Jumat, 19 April 2013

Tak sekadar angka 24

Aku tak tahu apa yang mendorongku kali ini. Perasaanku terlalu kacau untuk ku jelaskan. Perkataanku terlalu tajam untuk setiap orang yang ku temui. Sedikit saja kata mereka tak sesuai dengan aku maka langsung ku serang. Tak ku biarkan mereka berkutik menentangku lagi. Aku marah.

Enam puluh menit pejalanan pulang membuat pikiranku mengulang lagi hal yang ku lakukan tadi. Pikirku cukup lelah. Istirahat adalah hasrat terbesarku saat ini. Menenangkan pikiran dan memulihkan tenagaku.
Namun, pikiranku yang sangat lelah haruslah ku letakkan. Ku lakukan ritual sebelum tidur ketika sangat lelah. Ku ambil buku harianku dan aku mulai menulis, namun otakku terlalu panas untuk menulis. Kuputuskan saja membaca lagi sejarah yang pernah ku tulis.

Di lembar pertama buku itu tertulis jelas ketika pertama kali aku jatuh cinta padanya. Perasaanku sungguh bahagia. Ada harapan. Ada ambisi. Membuatku tersenyum sendiri membaca lembar-lembar itu. Lembar demi lembar terus ku balik. Semua ku baca kembali dengan jelas. Seperti juga diingatanku, setelah lembar pertama tidak ada lagi tulisan bahagia. Sisanya adalah kisah sedih dan luka karena cinta itu. Aku jatuh cinta yang membuatku benar-benar jatuh.

Sampai di lembar ke dua puluh empat, tanggal menunjukkan 24 September 20**. Ada sebuah kisah, kami berjalan bersama. Hari itu adalah hari pertama aku mengenalnya lebih dari sekadar nama dan mengaguminya dari jauh. Jika sejak dulu aku mengaguminya tanpa bisa mengobrol, hari ini aku mengobrol dengannya. Ringan memang, namun itulah hari pertama kami berbicara cukup banyak. Jika selama ini aku cemburu pada setiap wanita yang dekat dengannya, hari ini setiap wanita berhak cemburu padaku karena hari ini dia mengantarku pulang untuk pertama kalinya. Jika selama ini, aku hanya bisa berharap dia melihatku, hari ini adalah hari kemenanganku karena dia menatapku tajam. Perasaanku bahagia. Membuatku melambung tinggi ke langit. Aku mengharapkannya. Semakin mengharapkannya.

Hingga 3 November 20** aku terjatuh. Aku kembali menginjak tanah. Membuatku sadar, aku hanya bermimpi. Dia membangunkanku dari mimpiku dengan "bersamanya".

Aku terus membaca lembar demi lembar buku harianku, dan tak pernah ku temukan lagi tulisan kebahagiaan di sana. Di saat aku meraih kemenanganpun, aku tak ingat caranya tersenyum dari hari. Ada foto-fotoku tersenyum di sana, namun sayang aku tak ingat aku pernah tersenyum di foto itu. Aku hanya mengingat luka yang ada di hatiku. Luka yang terasa sangat sangat sakit.

Ku balik lagi lembar-lembar putih penuh coretan itu. Aku seperti membaca kembali lembaran pertama buku ini. Di sana tertulis 24 Desember 20**. Tepat di hari ulang tahunku, aku menemukan kembali cintaku. Bukan, ternyata bukan sebuah cinta baru, namun cinta lama yang tidak aku sadari ada di sisiku karena aku sibuk mengejar cintanya. Ya, itu cinta dari keluargaku, cinta dari sahabatku dan cinta dari seluruh kerabatku.

Walau sampai sekarang luka itu masih ada, namun setidaknya aku ingat cara tersenyum. Aku tahu cara bahagia. Aku memiliki harapan untuk meraih banyak hal. Walau aku tak tahu perasaanku sekarang padanya namun setidaknya aku mampun tersenyum. Dan...Aku tersenyum sendiri membaca kembali semuanya. Ada banyak hal dan kebahagiaan di tanggal 24. Aku yakin sekarang, mengapa aku suka sekali angka itu berpasangan. Angka 2 dan 4. Ketika mereka bersama aku melihat mereka sangat serasi. Iya, karena 24 adalah tanggal yang membuatku selalu bahagia. 24 Desember pertama kali aku dilahirkan dan hari aku berani memupuk cintaku lagi. 24 September ada sebuah sejarah antar aku dan dia. Dan entah apa lagi yang akan terjadi di 24 lainnya. Mungkin 24 selanjutnya dia kembali padaku sehingga 24 Desember lengkaplah kebahagiaanku, atau 24 selanjutnya dia memintaku untuk tidak lagi mengharapkannya dan melukaiku semakin dalam. Tapi apapun itu, kupikir tidak perlu dicemaskan karena itu belum terjadi. Cukup yang aku tahu sekarang aku suka 24. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar