Kamis, 04 Desember 2014

(Mencari Aku dalam AKU)

Di malam-malam gelap tanpa bintang itu. Ketika suara hujan bercampur tangisku menjadi sahabat menemani tidur. Kala tidak ada yang mau mendengar teriakan-teriakan dari dalam diriku. Aku sibuk mencari bantuan. Aku sibuk mencari obat untuk luka hatiku. Dan tak ada yang mampu memberikan itu semua.
Aku terus mencari, hingga aku meninggalkan apa yang selalu bersamaku. Aku mencari seseorang untuk mendengar namun mereka tidak menerima. Hingga tinggallah aku bersama topeng-topeng tebal ini.
Aku terbelenggu topeng-topeng ini.
Dalam teriakan lukaku, aku tertawa.
Dalam baluran perih hatiku, aku tersenyu.
Terbesik dalam benakku, aku ingin katakan bolehkah aku menjadi aku sebagai manusia tanpa topeng ini.
Hatiku perih. Ini bukan hanya menjadi cerita pada malam-malam tanpa bintang.
Jiwaku sepi, kala semua orang sibuk berbincang dan aku harus tertawa bersama mereka.

Dan kamu tak pernah peduli pada aku dan lukaku.
Dan kamu meninggalkanku tanpa kata.
Dengan sejuta makna. Dengan ribuan tanya.

Sakit ini menjadi saksi betapa tengarnya aku melawati jalan penuh liku tanpamu.
Saat kamu tak melihatku.
Saat kamu tak pernah menginginkanku.
Saat kamu tak menginginkanku di sisimu.
Dan hingga kamu meninggalkanku.

Hari ini, 100 hari setelah kepergianmu.
Hingga kita terpisah lautan ratusan kilometer.
Tanpa aku tahu bagaimana kamu disana.
Kamu dan aku memiliki kesempatan yang sama bertemu entah siapa untuk sama-sama dewasa.
Belajar menjadi dewasa tepatnya,
Entah sampai kapan kita terpisah.
Entah kapan waktu akan mempertemukan kita.
Tapi hari ini aku berdiri.
Tanpamu disisiku.
Dan tak lagi meresahkanmu bersama siapa disana.
Aku tak tahu.
Aku tak yakin,
Kadang luka ini masih terasa perihnya.
Tapi aku, aku, aku hanya berdiri besama diriku.
Menunggu seseorang yang tepat menghampiriku.

#Sudah begitu saja caraku merindukanmu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar