Ceria. Itu namaku. Pemberian tidak resmi dari keluargaku. Kusebut tidak resmi karena nama itu bukanlah nama yang tertulis di akta kelahiranku. Tidak tertulis juga di seluruh ijazahku sejak TK sampai aku sekarang kuliah. Tidak tertulis di satupun sertifikat yang aku kumpulkan. Ceria hanyalah sebuah nama ketika aku kecil. Nama yang terbawa hingga sekarang. Sebuah nama penuh sejarah.
Konon katanya nama itu diberikan karena senyumku. Hohoo, bukanya ke GRan atau terlalu PD ya, tapi kata keluargaku senyumku itu bawa keceriaan bagi mereka. Aku hidup dalam keluarga yang keras, tapi aku masih bisa tersenyum. Itulah yang membuat mereka lebih suka memanggilku Ceria dibandingkan nama asli yang tertera di akta.Nama dan cerita itulah yang selalu membuatku kuat ketika aku terluka. Hingga suatu hari aku pernah lupa cara tersenyum.
Itu terjadi ketika orang yang aku sukai menjadi pacar orang lain. Ah, siapa sangka ternyata aku mengalaminya lagi tiga tahun kemudian. Tapi dengan kasus yang berbeda. Kali ini, keluarga sebagai penguatkulah yang hancur. Ternyata itu tak cukup bagi tuhan untuk mengajariku arti bertanya, disaat yang bersamaan pula aku menyadari cintaku yang baru. Bukan kesadaran yang membuatku semakin kuat. Tapi kesadaran yang membuatku semakin rapuh karena hari itu aku termakan cemburu yang tak tanggup aku bendung selama berbulan-bulan. Oh, kenangan menyakitkan penuh pembelajaran dan kelucuan jika diingat. Kenangan tentang menemukan cinta sejatiku. Cintaku. Cinta yang kini dihadapanku. Calon ayah dari kehidupan mungil di perutku hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar