Jumat, 11 April 2014
Cerita Ceria #APA itu TIDAK APA
Hari itu, ehm. Saya sendiri lupa itu hari apa dan kapan. Yang saya tahu hari itu saya berkenalan dengannya. Namanya Ari. Ia tidak memperkenalkan namanya lebih banyak. Begitupun dengan saya. Saya hanya menyebut nama Ceria. Di hari perkenalan kami itu tidak ada firasat apapun. Semua biasa. Di luar kelas perkulihan saya, dia diperkenalkan sebagai dosen baru. Selain saya, hanya seorang teman yang mengetahui beliau siapa. Tapi, kalau kamu percaya jodoh, takdir dan sebagainya. Semua ini akan saling berhubungan.
Waktu berlalu, dan rasa sakit itu mulai muncul. Cemburu. Ketakutan. Keinginan. Harapan, semua berkecambuk menjadi sakit yang menyiksa. Hingga di akhir bulan April aku merasa tidak tahan lagi. Aku pikir aku butuh seseorang. Di saat seperti ini aku butuh penerimaan. Sayangnya, rumah tempatku pulang sedang tidak berfungsi normal. Teman-temanku sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Oh, tidak. Tidak semua. Beberapa meluangkan waktunya untukku dan sakit karenaku. Aku pikir aku tak bisa berlari dari menuju mereka karena sakit ini tak juga berkurang.
Yah, ketika semua aku pikir sedang tidak baik. Ketika sakit ini semakin sakit. Ketika aku merasa lelah yang terlelah. Seorang dosen merujukku ke pada Bu Ari. Ya, seseorang yang aku kenal beberapa minggu belakangan.
Diantara kebingunganku iya tak melakukan banyak, tapi berakibat banyak padaku.
Dia mendengarku. Hanya mendengarku awalnya. Itu sudah cukup bagiku. Aku bercerita tentang ketakutan akan kehilangan, ketakutan akan tidak dicintai, ketakutan akan tidak lagi dianggap, keharusan yang aku inginkan dan semua pikiran negatif. Ia mendengar semua ketika aku mengatakan semuanya menyakitkan. Tapi aku tak mampu menjawab pertanyaannya mengenai, bagaimana rasa sakit itu?
Oh, iya. Rasa sakit itu terlalu abstrak memang. Atau itu hanya ada dipikiranku.
Aku pikir dia benar. Ini semua menang tidak sedang baik-baik saja, tapi bukan berarti ini tidak baik.
Yup, It's oke when it isn't oke.
Aku merasa lelah karena aku terlalu sering berlari. Aku takut menghadapi ketakutanku, pikiran negatif, dan semua hal buruk yang aku pikirkan. Aku belajar darinya untuk memeluk semua itu. Aku memiliki bayi yang aku lupakan sampai puluhan tahun hanya karena aku memikirkan orang lain dan segala keharusan yang aku inginkan dari mereka. Ia benar, bayi di dalam tubuhku menangis dan aku sering tak mendengarnya. Sayang sekali, tapi betapa baiknya bayi ini ketika ia mengatakan APA yang terjadi (selama ini, sekarang dan yang akan datang) TIDAK APA. Baik sekali bayi Ceria dan dia telalu manis untuk aku tidak pedulikan sekarang dan di masa depan. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar