"Aku punya pacar, aku sih pinginnya dia bla bla bla bla tapi dia gak bisa bla bla bla"
Itu kalimat yang sering aku denger beberapa hari belakangan ini. Tentang keinginan, tapi tidak mampu terpenuhi. Namun orang masih menginginkan dan menuntut. Beberapa waktu yang lalupun ada teman yang mengeluh karena telah punya pasangan dan ingin tidak punya pasangan. Di lain waktu seorang teman lainnya mengeluh karena belum punya pasangan. Yang sudah punya pasangan menuntut pasangannya menjadi apa yang diinginkan.
Well, aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati "human oh human". Yang sudang punya begini ingin begitu. Yang sudah punya begitu ingin begini. Oh, maumu apa toh?
Pertanyaan itu juga menyadarkanku, mauku apa toh?
hehehe, Setahun lalu, 2014 adalah tahun yang berat bagiku. Ketika keluargaku tidak lagi menjadi keluarga seperti dulu. Ketika orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Ketika merasa semua kerja kerasku terasa sia-sia. Ketika aku merasa rekan kerjaku tidak menghargaiku. Ketika aku merasa teman-temanku tidak menganggapku teman. Ketika aku merasa atasanku tidak menghargai apa yang telah aku lakukan. Dan ketika itu pula aku merasa depresi. Ketika hari itu keinginan bunuh diri sekali dua kali terbesik dipikiran. Kapankah itu?
Adakah yang memperhatikan bahwa "KETIKA AKU MERASA" ....
Kata merasa jelas mengisyaratkan itu semua hanya ada dipikiranku. Ya, ketika aku merasa maka aku mulai menuntut bukan sekadar mengharapkan. Dengan tuntutan itulah maka pikiran akan terbelenggu. Ya, begitu juga cara terbaik untuk tidak membebaskan jiwa.
Syukurnya sekarang udah tobat. Eh, maksudnya syukurnya beberapa kejadian dalam hidupku itu membuatku tersadar bahwa menuntut orang lain tidak akan menghasilkan sesuatu. Maka aku mulai menerapkan "sudahlah". Dengan begitu aku belajar mengalir dan dengan mengalir semua tampak lebih indah.
Sekarang, .... BERSAMBUNG, But I love my life...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar