Dalam kondisi terberat, tentunya kita menginginkan bantuan dari orang lain. Sayangnya, ketika saya merasa butuh bantuan, seseorang yang saya harapkan bisa membantu, belum mampu melakukan apapun saat itu. Beliau kemudian pergi meninggalkan saya dan rasa berat yang saya miliki. Sayang mengingat diawal-awal masa perkuliahan beliau memberi sebuah pesan,
"jika kamu ingin mengubah lingkunganmu, ubahlah"
"namun jika tidak bisa tinggalkan"
"jika tidak bisa ditinggalkan, cukup dengan terima."
Itu kata-kata yang cukup menguatkan ketika pertama diterima. Kata-kata yang cukup ampun untuk beberapa bulan, hingga semua perubahan terjadi dalam hidup saya. Dan kemudian, kata-kata itu luntur fungsinya. Saya jadi kebal. Kata-kata bijak? Otak saya akan langsung merespon, "alah, apa itu."
Lalu bagaimana saya tetap bertahan? Saya mencoba mencari bantuan.
Banyak bantuan bisa saya temukan. Orang datang silih berganti memberikan pembelajarannya. Sayangnya, kekebalan dan ketebalan hati yang sedang luka tidak mampu melihat semuanya. Telah membutakan.
Teman dan sahabat. Tentu mereka mendukung. Kemana seseorang datang meminta bantuan ketika orang terdekat (anggaplah keluarga) dianggap tidak berfungsi sebagaimana mestinya? Sahabat. Ya, tentu saja. Santi, Desak dan Dewi. Orang yang penuh pengertian dan sabar ketika saya menangis padahal kita harus mengerjakan tugas (lucu juga ya kalau dipikirin sekarang). Sahabat-sahabat yang baik telah membantu saya bertahan. Sayangnya, itu tidak cukup memuaskan. Kesepian tetap menguasai sebagian hati. Kekosongan.
Dosen dan orang-orang optimis. Kekosongan yang masih terjadi tentu membuat seseorang akan tetap mencari bantuan. Begitu juga saya. Kemudian bantuan datang dari beberapa guru. Ada guru yang saya sebut 3D & 2PA (baca two pi ei, ini kayak band korea ya). Yang pertama adalah dari 3D. Adalah bu Diah F, orang pertama yang membantu saya, kemudian harus pergi. Masih dari 3D datang bantuan dari Bu Debi, orang yang sangat baik, optimistik dan strong (menurut saya). Banyak hal yang diajarkan. Ajaran yang bertahan beberapa bulan dan kemudian kalau datang sedikit tantangan lagi, semuanya jadi melumer diotak saya.Ibarat obat, saya resisten. Walaupun beberapa hal tetap menjadi pembelajaran. Kemudian, saya sebut ini 2PA. Bu Putu kemudian memperkenalkan saya dengan Bu Ari. Entah ikatan karma apa yang kami miliki di kehidupan sebelumnya, bu Ari mengajarkan saya satu hal dan itu membuat saya berjalan lalu mengingat kembali setiap ajaran dari guru-guru sebelumnya. Obat yang pernah diberikan oleh guru-guru sebelumnya tidak lagi resisten. Justru membuat saya menjadi kuat. Mungkin terjadi mutasi gen. (cerita tentang bu Ari Apa itu tidak apa-apa). Kemudian, beberapa hal yang saya pernah lakukan sebelum semuanya berubah saya kembali rindukan.
Kerinduan yang membuat saya membuat ikatan karma dengan seseorang dari 3D, bu Diah. Tapi bukan Bu Diah yang sedang pergi. Ini adalah Diah L. Beliau mengajarkan tentang semangat hidup dan menanam karma. Menumbuhkan lagi semangat untuk mengetahui bahwa "setiap orang mampu menjadi orang hebat." Cerita-cerita yang membuat saya mengerti bahwa benar ketulusan akan melahirkan buah yang manis. Hanya kebaikan yang akan melahirkan kebaikan. Kata yang tetap saya ingat, "tanam, lepaskan."
Kemudian masih banyak lagi orang-orang yang mengajarkan saya untuk bertahan. Langsung tidak langsung.
Singkat cerita, saya bertemu teman-teman dalam hening. Ya, sebuat saja saya belajar meditasi. Awalnya sih pengen banget belajar melepaskan kemelekatan pada masa lalu. Tapi ternyata yang didapatkan lebih dari itu. Saya tidak dapat cerita lebihnya itu apa, yang pasti sebuah perubahan dalam hidup saya telah terjadi. Berubah. Semua berubah. Kemudian berubah lagi. Berubah terus. Berubah tak mungkin tak berubah. Hingga kapan? Ah, siapa yang tahu. Karena perubahan inilah semua menjadi seru.
Orang-orang kemudian datang silih berganti. Itulah perubahan yang paling nyata. Perubahan yang akhirnya memberi banyak pembelajaran. Hingga akhirnya ....
bersambung (the end)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar