Hey, Dia lelaki di dalam hening. Ketika kami bertemu pertama kali di dalam keheningan. Ia, dia adalah lelaki dalam hening yang tercipta dari keheningan sebuah kebersamaan,
Lelaki tanpa kata bersemayam di sebuah hati penuh kebeningan.
Dia lelaki di dalam hening bersama kami bertemu di sebuah keheningan tanpa banyak bicara.
Dia lelaki di dalam hening namun tak mampu kami bergeming. Ia, ya dia lelaki di dalam hening bertemu diantara bening membuat kami tak bergeming. Ia HENING.
Minggu, 12 April 2015
Kamis, 09 April 2015
Cheers, Keep Strong and Smile
"How we let our hearts be strong"
Seberapa sering hidup mengecewakanmu?
Membuatmu terangkat lalu terjatuh tertimba roda bernama nasib?
Seberapa sering sakit rasa kecewa itu membuatku terbelenggu? Merasakan merananya turbulensi kehidupan?
Menyakitkan? Sedih? Sebal? Takut kecewa lagi?
Haha, manusia mana di dunia ini yang tidak pernah kecewa. Manusia mana juga yang tidak mengecewakan. Keinginan kita terhadap sesuatu. Harapan yang terlalu tinggi akan sesuatu ataupun seseorang sering kali menghadapkan kita pada kekecewaan. Tapi, bukankan kekecewaan itu mendewasakan?
Mari kita ingat, kapan terakhir kali kita dikecewakan oleh sesuatu atau seseorang?
Tadi. Semalam. Kemarin. Kemarin lusa. Atau telah lama berlalu.
Kecewa pada dasarnya emosi yang wajar. Wajar dong kita kecewa ketika tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Wajar juga kita kecewa ketika kita telah berharap tapi tidak terjadi. Sayangnya, kita akan bersedih jika sesuatu terjadi ketika tidak sesuai harapan. Yah, wajar. KECEWA wajar.
Tapi bukan seberapa sering hidup mengecewakan kita. Bukan seberapa sering harapan menjatuhkan kita pada lubang bernama kekecewaan. Kekecewaan mengajarkan kita untuk tetap berharap sekalipun hidup atau seseorang atau sesuatu terjadi tidak sesuai harapan. Ya, hidup dan kekecewaan membuat kita bisa lebih bersahabat kepada sisi lain kehidupan bernama HARAPAN. Begitulah hidup terkadang menguatkan hati kita. Kuat bersama harapan yang terkadang pupus tapi tetaplah memiliki harapan. Jadi, seberapa sering hidup membuatmu merasa kecewa? Masihkah kita memiliki harapan?
Mari tetap berharap pada kehidupan yang akan mengajarkan kita mengenai kedewasaan.
Seseorang yang kuat adalah seseorang yang telah jatuh berkali-kali tapi tetap hidup bersama harapan.
Selamat bertumbuh,
Selamat bersahabat bersama harapan dan kekecewaan,
Cheers, Keep Strong and Smile
-Naya Kanata-
Senin, 06 April 2015
CLBK
CLBK ... Pernahkah mendengar singkatan itu?
Yup, CLBK atau cinta lama bersemi kembali.. Hehehe, karena dalam perjalanan beberapa hari lalu saya lagi ngebahas CLBK SD dengan seorang dosen jadi saya pingin nulis topik ini.
Um, kalau bagi saya sih CLBK itu CINTA LAMA BELUM KELAR.
Yah, biar itu tidak terjadi makanya ya kelarin dong. KELARIN.... wkwkwkw
Pada pernah dong, suka sama seseorang tapi dipendam lama, lama hingga akhirnya membusuk dan rasa itu menghilang. Atas disimpan selamanya hingga sekarang. Gak pernah disampaikan. Saya gak paham ya kenapa ada kisah seperti ini. Tapi saya percaya ini pilihan. Btw, mungkin semua atau yah sebagian besar dari kita mungkin mengalaminya. Sebuah kisah yang tak pernah diakhiri atau bahkan berakhir sebelum dimulai. Yahaaa,... Saya sendiri pernah mengalaminya. Yup....Kisah yang diakhiri sebelum semua kisah itu dimulai.
