Rumah.. Mendengar/melihat kata itu apa yang kamu pikirkan pertama kali?
Jika aku ditanya begitu, dengan pasti aku akan menjawab
"Rumah adalah tempatku tumbuh dan berkembang sejak aku lahir hingga sekarang. Sebuah tempat yang nyaman, ada orang-orang yang saling menyayangi dan sangat berharga bagiku. Orang-orang yang lebih dari segalanya berada berkumpul di tempat yang bernama 'rumah'. Sebuah tempat yang sangat indah menyenangkan, nyaman dan membuatku merindukan tempat ini selalu."
Setidaknya itulah gambaran rumah bagiku selama ini.
Ketika aku mengatakan tempat yang nyaman, indah, dan menyenangkan jangan bayangkan sebuah rumah besar dengan segala perabotan mahalnya. Rumahku sederhana tempat kami membuat dan berbagi cerita.
Diantara kami semua nenekku adalah orang yang paling suka bercerita. Dari dia aku tahu cukup banyak penderitaan yang membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Selain itu akupun dapat menyimak perubahan rumah kami dari masa ke masa.
Seperti rumah Bali, ada 4 petak bagunan. Di pojok timur laut ada sebuah tempat ibadah bernama 'sanggah', di depannya ada bangunan bernama bale daje, kemudian di bagian timur ada bale dangin, dan ada sebuah dapur yang seukuran 3x4.
Ku dengar dari cerita nenekku yang memiliki 6 orang anak, sebelum aku lahir ayahku, dan bibiku selalu berbagi segalanya. Makan. Minuman, dan apapun yang mereka punya. Jika punya satu, maka masing-masing dari mereka hanya mendapatkan 1/6. Yah, anak-anak nenekku terutama yang ketiga seperti anak lainnya juga ada yang tetap ingin lebih maka dimakanlah diam-diam makanan bagian kakaknya. Namun itu semua tidak mengurangi sedikitpun kehangatan dalam keluarga itu.
Sebuah cerita lain yang menarik. Bale Dangin, bukanlah bangunan yang mewah. Kala itu penerangan belum benar ada (cerita nenekku). Anak pertama nenekku memegang beban yang cukup berat sedari kecil. Ia mengurus adiknya. Kamar di bale dangin tidaklah berpintu. Suatu malam dengan hujan dan badai, nenekku melahirkan anaknya yang keempat. Saat itu anak pertama dan keduapun masih sangat kecil. Dalam keadaan seperti itu (nenekku melahirkan) dan bibiku melindungi adiknya dari hujan dan badai.
Aku tersenyum haru mendengar cerita nenekku. Yah, walaupun keadaan itu menyedihkan mereka dapat melewati semuanya.
Menurut keluargaku, aku adalah anak yang cukup beruntung karena aku tidak perlu melewati masa seperti yang mereka alami. Yaaah, aku sadari aku memang langsung mendapati rumah yang nyaman. Kamar-kamar berderet empat dengan pintu yang cukup bagus. Dapur bukan lagi dapur terbuka namun semua sudah menggunakan keramik.
Semuanya nyaman. Satu yang aku sukai adalah kami semua saling menyayangi. Semua hal boleh berubah, namun sangatlah menyenangkan ketika kasih sayang yang kami miliki tetap sama, Kami saling menyanyangi satu sama lain.
Setidaknya begitulah yang kurasakan sampai 3 tahun lalu. Tiga tahun lalu, anggap saja rezeki nomplok datang ke rumah kami. Ada uang yang mengalir ke rumah kamu. Ya. Itu adalah sebuah warisan dari sanak keluarga yang tidak menikah dan telah meninggal.
Mungkin bagi keluargaku itu adalah rezeki. Namun bagiku itu adalah kutukan.
Bagaimana tidak ? Sejak itu ada, walaupun ayahku tidak mau ikut campur dengan uang itu, bibi sulungku ingin mempertahankan uang itu agar tidak habis. Kini, ada banyak pertengkaran di dalam keluargaku yang hangat karena hal menyebalkan itu datang ke dalam keluarga kami.
Aku tidak lagi merasakan hangatnya kasih sayang. Semua saling mencurigai. Tidak ada lagi kepercayaan, semua saling menuduh. Tidak ada berbagi, semua ingin menguasai.
Aku yang biasa hidup di tempat yang hangat akan cinta. Dalam keluarga yang saling menyayangi. Dalam hidup yang saling mengisi. Dalam taman yang indah penuh cahaya terang dengan bunga warna warni namun saling melengkapi. Kini aku tidak lagi melihat warna warni bunga yang saling melengkapi. Semua bunga layu. Aku tak melihat taman yang indah. Aku hanya melihat penuh dengan rumput liar. Aku tak lagi melihat cahaya terang. Semua gelap hingga aku tak melihat apapun. Benar-benar gelap.
Aku hampir saja putus asa, ketika ku mengedip2kan mataku untuk menyesuaikan penglihatanku, Aku sadar ini mungkin sebuah masalah. Iya.Sebuah masalah yang akan membuat kami lebih saling menyayangi. Sebuah masalah yang akan sama-sama mendewasakan kami. Aku yakin cahaya yang hilang akan hadir kembali dengan tingkat terang yang jauh lebih terang. Bunga-bunga akan mekar lebih indah dan harum. Dan begitulah semua ini disebut dengan PROSES.
Ibarat sebuah tembikar yang dijual ayahku.
Segenggam tanah liat yang terlihat tak berharga, akan sangat berharga ketika ia telah menjadi tembikar yang indah. Ada sebuah proses yang cukup rumit untuk menjadikan tanah liat sebuah tembikar yang indah. Dan tembikar adalah tanah liah yang telah berproses sedemikian rupa dan kini telah tampak indah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar