Selasa, 24 Februari 2015

RENOVASI 'RUMAH'



Hey, How are You today?

Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada saya maka saya dengan tegas menjawab "I'm happy NOW" tapi belum totally hari ini karena ini belum malam dan saya belum berefleksi untuk hari ini. Yah, saya bahagia saat ini karena saya hidup saat ini. Hidup memang bahagia jika saat ini dan sekarang. Begitulah kira-kira hasil refleksi saya beberapa bulan belakangan. 

Ngomong-ngomong soal refleksi, saya melihat-lihat kembali postingan-postingan saya. 
Postingan dimana kala itu masih penuh dengan amarah. Penolakan. Dendam. Dan self pitty. Dan masa dimana kala itu saya merasa terjatuh sebagai manusia paling sendiri di dunia ini. 

Hahaha, membaca kembali postingan itu rasanya menyenangkan sekali menertawai diri sendiri. 
Sebenarnya apa bedanya saya dulu dan sekarang?
Ah, sama saja jika dihubungkan dengan situasi, bedanya hanya ketika itu saya belum menerima keadaan saya sepenuhnya. Bedanya hanya kala itu saya menolak semua yang hadir. Kaku dan melihat semua hal sebagai bencana. Yah, hanya itu bedanya. 

Sekarang, ya semua masih sama. Tentang keluarga. Tentang jodoh yang belum menyepakatkan hati bersama saya. Tentang masa depan yang jika terus dipikirkan begitu mengkhawatirkan. Dan tentang kenangan yang jika diingat begitu menyedihkan. Ya, semua masih sama, bedanya saya menerima saja semua ini dan bersabar menunggunya berubah. Dan tak ada bedanya saya akan tetap menulis di sini. 

Namun membaca rumah ini rasanya memalukan sekali. Sayangnya saya mencintai tulisan saya hingga sangat saya sayangkan jika dihapus. Yah, gimana dong?
Oke, saya putuskan merenovasi saja rumah ini. Heheheheee, maksudnya. 

Saya melabeli tulisan-tulisan saya selama masa penolakan saya dengan MASA LALU. Jadi semua yg berlabel masalalu adalah tulisan amburadul yg mungkin membawa sensasi tertentu. Oke, dan begitulah renovasi rumah ini dimulai. :)

MAGIC


Kamis, 12 Februari 2015

Human oh Human, We're difference and UNIC...




"Aku sih pinginnya blablabla... tapi aku gak bisa... "
"Aku punya pacar, aku sih pinginnya dia bla bla bla bla tapi dia gak bisa bla bla bla"

Itu kalimat yang sering aku denger beberapa hari belakangan ini. Tentang keinginan, tapi tidak mampu terpenuhi. Namun orang masih menginginkan dan menuntut. Beberapa waktu yang lalupun ada teman yang mengeluh karena telah punya pasangan dan ingin tidak punya pasangan. Di lain waktu seorang teman lainnya mengeluh karena belum punya pasangan. Yang sudah punya pasangan menuntut pasangannya menjadi apa yang diinginkan. 

Well, aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati "human oh human". Yang sudang punya begini ingin begitu. Yang sudah punya begitu ingin begini. Oh, maumu apa toh? 

Pertanyaan itu juga menyadarkanku, mauku apa toh?
hehehe, Setahun lalu, 2014 adalah tahun yang berat bagiku. Ketika keluargaku tidak lagi menjadi keluarga seperti dulu. Ketika orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Ketika merasa semua kerja kerasku terasa sia-sia. Ketika aku merasa rekan kerjaku tidak menghargaiku. Ketika aku merasa teman-temanku tidak menganggapku teman. Ketika aku merasa atasanku tidak menghargai apa yang telah aku lakukan. Dan ketika itu pula aku merasa depresi. Ketika hari itu keinginan bunuh diri sekali dua kali terbesik dipikiran. Kapankah itu? 
Adakah yang memperhatikan bahwa "KETIKA AKU MERASA" .... 

Kata merasa jelas mengisyaratkan itu semua hanya ada dipikiranku. Ya, ketika aku merasa maka aku mulai menuntut bukan sekadar mengharapkan. Dengan tuntutan itulah maka pikiran akan terbelenggu. Ya, begitu juga cara terbaik untuk tidak membebaskan jiwa. 

Syukurnya sekarang udah tobat. Eh, maksudnya syukurnya beberapa kejadian dalam hidupku itu membuatku tersadar bahwa menuntut orang lain tidak akan menghasilkan sesuatu. Maka aku mulai menerapkan "sudahlah". Dengan begitu aku belajar mengalir dan dengan mengalir semua tampak lebih indah. 

Sekarang, .... BERSAMBUNG, But I love my life... 

Jumat, 06 Februari 2015

If, If, If


"Jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin sekali .... "

Sebuah kalimat yang cukup sering aku dengarkan. Mengisyaratkan sebuah penyesalan. Yah, aku katakan sebuah penyesalan. Bagaimana tidak, jika kita ingin mengulang waktu pasti ada yang ingin kita perbaiki bukan? Sesuatu yang perlu diperbaiki tentu sesuatu yang salah. Iya atau ya?

Kalau aku, jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin sekali SEMUA BERJALAN SEPERTI INI. APA ADANYA. Yah, tak ada hal yang ingin aku ulang. Sudahlah sudah berlalu.

Kadang kita berpikir ini yang mungkin akan lebih baik. Begitu mungkin jauh lebih baik. Tapi percayalah bahwa BEGINILAH yang TERBAIK. Aku tahu bahwa sebagian hidupku mungkin pincang. Tapi, sudahlah. Berdamai dengan segala kepincangan yang ada adalah jalan terindah yang bisa aku pilih.

Kadang pemikiran mengulang waktu terbesik dipikiran, tidak bisa dipungkiri. Namun, sekalipun itu terbesik tapi bukankan mengulang waktu adalah hal yang mustahil. Jadi jika terus saja membahas itu, semua kehidupan akan stagna di situ.

Jadi, jika ada kesempatan mengulang waktu, satu-satunya keinginanku adalah aku tetap menjalani semuanya seperti. Entah itu keluarga, kuliah maupun asmara. Aku suka dan aku mencintai semua terjadi seperti ini.

Aku menyadari di tengah guncangan keluarga ini, terkadang menyakitkan menjalani semua sendiri. Tapi aku tahu bahwa beginilah aku didewasakan. Dengan cara inilah aku mulai mengerti bahwa sesekali orang dewasa akan bertengkar seperti anak-anak. Tapi cara mereka menyelesaikan tidak sama seperti anak-anak. Lama mereka menyelesaikan pertengkaran sungguh berbeda dengan anak-anak. Yah, semua perlu berproses untuk menjadi dewasa.

Begitulah aku mulai mengerti dan belajar mencintai hidupku. Menerima segala luka yang pernah hadir. Dari segala arah luka yang pernah ada, aku senang ia pernah datang mengajarkanku cara mengobati. Dari jatuh yang pernah aku alami, aku senang aku telah belajar untuk bangkit. Dari kehilangan yang pernah aku jalani, aku senang aku belajar menemukan.

Kepada hidup dan segalanya yang pernah hadir, aku berterimakasih.
Kepada cinta yang mencintaiku kelak, aku senang kita sedang didewasakan kehidupan untuk saling percaya. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.

Senin, 02 Februari 2015

Hati-hati dengan HATI

Hii, Welcome February, (telat tehari sih, but gak papa lah ya)

Selamat datang bulan penuh cinta..
Orang berkata bulan ini penuh cinta bukan?
Mari kita chek, apakah hati anda sudah penuh cinta ?
Masihkah ada luka di hatimu yang indah itu?
Jika ia mari diobati dengan cinta.

Siang ini saya berbagi cerita dengan seorang teman. Ia bercerita tentang temannya. Tentang seorang teman yang akhirnya masih sendiri karena hatinya pernah terluka. Sebuah luka yang mungkin menyisakan bekas menyakitkan. Membuat saya teringat kisah Ceria.

Bagi beberapa orang mungkin mengobati hati bukanlah perkara mudah (sy contohnya). Mengobati hati perlu ketegasan. Megobati hati perlu keberanian. Mengobati hati perlu kesabaran. Mengobati hati perlu keikhlas. Banyak hal yang diperlukan untuk mengobati hati. Satu hal yang penting adalah TEKAD. Tekad untuk terus berjuang mengobati.

Nah, beberapa orang yang sulit itu terkadang terus menyimpan lukanya hingga akhirnya mengurung mereka dalam belenggu masa lalu .

Jadi berhati-hatilah ketika berusan dengan hati.
Hati itu kuat. Tapi dia kuat yang kadang rapuh. Hati itu tidak pernah salah, tapi kadang ia tidak didengarkan hingga akhirnya suaranya benar-benar tidak terdengar maka ia sudah tidak terlatih lagi.

Jadi mengutip kata seorang dosen, "mari melatih hati"

SELAMAT MENGIKUT KATA HATI,
SELAMAT MENCINTAI DALAM BULAN PENUH CINTA ini