Jadi ceritanya begini, wkwkwk... (Saya udah nahan tawa setiap mengingat kisah ini).
Nah, ceritanya ketika itu adalah aku yang masih unyu-unyu dan baru mengenal cinta pertama. Bertemulah saya dengan seseorang yang cerdas dan dikagumi banyak orang. Pemenang sebuah olimpiade (Sekalipun saya ikutan olimpiade tapi karena gak pernah dapat juara 1 jadi tetap aja jadi kagum sama dia yang dapat juara 1). Dan, ternyata kami memiliki jumlah pertemuan yang cukup banyak. Di kelas. Di organisasi. Sayangnya ya, dia gak pernah menghubungi saya. Sayangnya lagi, saya salah paham mengira dia bisa suka saya. Ehmm, anggaplah saya ngasi kode ke dia. Dan entahlah, mungkin dia tindak menbaca kode saya. Atau seringnya saya juga merasa dia ngasi kode ke saya. Dan jadilah kami main kode-kodean hingga 6 tahun (OMG, udah kayak pramuka aja. Kode dan morse..) Sayangnya semua itu cuma sekadar kode. Dan gak pernah berlanjut menjadi sebuah hubungan yang serius. Serius demi kaki ikan, gue akhirnya ketemu cowok yang buat gue bisa move on.
Karena ketemu nie cowok gue jadi belajar banyak kalau cinta itu butuh keberanian, man. Gue banyak mereview kehidupan gue sama si kode morse ini. Ehm, benar. Aku gak pernah berani menunjukkan secara jelas maupun mengutarakan bahwa aku menyukainya. Kami cuma main kode-kodean.
Jadi itu cinta yang gak pernah kesampaian kan? Ups, maksudnya gak pernah aku sampaikan. Dan, kemudian kami bertemu dalam sebuah pertemuan (emang dasarnya tetap sering ketemu sih walaupun udah pisah sekolah tetap satu kampus). Untungnya ya, dikamus hidup gue gak pernah yang namanya CLBK.
Jadi apa yang telah terjadi udahlah. Loe dan Gue udah. Udah selesai. Dengan bertemunya dengan orang baru ini maka berakhirlah sudah semuanya. Gimana caranya kelarin?
Kelarin sebuah kisah itu sebuah prinsip hidup, man. Kalau gue sih, apa yang sudah berakhir ya sudah berakhir. Ketika udah memiliki kehidupan baru maka ya sudah apa yang sudah lewat maka tidak berhak mengusik hidup gue lagi. Kenapa? Karena menurut gue, dia yang dulu pernah pergi adalah dia yang gak pernah menghargai gue. Atau orang sering bilang, "ada yang lebih baik buat kita". Jadi, ketika dia udah pergi, udah. Udah gue gak akan meletakkan dia di masa depan. Cukup dia ada di masa lalu gue. Jadi gak ada tuh istilah cinta lama belum kelar apalagi sampai bersemi kembali. NO. TIDAK. TIDAK AKAN.
Oke, begitu saja... Jadi ketika sudah melangkah ke depan, buat apa melangkah menuju belakang? Bukankah itu namanya mundur?
Bukankan mundur itu suatu kemunduran?
Jadi mau hidup kita mundur?
Tapi itu kan prinsip gue ya. Kita berhak punya prinsip hidup masing-masing dengan segala tanggungjawab yang kita miliki.
Uhm... Sudah Itu saja.. Selamat menikamati senja yang indah
Rabu, 01 April 2015
Perjamuan Diantara Keheningan
Aku melihat jelas wajahmu dari kejauhan sama memanggil nama Silla. Mengejar. Melintasi mobil yang berlalu lalang. Melewati langkah-langkah puluhan orang. Berpacu bersama waktu mencengah si cantik Silla pergi meninggalkanmu. Jelas sekali kudengar suaramu saat berkata dengan wajahmu yang syahdu itu, "Tolong tetap tinggal."
Dan dia tetap meninggalkanmu kan? Hingga kita bertemu dalam perjamuan di siang hari itu. Aku tak pernah menyangka, kamu yang tak aku lihat adalah apa-apa. Kamu yang aku pikir saat itu hanyalah lelaki lemah tanpa suara. Mudah menyerah. Dan hanya mampu berkata,"tolong tetap tinggal." Lelaki yang sangat tidak menarik bagiku ketika itu.
Ah, aku tak pernah menyangka, aku mengingat jelas banyanganmu ketika kita bertemu hari itu. Kita yang tidak saling mengenal tapi kini begitu akrab. Keakraban yang kadang membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Beterbangan hingga jantung. Menggelitik hati. Mewarnai hari. Membuatku merindu sebelum tidur lelapku.
Apa ini cinta? Bagaimana kalau kita anggap iya. Aku tahu rasa di hatiku dapat kusebut cinta. Cinta masa muda diantara pertumbuhan menuju kedewasaan ini. Aku yakin pada rasa yang kumiliki. Hanya saja, aku tak yakin padamu. Wajar bukan?
Aku mengingat jelas bagaimana putus asanya dirimu dihari itu. Masih jelas diingatanku bahwa mukamu bersemu syahdu ketika namanya di bahas. Silla. Iya, aku tahu betapa cantiknya dia. Aku tahu betapa pintarnya dia. Wanita yang sempurna dimatamu. Terkadang aku ingin mengatakan, "Tapi dia telah memilih kehidupannya, Ra."
Sayangnya, tak satupun kata bahkan huruf itu keluar dari mulutku. Sayangnya itu terus tertahan di hatiku. Mengendap. Menguap bersama rasa cinta yang terus aku sampaikan dalam doaku. Dalam kehingan aku selalu berusaha berkata pada hatimu, "di sini aku merindukanmu dengan cinta tanpa serpihan di hatiku." Berharap hatimupun lapang. Melepas masa lalu. Menyediakan sedikit tempat untuk aku. Sampai suatu titik aku tersadar, pertemuan-pertemuan kita terlalu erat. Terlalu rapat. Tanpa jeda. Mengutip kata Dee, kita baru bisa saling menyayangi jika ada ruang. Mungkin kamu butuh ruang. Aku dan kamu butuh jeda hingga akhirnya bisa menyepakatkan hati. Apakah begitu?
Ah, aku tak tahu pasti Nara.
Kamu adalah wajah yang sulit aku tebak. Kamu yang manis namun terkadang membuatku bingung. Baiklah, jika memang kita butuh jeda, maka kepergianku adalah cara terbaik membuatmu bahagia kan? Jika nanti suatu hari kita bertemu, kemuadian aku dan kamu saling jatuh cinta kembali untuk kedua kalinya, maka itu adalah cara terindah hidup mempertumukan kita. Indah bukan?
Sayangnya, mungkin saja kamu tidak pernah mencintaiku seperti yang aku banyangkan selama ini. Toh, kini saat aku melangkah mantap di depanmu menuju pintu penerbangan, kamu tidak memanggil namaku. Suaramu tak pernah kudengar. Yah, kini aku tahu jika rasa yang aku miliki hanyalah rasa milikku bukan milikmu. Hatimu masih belum melupakannya ya?
Ya, aku paham.
Karena jika kamu memiliki rasa yang sama yang kita sebut itu cinta, maka akan ada sebuah perjuangan bukan. Kamu tahu, kenapa perjuangan itu ada?
Satu jawabannya adalah "CINTA", ketiadaannya akan meniadakan perjuangan. Jadi, jelas bukan?
Rasa di hatimu kamu sebut itu apa?
Jika kamu pernah memperjuangkannya bersama rasa benama cinta, lalu kenapa kamu tidak memperjuangkanku juga? Terimakasih atas jawaban yang tak pernah kamu ungkap. Tak pernah kamu katakan. Tapi aku tahu pasti dari setiap ketiadaan perjuanganmu.
Adalah sebuah pesan terakhir yang berani aku kirimkan melalui ponselku. Menghantarkan penerbanganku menuju kehidupan baru. Ketika pesawat lepas landas, aku suka sekali melihat wajahku di cermin. Aku tahu, kalau akan ada saat kita bertemu dan berpisah. Jika kita kembali bertemu dalam sebuah kisah berbeda namun tetap membuatku jatuh cinta, maka kamu adalah kehidupan terbaik yang pernah aku miliki. Dan selamat tumbuh menikmati hidupmu dengan segala senyuman tanpa aku, cinta yang tulus. Yang selalu merindukanmu. Memperjuangkanmu dalam setiap doa di kehenigan malam. Dalam pertemuan bersama hati yang suci. Di sini perjamuan diantara keheningan bersama hati, cinta, dan nafas.
-Naya Kanata-
April 2015
Selasa, 24 Maret 2015
Jeda
Di sini. Ya, di sini sebuah tempat bernama bandara. Aku suka. Tapi aku pernah membenci. Syukurnya kini semua telah kembali. Ya, sukaku walau benciku tak berarti pergi.
Aku suka bandara. Entah dimana aku pernah mengutip. Konon katanya bandara adalah sebuah tempat dimana sebuah cerita bisa berawal atau berakhir. Aku setuju itu sebelum aku menyukai bandara. Benar saja itu terjadi padaku. Semua kini berakhir di sini. Tapi bukankan akhir dapat menjadi awal? Ah, awal dan akhir terkadang semua tak dapat kumengerti
Mereka terpisah. Tampak berlawanan. Namun jika ditelaah maka mereka sesungguhnya bersatu.
Mereka terpisah. Tampak berlawanan. Namun jika ditelaah maka mereka sesungguhnya bersatu.
Sabtu, 14 Maret 2015
Trip Bromo (Part III)
Oke, Ini adalah perjalanan kami berenam. Seperti yang tertulis pada cerita part sebelumnya ini adalah perjalanan berenam. Saya adalah salah satunya. Tapi di foto ini berlima, bukan. So, where is zeni? Is she took this pic?
NO. JAWABANNYA TIDAK. I'm lost in this moment. Ini hilang dalam arti sesungguhnya ya. Dan ketika saya dalam keadaan takut dikerumunan banyak orang, mereka sedang ceria berfoto.
Am I sad? YES, I'M
Am I disspoited? (Sambil tepok jidat) MENURUT LOE?
Kalau kamu diposisi saya bagaimana perasaanmu?
Kamu pergi bersama beberapa orang kemudian kamu tidak menemukan mereka diantara ratusan orang. Kamu berkeliling mencari mereka, dan apa yang kamu temukan adalah tidak sedikitpun tanda kekhawatiran diwajah mereka. Bagaimana perasaanmu?
Syukurlah ketika kamu bisa ceria seperti ketika mereka ceria mengambil foto itu. Itu berita bagus.
Tapi saya, saya sangat kecewa KETIKA ITU.
Well, tapi semua perasaan negatif itu hanya ketika itu kok. Apa yang terjadi di sana biarlah tinggal di sana. Apapun itu, sedih saya. Kecewa saya. Biarlah semua tertinggal di sana ketika itu bersama debu gunung.
Sekarang, saya sangat bersyukur hari itu pernah terjadi dalam hidup saya.
Hari itu mengajarkan saya banyak hal.
Pertama, hari itu mengajarkan saya tentang Saya kecewa, diantara ketakutan saya ternyata saya tidak memiliki satupun diantara mereka. Hehehehee, lucu ya.
Tapi itu mengingatkan saya bahwa memang di dunia ini, selain dirimu sendiri, siapa yang kamu miliki?
Tidak. Di dunia yang indah ini, untuk semua kebahagiaan kamu hanya memiliki dirimu sendiri.
Kebahagiaanmu sepenuhnya ditanganmu.
Di sisi lain, ketakutan yang saya alami mengingatkan saya, ternyata saya tetap membutuhkan orang lain. Seperti kata seseorang "untuk menyembuhkan luka siku kanan, kita tetap memerlukan tangan kiri." Ya, ternyata ketakutan saya mengingatkan bahwa saya masih membutuhkan orang lain menennangkan diri saya. Sekalipun kontrol diri ada ditangan diri saya sendiri.
Kedua, hari itu mengajarkan saya tentang "EMPATI".
Bukankah hidup mengajarkan kita untuk lebih berempati. Banyak teman remaja datang kepada saya dan mengatakan takut akan ini dan itu. Atau sebagian yang datang kepada saya mengatakan,"saya sedih karena...". Yang seringnya saya jawab, "wajar, tidak apa-apa."
Mungkin ketika itu saya tidak merasakan sesungguhnya arti ketakutan, kekhawatiran atau kesedihan saya sehingga hari dimana saya hilang dan ketakutan menghampiri saya. Ya, ketakutan itu tetap anak kecil di dalam diri saya. Anak yang sebaiknya saya peluk dan tenangkan.
Dari hari itu, saya menyadari empati adalah bagian yang hampir saya lupakan dan sebaiknya saya pelajari lebih dalam. Empati yang saya dapat latih dengan lebih banyak mendengarkan. Yah, mungkin saya (atau sebenarnya sebagian besar dari kita) lebih ingin di dengarkan daripada mendengarkan?
Ah, sudahlah. Lupakan saja semua itu. Semua tentang pemikiran ini dan itu. Lupakan dan lepaskan. Mari hening hingga menemukan bening. Hingga rasa benar terasa menguatkan jiwa bernama EMPATI.
Dan untuk semua hal yang pernah terjadi disana. Saya berterimakasih perjalanan ini pernah ada di hidup saya. Kelak, ini akan menjadi sebuah cerita untuk saya dan cinta dalam hidup saya.
Ini adalah bagian terindah yang pernah hadir di hidup saya hingga saya belajar lebih banyak tentang kata "EMPATI".
Bukankah rasa akan kita ketahui ketika kita benar-benar mencicipinya?
Terimakasih telah mengizinkan saya mencicipi ini semua.
Saya berbahagia dan hanya ingin mengatakan, I LOVE YOU WHATEVER THEY ARE.
Dan kepada hidup saya, I LOVE YOU WHATEVER YOU ARE.
Selamat berbahagia,
dan
Semoga kita semua berbahagia
Selasa, 24 Februari 2015
RENOVASI 'RUMAH'
Hey, How are You today?
Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada saya maka saya dengan tegas menjawab "I'm happy NOW" tapi belum totally hari ini karena ini belum malam dan saya belum berefleksi untuk hari ini. Yah, saya bahagia saat ini karena saya hidup saat ini. Hidup memang bahagia jika saat ini dan sekarang. Begitulah kira-kira hasil refleksi saya beberapa bulan belakangan.
Ngomong-ngomong soal refleksi, saya melihat-lihat kembali postingan-postingan saya.
Postingan dimana kala itu masih penuh dengan amarah. Penolakan. Dendam. Dan self pitty. Dan masa dimana kala itu saya merasa terjatuh sebagai manusia paling sendiri di dunia ini.
Hahaha, membaca kembali postingan itu rasanya menyenangkan sekali menertawai diri sendiri.
Sebenarnya apa bedanya saya dulu dan sekarang?
Ah, sama saja jika dihubungkan dengan situasi, bedanya hanya ketika itu saya belum menerima keadaan saya sepenuhnya. Bedanya hanya kala itu saya menolak semua yang hadir. Kaku dan melihat semua hal sebagai bencana. Yah, hanya itu bedanya.
Sekarang, ya semua masih sama. Tentang keluarga. Tentang jodoh yang belum menyepakatkan hati bersama saya. Tentang masa depan yang jika terus dipikirkan begitu mengkhawatirkan. Dan tentang kenangan yang jika diingat begitu menyedihkan. Ya, semua masih sama, bedanya saya menerima saja semua ini dan bersabar menunggunya berubah. Dan tak ada bedanya saya akan tetap menulis di sini.
Namun membaca rumah ini rasanya memalukan sekali. Sayangnya saya mencintai tulisan saya hingga sangat saya sayangkan jika dihapus. Yah, gimana dong?
Oke, saya putuskan merenovasi saja rumah ini. Heheheheee, maksudnya.
Saya melabeli tulisan-tulisan saya selama masa penolakan saya dengan MASA LALU. Jadi semua yg berlabel masalalu adalah tulisan amburadul yg mungkin membawa sensasi tertentu. Oke, dan begitulah renovasi rumah ini dimulai. :)
Langganan:
Postingan (Atom)

