Melepaskan? Penahkah kamu melakukan itu?
Entah itu melepaskan orang yang kita cintai? Melepaskan jabatan yang telah lama kita kejar? Melepaskan pekerjaan yang telah lama kita kerjakan? Atau melepaskan apa yang membelenggu jiwa? Sulitkah melepaskan? Ah, itu persepsi masing-masing orang saja.
Melepaskan. Banyak orang mengaitkan melepaskan ini dengan sebuah kehilang. Tapi adakah yang pernah memandang kalau melepaskan adalah sebuah proses mendapatkan?
Aku. Aku memandangnya seperti itu. Beberapa waktu lalu aku masih memandang bahwa melepaskan adalah kehilangan besar dalam hidup. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi jalan melangkah kedepan. Terbelenggu ketakutan akan "melepaskan". Ketakutan yang akhirnya membuat semua jalan lainnya tidak terlihat. Hingga akhirnya aku belajar arti "melepaskan" yang sesunggunya.
Melepaskan adalah bagian dari proses mendapatkan. Manusia hanya punya dua tangan untuk menggenggam. Dua tanggan itu memperingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang kadang lupa hingga kita serakah ingin mendapatkan ini dan itu. Tapi dengan dua tanggan itu, kita bisa ingat bahwa kita bisa memiliki tapi jika kedua tanggan kita sudah terisi kita punya sebuah pilihan "melepaskan" untuk bisa mendapatkan apa yang belum ada di tangan kita. Begitulah kita bisa belajar melepaskan untuk mendapatkan.
Tahun ini, aku belajar banyak tentang melepaskan. Tentang keluarga yang tidak lagi utuh. Dan aku belajar melepaskan masa lalu bersama mereka untuk mendapat keluarga di masa depan yang lebih baik. Aku belajar banyak tentang kemandirian. Mengerjakan semua sendiri. Mencintai apa yang sudah aku miliki. Entah itu teman, saudara, atau lainnya.
Tahun ini, aku belajar melepaskan cinta 'romantis'-ku. Kisah cinta yang bahkan belum sempat aku jalin. Bukan satu, bahkan dua. Oh, bukan cinta ya, tapi orang yang aku cintai secara romantis. Seorang cinta pertama yang selama 6 tahun tak pernah melihatku sebagai sosok perempuan yang menarik. Hingga aku menyadari cinta pada karibku sendiri. Cinta yang membuatku terbelenggu dan merasa tidak percaya diri. Karena karibku itu seorang yang penuh wawasan, tampan, dan pastinya menarik bagi banyak wanita. Hanya saja aku mencintainya. Kemarin, ya tepat kemarin lusa, aku berusaha menemuinya. Sayangnya jodoh tidak mempertemukan kami. Sejak saat itu, aku belajar mengenai "melepaskan" harapan. Aku berharap kami bertemu. Tapi jodoh yang tidak mempertemukan kami, aku anggap semua adalah pembelajaran menerima untuk yakin bahwa peristiwa ini ada maksud dan tujuannya di depan nanti. Aku melepaskan harapan bisa bersamanya dan menganggapnya sebagai masa lalu. Aku melepaskan cintaku padanya agar tidak terbelenggu dalam kesedihan karena kami tidak bersama. Ya, sudahlah. Tidak apa jika kami memang tidak dipertemukan kembali entah sampai kapan. Yang aku tahu kami sedang diajarkan untuk sama-sama dewasa dengan hidup kami masing-masing sekarang.
Tahun ini, aku belajar banyak tentang melepaskan ekspektasi yang terlalu tinggi dan menerima keadaan ini sebagai sebuah hal yang membahagiakan. Melepaskan kekecewaan pada seseorang (atasanku #anggap saja begitu). Aku belajar banyak tentang menjadi dewasa. Di tahun ini aku dipercaya memegang sebuah divisi. Dengan begitu, setiap bulang aku mendapatkan tambahan uang jajan yang cukup banyak untuk seorang mahasiswa sepertiku. Dengan begitu juga, maka ada tanggungjawab-tanggungjawab yang harus aku selesaikan. Bergandengan dengan rasa yang aku tahu, aku mendapatkan sesuatu aku rasa aku harus bertanggungjawab dengan kewajibanku. Semampu aku telah berusaha untuk menjalankan semuanya. Sejauh ini, aku pikir aku telah menjalankan apa yang harus aku kerjakan. Tapi, mungkin baginya mungkin aku tidak memuaskan. Kerjaku tidak bagus. Entah aku lupa, atau tidak ingat, aku tak pernah mendengar dia memuji pekerjaanku. Dia tak pernah memintaku mengerjakan hal-hal baru seperti teman-temanku yang lain. Disaat itu, aku sadar aku mulai iri dengan kehidupan teman-temanku. Sejak dulu, aku tahu aku telah berusaha. Lagi-lagi mungkin aku tidak disadari. Di saat teman-temanku mendapatkan sebuah kesempatan pergi ke luar, tidak denganku. Maksudku, kupikir kesempatanku tidak sebanyak mereka. Oh, aku tahu aku sudah mulai tidak baik dengan mendambakan kehidupan orang lain. Belum lagi, teman yang tidak kondusif untuk bekerja sama namun tak ada tindakan tegas yang aku lihat. Aku mulai muak dengan semuanya. Di situ aku tahu harus berhenti. Aku berhenti sejenak, hingga aku sadar jika aku mencintai apa yang aku kerjakan. Namun, ada saat-saat ketika aku mulai muak dan marah dengannya. Seperti misalnya ketika dia menawariku sebuah kesempatan untuk mengikuti pelatihan, namun dia akhirnya menunjuk orang lain yang akhirnya tidak berkontribusi selanjutnya. Atau disaat temanku ditawari sebuah kesempatan namun aku tidak. Begitulah aku terkadang muak dengan kondisi-kondisi dalam organisasi ini. Tapi, aku tetap bertahan. Bodoh mungkin kedengarannya. Terserahlah. Tapi bagiku, cuma cinta yang mampu membuatku seperti ini. Aku mencintai apa yang harus kukerjakan hingga aku memilih bertahan. Tapi aku tahu, akan ada saat aku harus berhenti. Akan ada saat, dimana aku rasa cukup untuk memberi cintaku disini. Akan ada saat dimana lebih baik aku melepaskan apa yang selama ini aku cintai, melepaskan tambahan uang jajan dan melepaskan apa yang aku sebut tanggungjawab untuk lebih mencintai diriku sendiri. Saat itu adalah ketika aku tahu bahwa jika aku tetap disini maka aku tidak akan berkembang. Aku tidak akan mampu mewujudkan mimpi-mimpiku. Saat aku tahu bahwa aku tidak memiliki kesempatan seperti yang lain. Diluar kekecewaan itu semua, aku tahu tempatku sekarang adalah tempat terbaik untukku belajar tentang arti MEMAAFKAN kekecewaan. MENERIMA semua hal yang terjadi. Dan, disaat itu juga aku belajar arti kata MENCINTAI secara universal. Membagi CINTAku kepada lebih banyak orang. Mencintai dengan TULUS. TULUS yang diajarkan oleh seseorang paling aku kagumi adalah "KERJAKAN" LUPAKAN. Dosenku, Bu Diah Lestari mengajarkan itu padaku. Aku belajar banyak tentang perlakuan orang-orang kepadanya. Di saat beliau seharusnya memiliki kesempatan yang sama namun beliau tidak diberikan haknya. Tapi beliau bekerja karena cinta. Aku belajar banyak dari beliau dan aku tahu bahwa Tuhan tidak tidur dengan keadilannya. Walaupun manusia berusaha adil, tapi aku tahu manusia tidaklah bisa adil seadil tuhan. Jadi, aku percaya apa yang kukerjakan cukuplah dilihat Tuhan.
"Ibaratnya. Sebagai orang tua dengan banyak anak, pasti lelah memikirkan untuk bisa bersikap adil. Percaya dan yakin kok kalau sudah ada sebuah usaha untuk adil walaupun pada akhirnya hasilnya tak menunjukkan itu. Pasti adalah berat sebelah. Makhlumlah. Kan cuma tuhan dan karma yang bisa adil. Mana ada manusia yang sempurna. Lagipula adil itu kan gak harus sama."
Tapi sungguh, apapun yang terjadi padaku, APAPUN itu, aku menerima dengan senang hati (walau beberapa ada yang diawali dengan kesal) namun aku tahu semua sudah ada jalannya. Aku kini berbahagia dengan semua yang telah terjadi. Begitulah aku mencintai semua yang datang padaku dengan segala waktu dan kondisi. Aku mencintai semuanya. Mencintai hidupku.
"Love is art. Art of love. Seni mengendalikan amarah. Cemburu. Sedih. Melepaskan. Mendapatkan. Memaklumi. MENERIMA hingga kebahagian menjadi sebuah hadiah setiap waktu dalam segala kondisi. " -Naya-
Tahun ini aku belajar banyak tentang melepaskan. Aku melepaskan harapanku mendapatkan pacar. Diusiaku yang sekarang, melihat teman-temanku pacaran dan aku tidak tentu punya sensasi tersendiri di hatiku. Tapi, aku tahu bahwa aku telah memiliki jalanku sendiri untuk bertemu dengan calon ayah dari anak-anakku itu. Kemarin seseorang teman di Viharaku bertanya tentang kriteria yang aku inginkan. Ehmm.. bingung juga ya ditanya seperti itu. Dia juga bertanya apa aku menginginkan pria kaya? Hahahaa, menurutku pria kaya itu pria paling gak menarik kecuali dia cakep. Pria paling cakep adalah ketika seorang pria itu memiliki wawasan yang luas (kayak jaringan operator) jadi nyambung ya diajak ngobrol, bertanggungjawab sama pekerjaannya (well, bisa dibayangin dong kalau nanti dia jadi seorang ayah), bisa diajak olah raga bareng, dan gak nganggep aku aneh karena aku baru sadar aku seorang introvert yang pastinya butuh waktu buat sendiri di saat tenagaku begitu terkuras karena bertemu banyak orang. Dia akan tampak begitu menarik ketika dia membaca buku, bekerja, dan berolahraga. Kalau dia bisa aku ajak travelling bareng itu bakalan lebih bagus lagi. Hehehee... aku tahu dia tidak hanya ada dihayalanku. Aku tahu kami akan dipertemukan suatu saat nanti disaat dan waktu yang teman. Hanya saja sekarang kami terpisah ruang dan waktu agar kami sama-sama belajar menjadi dua manusia utuh yang akan saling menerima perbedaan yang ada di diri kami nanti. Sampai saat itu tiba, kepadanya yang belum pernah aku temui, aku akan menjaga diriku dan belajar menjadi dewasa. Aku akan bersabar menunggu kita dipertemukan diwaktu yang paling tepat di sebuah tempat terindah. Untukmu, cinta yang belum pernah aku temui, aku harap kamu sedang baik dan berbahagia hari ini. I Love you the way you're.
Well, sudah ya itu aja. Semoga kalian gak muak baca tulisan ini. Ambil yang baik aja ya, yang jelek gak usah dipedulikan.
(Sumber gambar : https://www.google.com/search?q=melepaskan&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=MbJqVNPcDoW_uASVtYGACw&sqi=2&ved=0CAYQ_AUoAQ#facrc=_&imgdii=_&imgrc=gIK9rs3nq6taYM%253A%3B28vd1lPlHPJICM%3Bhttp%253A%252F%252Fberhati.com%252Fwebdata%252Fnews%252F1376455869_news_Berani-Melepaskan%252Fheadline.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fberhati.com%252Fhome%252Fnews%252F2013%252F08%252F14%252F339%252FBerani-Melepaskan%3B400%3B300)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar