Jumat, 13 Juni 2014

I Can't Speak Part I

Hari ini gue lagi duduk di beranda rumah dengan perut yang super buncit dan bakalan tambah buncit lagi dua bulan mendatang. Terus membuncit dan bikin tubuh gue makin melar gak jelas. Dan, dan kayaknya gue bakalan ngerasa gak seksi sama sekali dua bulan mendatang. Walaupun kata cinta gue, gue lebih seksi dari Angelina Jolie. Gue harap juga gitu. Tapi kenyataannya itu, tubuh gue dengan suburnya melar. Memekar dan gak kayak bunga. Tapi satu hal yang tetep bikin gue PD ke mana-mana karena cinta gue tampan dan ganteng ini tetap mau nemenin gue kemanapun gue mau. Hahahaha, itu bikin gue bersyukur.

Sometime, kalau gue lagi jalan sama cinta gue ini dan ketemu temennya yang jadi model, gue ngerasa gue enggak banget ya buat cinta gue. Ya, ampun gue itu beruntung banget bisa sampe dapet ni cowok. Kadang gue mikir sendiri, gue pake pelet apa ya ampe ni cowok nempel gini sama gue dan sekarang bakhan di perut gue sekarang lagi ada juniornya dia, hehehe. Uhm, pake pelet apa coba gue? Loe semua mau tahu gak? Gue cuma punya satu pelet yaitu cinta yang tulus.

Itu jawaban gue jujur kalau teman-teman gue yang baru kenal cinta gue ini syok ngeliat kami jalan bareng. Gak bisa gue pungkiri yaang, untuk ukuran cewek itu gue itu standarnya pake banget. Tinggi gue cuma 153 doang, walaupun masih dibilang proporsional ya dengan berat badan 50 kg (dulu waktu gue belum isi makhluk lucu diperut gue, sekarang jangan tanya). Kulit gue sawo matteng gak jelas gitu. Satu sih yang bagus di gue (itu menurut teman-teman gue), taraa, itulah rambut gue. Rambut gue lurus secara alami dan item. Rambut gue setipe sih sama rambut cinta gue ini. Dan, cuma itu persamaan kami. Sisanya, cinta gue ini manis manget. Loe pada tahu artis Thailand Mario Maureel kan? Nah, cinta gue mirip banget sama itu. Senyumnya,wajahnya, mata sipitnya. Bedanya sama si Mario itu ya cuma satu, orangnya. hehehe, Oiya, cinta gue ini bisa dibilang putih lah untuk ukuran cowok. Dulu ya, waktu pertama kali kami berenang bareng, gue sempet minder liat warna kulitnya. Dibandingin sama kulit gue, miris gue. Yah, kalau ada dongeng yang bilang beauty and the biz, nah gue ini charming and the standar (asal banget). wkwkwk. Yah, intinya gue standar dia itu cakep banget di mata gue. Gak tahu ya, gimana gue dimata dia, secara dia gak pernah muji gue. Gak waktu nembak, gak waktu jadian, gak waktu malam pertama, dan gak sampai sekarang. Jadi bingungkan kenapa dia jatuh cinta sama gue. Ah, gue aja bingung.

Walau dia gak pernah muji gue (atau sebenarnya dia pernah muji tapi gue gak inget? entahlah. Ntar deh gue inget-inget lagi), gue tetap cinta setengah hidup sama dia. Eh, cinta pake banget sekali teramat sangat loo. Karena dia itu cintaa gue. Cinta sejati gue. Cinta yang sangat lucu perjalanannya.

"Kenapa?" tanya cinta gue, narik gue dari dunia memori alias ngejutin gue. Bukannya tadi dia lagi baca koran ya? Diliatnya gue lagi senyum-senyum sendiri kali ya.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" jawabku, membuatnya menarik nafas panjang dan bilang, "ya udah gak usah dikasi tahu."
"Okee, manis" jawabku mendaratkan ciuman lembut di pipi kanannya.
Weist, apa kalian pikir kami marahan? Nononooo, kalian salah. Tapi memang begitulah komunikasi kami setiap hari. Apa terlihat dingin? Sebenarnya gak juga sih, cuma kami saling menghargai. Tepatnya aku mencoba mengerti setiap apa yang dia inginkan. Setiap hal lo, dan apa kalian berpikir ini sulit? Tidak, ini tidak sulit. Ini sangat mudah, karena aku melakukannya dengan setulus hati dan tanpa mengharapkan dia juga mengerti seperti apa yang aku inginkan. Apa aku bodoh?

Gue sendiri akan memberikan pembelaan kalau setiap orang boleh berpikir apapun tentang gue dan sikap gue terutama ke cinta gue ini, tapi gue pribadi berpikir gue gak bodoh. Karena dengan semua hal yang gue lakuin sama dia gue bahagia selama dia gak melanggar hal-hal yang kami sepakati di awal pernikahan kami. Gue gak pernah merasa keberatan buat nurutin kemauan dia yang masih masuk akal. Gue juga gak pernah mau maksaain apa yang gue mau ke dia. Gue cukup minta sekali, kalau dia gak mau ya udah. Itu yang dia latih ke gue sejak kami temenan sampe sekarang kami resmi jadi keluarga. Gue juga sama sekali gak mau ngontrol dia. Karena kalau gue mulai ngontrol dia, guelah yang akan sakit sendiri.Rasa sakit yang ngingetin gue pada masa awal gue baru sadar kalau gue jatuh cinta sama cinta gue ini.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar