Oke, Ini adalah perjalanan kami berenam. Seperti yang tertulis pada cerita part sebelumnya ini adalah perjalanan berenam. Saya adalah salah satunya. Tapi di foto ini berlima, bukan. So, where is zeni? Is she took this pic?
NO. JAWABANNYA TIDAK. I'm lost in this moment. Ini hilang dalam arti sesungguhnya ya. Dan ketika saya dalam keadaan takut dikerumunan banyak orang, mereka sedang ceria berfoto.
Am I sad? YES, I'M
Am I disspoited? (Sambil tepok jidat) MENURUT LOE?
Kalau kamu diposisi saya bagaimana perasaanmu?
Kamu pergi bersama beberapa orang kemudian kamu tidak menemukan mereka diantara ratusan orang. Kamu berkeliling mencari mereka, dan apa yang kamu temukan adalah tidak sedikitpun tanda kekhawatiran diwajah mereka. Bagaimana perasaanmu?
Syukurlah ketika kamu bisa ceria seperti ketika mereka ceria mengambil foto itu. Itu berita bagus.
Tapi saya, saya sangat kecewa KETIKA ITU.
Well, tapi semua perasaan negatif itu hanya ketika itu kok. Apa yang terjadi di sana biarlah tinggal di sana. Apapun itu, sedih saya. Kecewa saya. Biarlah semua tertinggal di sana ketika itu bersama debu gunung.
Sekarang, saya sangat bersyukur hari itu pernah terjadi dalam hidup saya.
Hari itu mengajarkan saya banyak hal.
Pertama, hari itu mengajarkan saya tentang Saya kecewa, diantara ketakutan saya ternyata saya tidak memiliki satupun diantara mereka. Hehehehee, lucu ya.
Tapi itu mengingatkan saya bahwa memang di dunia ini, selain dirimu sendiri, siapa yang kamu miliki?
Tidak. Di dunia yang indah ini, untuk semua kebahagiaan kamu hanya memiliki dirimu sendiri.
Kebahagiaanmu sepenuhnya ditanganmu.
Di sisi lain, ketakutan yang saya alami mengingatkan saya, ternyata saya tetap membutuhkan orang lain. Seperti kata seseorang "untuk menyembuhkan luka siku kanan, kita tetap memerlukan tangan kiri." Ya, ternyata ketakutan saya mengingatkan bahwa saya masih membutuhkan orang lain menennangkan diri saya. Sekalipun kontrol diri ada ditangan diri saya sendiri.
Kedua, hari itu mengajarkan saya tentang "EMPATI".
Bukankah hidup mengajarkan kita untuk lebih berempati. Banyak teman remaja datang kepada saya dan mengatakan takut akan ini dan itu. Atau sebagian yang datang kepada saya mengatakan,"saya sedih karena...". Yang seringnya saya jawab, "wajar, tidak apa-apa."
Mungkin ketika itu saya tidak merasakan sesungguhnya arti ketakutan, kekhawatiran atau kesedihan saya sehingga hari dimana saya hilang dan ketakutan menghampiri saya. Ya, ketakutan itu tetap anak kecil di dalam diri saya. Anak yang sebaiknya saya peluk dan tenangkan.
Dari hari itu, saya menyadari empati adalah bagian yang hampir saya lupakan dan sebaiknya saya pelajari lebih dalam. Empati yang saya dapat latih dengan lebih banyak mendengarkan. Yah, mungkin saya (atau sebenarnya sebagian besar dari kita) lebih ingin di dengarkan daripada mendengarkan?
Ah, sudahlah. Lupakan saja semua itu. Semua tentang pemikiran ini dan itu. Lupakan dan lepaskan. Mari hening hingga menemukan bening. Hingga rasa benar terasa menguatkan jiwa bernama EMPATI.
Dan untuk semua hal yang pernah terjadi disana. Saya berterimakasih perjalanan ini pernah ada di hidup saya. Kelak, ini akan menjadi sebuah cerita untuk saya dan cinta dalam hidup saya.
Ini adalah bagian terindah yang pernah hadir di hidup saya hingga saya belajar lebih banyak tentang kata "EMPATI".
Bukankah rasa akan kita ketahui ketika kita benar-benar mencicipinya?
Terimakasih telah mengizinkan saya mencicipi ini semua.
Saya berbahagia dan hanya ingin mengatakan, I LOVE YOU WHATEVER THEY ARE.
Dan kepada hidup saya, I LOVE YOU WHATEVER YOU ARE.
Selamat berbahagia,
dan
Semoga kita semua berbahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar