Rabu, 01 April 2015

Perjamuan Diantara Keheningan


Aku melihat jelas wajahmu dari kejauhan sama memanggil nama Silla. Mengejar. Melintasi mobil yang berlalu lalang. Melewati langkah-langkah puluhan orang. Berpacu bersama waktu mencengah si cantik Silla pergi meninggalkanmu. Jelas sekali kudengar suaramu saat berkata dengan wajahmu yang syahdu itu, "Tolong tetap tinggal."

Dan dia tetap meninggalkanmu kan? Hingga kita bertemu dalam perjamuan di siang hari itu. Aku tak pernah menyangka, kamu yang tak aku lihat adalah apa-apa. Kamu yang aku pikir saat itu hanyalah lelaki lemah tanpa suara. Mudah menyerah. Dan hanya mampu berkata,"tolong tetap tinggal." Lelaki yang sangat tidak menarik bagiku ketika itu.

Ah, aku tak pernah menyangka, aku mengingat jelas banyanganmu ketika kita bertemu hari itu. Kita yang tidak saling mengenal tapi kini begitu akrab. Keakraban yang kadang membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Beterbangan hingga jantung. Menggelitik hati. Mewarnai hari. Membuatku merindu sebelum tidur lelapku.

Apa ini cinta? Bagaimana kalau kita anggap iya. Aku tahu rasa di hatiku dapat kusebut cinta. Cinta masa muda diantara pertumbuhan menuju kedewasaan ini. Aku yakin pada rasa yang kumiliki. Hanya saja, aku tak yakin padamu. Wajar bukan?

Aku mengingat jelas bagaimana putus asanya dirimu dihari itu. Masih jelas diingatanku bahwa mukamu bersemu syahdu ketika namanya di bahas. Silla. Iya, aku tahu betapa cantiknya dia. Aku tahu betapa pintarnya dia. Wanita yang sempurna dimatamu. Terkadang aku ingin mengatakan, "Tapi dia telah memilih kehidupannya, Ra."

Sayangnya, tak satupun kata bahkan huruf itu keluar dari mulutku. Sayangnya itu terus tertahan di hatiku. Mengendap. Menguap bersama rasa cinta yang terus aku sampaikan dalam doaku. Dalam kehingan aku selalu berusaha berkata pada hatimu, "di sini aku merindukanmu dengan cinta tanpa serpihan di hatiku." Berharap hatimupun lapang. Melepas masa lalu. Menyediakan sedikit tempat untuk aku. Sampai suatu titik aku tersadar, pertemuan-pertemuan kita terlalu erat. Terlalu rapat. Tanpa jeda. Mengutip kata Dee, kita baru bisa saling menyayangi jika ada ruang. Mungkin kamu butuh ruang. Aku dan kamu butuh jeda hingga akhirnya bisa menyepakatkan hati. Apakah begitu?
Ah, aku tak tahu pasti Nara.

Kamu adalah wajah yang sulit aku tebak. Kamu yang manis namun terkadang membuatku bingung. Baiklah, jika memang kita butuh jeda, maka kepergianku adalah cara terbaik membuatmu bahagia kan? Jika nanti suatu hari kita bertemu, kemuadian aku dan kamu saling jatuh cinta kembali untuk kedua kalinya, maka itu adalah cara terindah hidup mempertumukan kita. Indah bukan?

Sayangnya, mungkin saja kamu tidak pernah mencintaiku seperti yang aku banyangkan selama ini. Toh, kini saat aku melangkah mantap di depanmu menuju pintu penerbangan, kamu tidak memanggil namaku. Suaramu tak pernah kudengar. Yah, kini aku tahu jika rasa yang aku miliki hanyalah rasa milikku bukan milikmu. Hatimu masih belum melupakannya ya?
Ya, aku paham.
Karena jika kamu memiliki rasa yang sama yang kita sebut itu cinta, maka akan ada sebuah perjuangan bukan. Kamu tahu, kenapa perjuangan itu ada?
Satu jawabannya adalah "CINTA", ketiadaannya akan meniadakan perjuangan. Jadi, jelas bukan?
Rasa di hatimu kamu sebut itu apa?

Jika kamu pernah memperjuangkannya bersama rasa benama cinta, lalu kenapa kamu tidak memperjuangkanku juga? Terimakasih atas jawaban yang tak pernah kamu ungkap. Tak pernah kamu katakan. Tapi aku tahu pasti dari setiap ketiadaan perjuanganmu. 

Adalah sebuah pesan terakhir yang berani aku kirimkan melalui ponselku. Menghantarkan penerbanganku menuju kehidupan baru. Ketika pesawat lepas landas, aku suka sekali melihat wajahku di cermin. Aku tahu, kalau akan ada saat kita bertemu dan berpisah. Jika kita kembali bertemu dalam sebuah kisah berbeda namun tetap membuatku jatuh cinta, maka kamu adalah kehidupan terbaik yang pernah aku miliki. Dan selamat tumbuh menikmati hidupmu dengan segala senyuman tanpa aku, cinta yang tulus. Yang selalu merindukanmu. Memperjuangkanmu dalam setiap doa di kehenigan malam. Dalam pertemuan bersama hati yang suci. Di sini perjamuan diantara keheningan bersama hati, cinta, dan nafas.


-Naya Kanata-
April 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar