Aku ingin menceritakan semua perasaan yang bertumpu di hatiku kali ini. Namun, dimana mereka teman-temanku. Tidak ada yang bisa mendengarkanku. Tiba-tiba terbesik dalam benakku. Yah, aku dapat menuliskan semuanya dalam sebuah kertas. Tekad ku bulatkan, aku ingin mempersiapkan sebuah surat cinta termanis untuknya, Nara. Pena yang ku pengang mulai menari-nari di atas kertas putih itu.
Dear Nara,
Dulu ketika kita masih sama-sama menggunakan seragam putih abu itu. Tidak akan terlupakan kenangan ini dari memoriku. Betapa tidak, karena berkat kejadian itu aku mampu berdiri setegak sekarang dan memiliki sebuah tujuan seperti sekarang ini.
Dulu tepat ketika aku menerima pialaku, sebuah kabar datang dari seorang sahabatku. Handphoneku berkicau, menyampaikan sebuah pesan yang intinya seseorang yang mengisi hatiku bersama orang lain. Sakit. Tentu. Sedih. Pertanyaan bodoh! Merasa jatuh, percuma. Betapa tidak ?
Saat itu adalah saat-saat terburuk sepanjang kehidupanku (hingga sekarang). Menyakitkan memang hari-hari itu. Tapi terpuruk dalam luka toh tidak membuatku berharga di matanya, bukan ? Jatuh toh tidak akan membuat dia meninggalkan pacarnya dan membantuku bangkit. Aku bangkit dibantu teman-temanku kala itu. Betapa aku tak akan pernah lupa akan saat itu. Berhari-hari ku habiskan untuk menangis, dan yang disebut anak muda sekarang "menggalau". Dan satu-satunya orang yang dapat membuatku menangis ketika aku menerima kemenangan adalah dia. Dia adalah kamu, Nara.
Berhari-hari aku tidak percaya bahwa kamu telah memilih seseorang di sisimu. Bagaimana mungkin aku mudah menerima semua itu, sedang tepat dua hari sebelum kamu bersama Asih, kamu mengatakan kepada Lamda di depan mataku sendiri kamu tak ingin bersama siapapun untuk saat itu. Yaaah, mungkin aku salah mengerti akan maksudmu. Kurasa maksudmu 'untuk saat itu' adalah ketika kamu mengatakannya.
Berhari-hari aku tidak percaya bahwa kamu telah memilih seseorang di sisimu. Bagaimana mungkin aku mudah menerima semua itu, sedang tepat dua hari sebelum kamu bersama Asih, kamu mengatakan kepada Lamda di depan mataku sendiri kamu tak ingin bersama siapapun untuk saat itu. Yaaah, mungkin aku salah mengerti akan maksudmu. Kurasa maksudmu 'untuk saat itu' adalah ketika kamu mengatakannya.
Sudahkah aku lupa kan kejadian itu ? Tidak . Aku tidak akan pernah melupakannya dan kejadian itu. Tapi aku mengingatnya bukan dalam sebuah wujud yang sama dengan perasaanku dulu padamu. Dulu aku menyukaimu, teramat sangat. Hingga kemarin sebelum aku sampai kembali di Indonesia pun aku masih menyukaimu dan mengharapkanmu. Kemarin ketika aku ke negeri di seberang sana, aku masih berharap ketika aku kembali kamu mampu menghargai perasaanku selama ini. Namun, siapa sangka rencana Tuhan ? Tuhan memang maha baik, adil dan menyayangi semua umatnya. Tuhan sungguh tahu apa yang terbaik bagiku dan buruk. Tuhan memang selalu memilihkan yang terbaik bagiku.
Beberapa jam sebelum keberangkatanku kembali ke Indonesia, seorang kakak kelas meramalku. Tak urung, ramalan tersebut membuat luka yang coba ku kubur bangkit kembali. Air mata yang kucoba bendung jatuh. Di saat yang bersamaan seseorang menyadarkanku. "Dia yang dulu pernah mengisi hatimu bukanlah orang yang tepat," perkataannya padaku membuatku sadar. Aku mulai berpikir kembali. Aku menjadi tak yakin jika aku bersamamu, aku tak akan sakit. Tak yakin mampu bergerak sebebas sekarang ini. Berteman dengan siapa saja, memilih siapa saja untuk temanku bekerjasama. Berlari ke sana kemari seenak diriku sendiri.
Masalah sepatu saja, aku suka sepatu yang melindungiku namun masih membebaskanku bergerak kesana dan kemari. Apalagi seseorang yang berarti di hidupku, tentunya aku tak siap untuk di kekang. Aku tak siap ada sebuah tali pelana di leherku. Menjerat hingga aku terluka jika aku melawan. Sedang kamu, menjadi teman saja sudah terlalu posesif , begitu mengekang, apalagi lebih. Aku jadi tak yakin bisa sebebas merpati.
Masalah sepatu saja, aku suka sepatu yang melindungiku namun masih membebaskanku bergerak kesana dan kemari. Apalagi seseorang yang berarti di hidupku, tentunya aku tak siap untuk di kekang. Aku tak siap ada sebuah tali pelana di leherku. Menjerat hingga aku terluka jika aku melawan. Sedang kamu, menjadi teman saja sudah terlalu posesif , begitu mengekang, apalagi lebih. Aku jadi tak yakin bisa sebebas merpati.
Benar, tidak membiarkanku bersama dengannya adalah keputusan terbaik yang tuhan buatkan untukku. Memberikanku luka ketika masa putih abu itu, adalah anugrah yang patut ku syukuri. Berkat hari itu, aku memilih hidupku menjadi diriku hari ini. Belajar. Mengajar. Bermain. Bersenang senang. Semua ku lakukan.
Aku berdiri, dan mengikuti berbagai kegiatan yang membuat hidupku sebagai remaja menyenangkan. Bergabung dengan teman-teman sebaya mengajar, sungguh itu pengalaman yang tak ternilai harganya. Melancong ke berberapa tempat dengan bekerja keras. Hingga aku memiliki kenangan ini
Aku berdiri, dan mengikuti berbagai kegiatan yang membuat hidupku sebagai remaja menyenangkan. Bergabung dengan teman-teman sebaya mengajar, sungguh itu pengalaman yang tak ternilai harganya. Melancong ke berberapa tempat dengan bekerja keras. Hingga aku memiliki kenangan ini

Sepanjang tahun 2012 :)
Kenangan ini membuatku bertemu dengan seseorang. Dia pria yang baik, cerdas, dan tampan lebih dari kamu. Dia juga membuatku semakin menyadari tujuanku. Tepat ketika aku kembali, ketika ulangtahunku yang ke 19.
Dulu, aku menjadikanmu tujuan ku. Aku melakukan hal-hal untuk dirimu agar kamu melihatku. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku sadar tidak seharusnya itu ku lakukan. Ia menyadarkanku hal yang ku lakukan seharusnya untuk diriku sendiri. Berbanding terbalik dengan dulu, aku melakukan sesuatu bukan untuknya, namun untukku.
Aku berusaha untuk diriku sendiri agar mampu sejajar dengan dirinya yang hebat. Walaupun kami terpisah jarak puluhan bahkan jutaan kilometer untuk saat ini, namun kepercayaan membuat kami tetap dekat, bukan ? :) Aaah, dulu kamu adalah prioritasku. Sekarang ? Aku adalah prioritas diriku, kebahagiaanku. Keluargaku adalah kebahagiaanku. Kesuksesanku adalah kebagiaanku. temanku adalah kebahagiaanku. dia adalah kebahagiaanku. dan kamu ? hanyalah bagian dari masalalu yang tidak membahagiakan namun memiliki kontribusi dalam kesuksesan. Jadi bisa kau hitung sendiri, urutan keberapa kamu dalam prioritasku !
Dulu, aku menjadikanmu tujuan ku. Aku melakukan hal-hal untuk dirimu agar kamu melihatku. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku sadar tidak seharusnya itu ku lakukan. Ia menyadarkanku hal yang ku lakukan seharusnya untuk diriku sendiri. Berbanding terbalik dengan dulu, aku melakukan sesuatu bukan untuknya, namun untukku.
Aku berusaha untuk diriku sendiri agar mampu sejajar dengan dirinya yang hebat. Walaupun kami terpisah jarak puluhan bahkan jutaan kilometer untuk saat ini, namun kepercayaan membuat kami tetap dekat, bukan ? :) Aaah, dulu kamu adalah prioritasku. Sekarang ? Aku adalah prioritas diriku, kebahagiaanku. Keluargaku adalah kebahagiaanku. Kesuksesanku adalah kebagiaanku. temanku adalah kebahagiaanku. dia adalah kebahagiaanku. dan kamu ? hanyalah bagian dari masalalu yang tidak membahagiakan namun memiliki kontribusi dalam kesuksesan. Jadi bisa kau hitung sendiri, urutan keberapa kamu dalam prioritasku !
:)
Kamu memang menempati sebuah tempat di hatiku.
Sebuah tempat terindah bernama kenangan. Sebuah tempat luas bernama masa
lalu. Namun, mulai hari ini dan hingga aku menutup mataku untuk
terakhir kalinya, dia adalah satu-satunya pria yang memiliki tempat
dihatiku. Tempat termegah bernama impian. Tempat terluas bernama masa
depan.
Aira
Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar