Aku masih sendiri hingga saat ini. Iya, aku masih sendiri. Apa aku
pernah jatuh cinta ?
Oh, tentu saja. Aku adalah manusia yang berkembang secara normal dan
wajar. Usiaku sekarang 19 tahun, itu artinya aku remaja. Sesuai tahap
perkembanganku tentu saja aku pernah jatuh cinta. Jatuh hingga hampir tak mampu
berdiri.
Lima tahun lalu, ketika itu aku baru menggunakan serangan putih abu. Aku
berjalan pulang dengan sepupuku. Dalam perjalanan pulang, aku bertemu dengan
seseorang. Seseorang yang tidak aku ketahui. Yah, begitulah remaja. Aku
melihatnya cukup tampan, membuatku tertarik. Aku lupa kapan tepatnya, sepupuku
memberitahuku bahwa ia teman sekolah kami dan namanya Rama (bukan nama
sebenarnya, kaia kasus kejahatan apa gitu ya #abaikan).
Mengetahui namanya membuatku penasaran dan mencari tahu. Kami tidak
sekelas, namun beberapa waktu sempat membuatku memperhatikannya. Aku tak yakin
kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta. Namanya juga remaja, masih belum stabil.
Aku mencintainya dengan berbagai alasan yang jelas dan sesuai logikaku. Dia
pintar, dia tampan, dan dia membuatku termotivasi untuk bersaing. Begitula h
logikaku cukup memainkan peranan dalam urusan cinta monyet ini (cinta pertama
lo ya, cinta moyet bukan berarti aku monyet #abaikan).
Cintaku semakin bertambah ketika kamu mulai sekelas (maklum waktu awal
SMA kami berbeda kelas, miris kan, wkwkwk). Waktu berjalan, 1,5 tahun kami
sekelas. Menurutku cukup lama dan aku tak yakin menyenangkan. Selama itu, aku
masih dipenuhi ego. Aku cemburu padahal dia bukan pacarku. Aku bersedih,
padahal dia tak sedikitpun menganggapku. Aku bahagia dan mungkin bisa di sebut
keGRan.
Dua tahun yang lalu, yang aku lupa tepatnya di bulan oktober atau
November dia memilih bersama orang lain. Sakitkah aku ? Bohong banget kalau aku
bilang ooo, aku baik-baik saja (kaia lagu deh ya). Aku sedih. Aku kecewa. Aku
marah. Aku menangis berhari-hari. Aku berharap itu hanya mimpi buruk dan ketika
aku terbangun dia bersamaku. Tapi itulah kenyataan.
Kemarin, aku mengikuti sebuah pelatihan. Point penting yang ku dapat
adalah belajar ikhlas itu sulit, tapi akan menyenangkan. Melegakan. Ia, benar.
Aku pernah mengalaminya.
Ketika dia memilih bersama orang lain, aku sedih dan terus mengharapkan
dia bersamaku. Sebaliknya kenyataannya setiap hari aku harus melihat dia
bermesraan dengan pacarnya. Ada kalanya aku lelah dan mempasrahkan semuanya.
Jika memang dia bukan untukku, aku merekalan dia bersama pacarnya. Akupun akan
berusaha bahagia. Ketika itu ku lakukan, dia mendekat kepadaku.
Sakit hatiku ketika itu berimbas kepada pemilihan kuliah. Aku
menggunakan emosi memilih kuliah. Dengan alasan agar jauh dan melupakannyan,
aku memilih bandung sebagai kota tujuanku melanjutkan hidup. Tapi siapa sangka,
hari ini detik ini aku masih berasa di kota yang sama dengannya. Aku masih di
Bali. Bahkan kami berada dalam universitas yang sama. Terkadang aku tersenyum
mengingat semuanya. Aku begitu menginginkan pergi dari Bali dan aku gagal di
terima di universitas yang kuinginkan. Begitu aku berdoa, aku ingat sekali isi
doaku “jika memang kami harus satu universitas, aku akan berusaha menerima
kenyataan dan tidak melarikan diri. Yang terpenting adalah aku dapat
universitas negeri.”
Mungkin tuhan bener-bener di sampingku ya waktu itu. Then, aku diterima
dan kami satu universitas. Tahun awal kami masih sering bertemu. Cukup sering
berkomunikasi, walaupun komunikasinya kurang baik. Oiya, dia putus dengan
pacarnya ketika kami memasuki universitas.
Aku sempat berpikir, kami akan bersama (bisa pacaran). Tapi aku salah.
Dia tidak pernah menyukaiku (#miris).
Aku sempat berambisi membuatnya mencintaiku seperti aku mencintainya.
Pelatihan kemarin membuatku sadar “dia hanya benda (benda tuhan/makhluk ciptaan
tuhan)”. Dalam keberadaannya, dia tiada. Dia tiada namun ada. (bingungkan?
#guejuga#). Kelekatan akan membuatku terlalu terbawa nafsu duniawi. Aku tak
tahu kapan, tapi cepat atau lambat, dia atau aku akan meninggalkan baju ini
(tubuh). Dia bisa saja tak tampan seperti dulu. Dia bisa saja tak pintar.
Akankah aku masih mencintainya ketika itu ?
Yah, ketika itulah kata “dia hanyalah benda” (begitupun aku, “aku
hanyalah benda”) menjawab pertanyaanku. Aku harus mengikhlaskannya. Apapun yang
terjadi. Dia mencintaiku atau tidak. Dia akan bersamaku atau tidak. Aku
mengikhlaskannya. Walaupun aku masih mencintainya, namun mengikhlaskannya
membuat hidupku terasa lebih nyaman. Tepatnya aku telah pasrah. Aku tidak lagi
berambisi memilikinya. Jika dia memang bisa mencintaiku, aku akan bersyukur.
Jika dia tidak bisa mencintaiku, akupun bersyukur. Itu artinya tuhan sedang
mengajarkanku untuk menikmati hidup dalam keikhlasan. Lagipula, mencintainya
dan melihatnya berbahagia adalah sebuah kebahagiaan yang indah. Aku tidak
tersakiti jika dia berbahagia dengan orang lain. Itulah kebahagiaan, tidak
menyakiti siapapun. Dan tetap mencintainya dengan perasaan ikhlas ini juga
membuatku tetap tersenyum (ini beneran loo, gak munafik. Karena aku lagi
berproses untuk hidup lebih baik, maka aku belajar ikhlas). J
Jadi tetaplah tersenyum sekalipun cinta tidak terbalas. Karena pada
dasarnya cinta membuat kita tersenyum. Walaupun ada sedih, tersenyum dapat
mengurangi kesedihanmu dan bersyukur karena dia membuatmu belajar mengenai
sebuah proses kehidupan. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar