di perutku hari ini.