Senin, 27 April 2015

FIND YOUR PASSION


Tersenyum, tertawa, hingga menangis bersama
Pernahkah kamu merasa lelah ketika melakukan sesuatu? Ketika mendapat tugas matematika misalnya? Atau tugas kimia? Atau mengarang? Pernahkah mengeluh atas tugas-tugas itu. Ayo, ngaku. Yang bilang gak, pasti gak jujur. Hahaha
Sebagai makhluk yang masih merasa manusia, wajar kok ketika kita mengeluh. Itu wajar, tapi dengan mengeluh apa sih yang sebenarnya bisa di selesaikan? Mengeluh juga gak menambah semangat lo. Gak usah percaya, coba buktikan deh. Misalnya ketika kita dapat tugas, coba aja mengeluh, pasti bakalan tambah berat. Beda banget kalau dijalanin aja.
Seringnya adalah kita merasa tidak mudah menerapkan jalanin aja. Ehm, menurut saya kenapa susah? Ya, karena kita mengerjakannya tidak sesuai kata hati. Pasti bakalan beda banget kalau kita udah ngerjain dengan hati. Pekerjaan yang dilakukan dengan mengikuti hati biasanya berhubungan banget dengan minat. Misalnya, seseorang penulis pastilah punya minat menulis. Penyanyi pasti dia punya kecintaan terhadap nyanyi. So, biar kita happy dan mengurangi mengeluh gimana dong?
Gampang aja. Kerjakan sesuatu sesuai passionmu? Udah pada tahu kan passion masing-masing?
Kalau belum coba deh dicari dulu. Coba aja dulu berbagai keterampilan yang bisa dipelajari. Pengalaman saya mengajarkan kalau udah passion, maka ketika kita tidak melakukannya maka ada muncul kerinduan yang sangat sangat sangat dalam hingga bisa membuat kita merasa kehilangan diri kita. Terus, kalau udah melakukan pekerjaan itu..baah lupa dah semuanya. Lupa waktu dan segalanya karena saking asyiknya mengerjakan sesuatu itu. So, what your passion?

Minggu, 12 April 2015

Cinta Hening

Hey, Dia lelaki di dalam hening. Ketika kami bertemu pertama kali di dalam keheningan. Ia, dia adalah lelaki dalam hening yang tercipta dari keheningan sebuah kebersamaan,
Lelaki tanpa kata bersemayam di sebuah hati penuh kebeningan.

Dia lelaki di dalam hening bersama kami bertemu di sebuah keheningan tanpa banyak bicara.
Dia lelaki di dalam hening namun tak mampu kami bergeming. Ia, ya dia lelaki di dalam hening bertemu diantara bening membuat kami tak bergeming. Ia HENING.

Kamis, 09 April 2015

Cheers, Keep Strong and Smile


"How we let our hearts be strong" 

Pernahkah kamu merasa dikecewakan?
Seberapa sering hidup mengecewakanmu? 
Membuatmu terangkat lalu terjatuh tertimba roda bernama nasib? 
Seberapa sering sakit rasa kecewa itu membuatku terbelenggu? Merasakan merananya turbulensi kehidupan?
Menyakitkan? Sedih? Sebal? Takut kecewa lagi?

Haha, manusia mana di dunia ini yang tidak pernah kecewa. Manusia mana juga yang tidak mengecewakan. Keinginan kita terhadap sesuatu. Harapan yang terlalu tinggi akan sesuatu ataupun seseorang sering kali menghadapkan kita pada kekecewaan. Tapi, bukankan kekecewaan itu mendewasakan? 

Mari kita ingat, kapan terakhir kali kita dikecewakan oleh sesuatu atau seseorang? 
Tadi. Semalam. Kemarin. Kemarin lusa. Atau telah lama berlalu. 

Kecewa pada dasarnya emosi yang wajar. Wajar dong kita kecewa ketika tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Wajar juga kita kecewa ketika kita telah berharap tapi tidak terjadi. Sayangnya, kita akan bersedih jika sesuatu terjadi ketika tidak sesuai harapan. Yah, wajar. KECEWA wajar. 

Tapi bukan seberapa sering hidup mengecewakan kita. Bukan seberapa sering harapan menjatuhkan kita pada lubang bernama kekecewaan. Kekecewaan mengajarkan kita untuk tetap berharap sekalipun hidup atau seseorang atau sesuatu terjadi tidak sesuai harapan. Ya, hidup dan kekecewaan membuat kita bisa lebih bersahabat kepada sisi lain kehidupan bernama HARAPAN. Begitulah hidup terkadang menguatkan hati kita. Kuat bersama harapan yang terkadang pupus tapi tetaplah memiliki harapan. Jadi, seberapa sering hidup membuatmu merasa kecewa? Masihkah kita memiliki harapan? 

Mari tetap berharap pada kehidupan yang akan mengajarkan kita mengenai kedewasaan. 
Seseorang yang kuat adalah seseorang yang telah jatuh berkali-kali tapi tetap hidup bersama harapan. 

Selamat bertumbuh, 
Selamat bersahabat bersama harapan dan kekecewaan, 
Cheers, Keep Strong and Smile 


-Naya Kanata- 

Senin, 06 April 2015

CLBK


CLBK ... Pernahkah mendengar singkatan itu? 
Yup, CLBK atau cinta lama bersemi kembali.. Hehehe, karena dalam perjalanan beberapa hari lalu saya lagi ngebahas CLBK SD dengan seorang dosen jadi saya pingin nulis topik ini. 
Um, kalau bagi saya sih CLBK itu CINTA LAMA BELUM KELAR. 
Yah, biar itu tidak terjadi makanya ya kelarin dong. KELARIN.... wkwkwkw

Pada pernah dong, suka sama seseorang tapi dipendam lama, lama hingga akhirnya membusuk dan rasa itu menghilang. Atas disimpan selamanya hingga sekarang. Gak pernah disampaikan. Saya gak paham ya kenapa ada kisah seperti ini. Tapi saya percaya ini pilihan. Btw, mungkin semua atau yah sebagian besar dari kita mungkin mengalaminya. Sebuah kisah yang tak pernah diakhiri atau bahkan berakhir sebelum dimulai. Yahaaa,... Saya sendiri pernah mengalaminya. Yup....Kisah yang diakhiri sebelum semua kisah itu dimulai. 

Jadi ceritanya begini, wkwkwk... (Saya udah nahan tawa setiap mengingat kisah ini). 
Nah, ceritanya ketika itu adalah aku yang masih unyu-unyu dan baru mengenal cinta pertama. Bertemulah saya dengan seseorang yang cerdas dan dikagumi banyak orang. Pemenang sebuah olimpiade (Sekalipun saya ikutan olimpiade tapi karena gak pernah dapat juara 1 jadi tetap aja jadi kagum sama dia yang dapat juara 1). Dan, ternyata kami memiliki jumlah pertemuan yang cukup banyak. Di kelas. Di organisasi. Sayangnya ya, dia gak pernah menghubungi saya. Sayangnya lagi, saya salah paham mengira dia bisa suka saya. Ehmm, anggaplah saya ngasi kode ke dia. Dan entahlah, mungkin dia tindak menbaca kode saya. Atau seringnya saya juga merasa dia ngasi kode ke saya. Dan jadilah kami main kode-kodean hingga 6 tahun (OMG, udah kayak pramuka aja. Kode dan morse..) Sayangnya semua itu cuma sekadar kode. Dan gak pernah berlanjut menjadi sebuah hubungan yang serius. Serius demi kaki ikan, gue akhirnya ketemu cowok yang buat gue bisa move on. 

Karena ketemu nie cowok gue jadi belajar banyak kalau cinta itu butuh keberanian, man. Gue banyak mereview kehidupan gue sama si kode morse ini. Ehm, benar. Aku gak pernah berani menunjukkan secara jelas maupun mengutarakan bahwa aku menyukainya. Kami cuma main kode-kodean. 
Jadi itu cinta yang gak pernah kesampaian kan? Ups, maksudnya gak pernah aku sampaikan. Dan, kemudian kami bertemu dalam sebuah pertemuan (emang dasarnya tetap sering ketemu sih walaupun udah pisah sekolah tetap satu kampus). Untungnya ya, dikamus hidup gue gak pernah yang namanya CLBK. 

Jadi apa yang telah terjadi udahlah. Loe dan Gue udah. Udah selesai. Dengan bertemunya dengan orang baru ini maka berakhirlah sudah semuanya. Gimana caranya kelarin?

Kelarin sebuah kisah itu sebuah prinsip hidup, man. Kalau gue sih, apa yang sudah berakhir ya sudah berakhir. Ketika udah memiliki kehidupan baru maka ya sudah apa yang sudah lewat maka tidak berhak mengusik hidup gue lagi. Kenapa? Karena menurut gue, dia yang dulu pernah pergi adalah dia yang gak pernah menghargai gue. Atau orang sering bilang, "ada yang lebih baik buat kita". Jadi, ketika dia udah pergi, udah. Udah gue gak akan meletakkan dia di masa depan. Cukup dia ada di masa lalu gue. Jadi gak ada tuh istilah cinta lama belum kelar apalagi sampai bersemi kembali. NO. TIDAK. TIDAK AKAN. 

Oke, begitu saja... Jadi ketika sudah melangkah ke depan, buat apa melangkah menuju belakang? Bukankah itu namanya mundur? 
Bukankan mundur itu suatu kemunduran? 
Jadi mau hidup kita mundur? 
Tapi itu kan prinsip gue ya. Kita berhak punya prinsip hidup masing-masing dengan segala tanggungjawab yang kita miliki.


Uhm... Sudah Itu saja.. Selamat menikamati senja yang indah 



Rabu, 01 April 2015

Perjamuan Diantara Keheningan


Aku melihat jelas wajahmu dari kejauhan sama memanggil nama Silla. Mengejar. Melintasi mobil yang berlalu lalang. Melewati langkah-langkah puluhan orang. Berpacu bersama waktu mencengah si cantik Silla pergi meninggalkanmu. Jelas sekali kudengar suaramu saat berkata dengan wajahmu yang syahdu itu, "Tolong tetap tinggal."

Dan dia tetap meninggalkanmu kan? Hingga kita bertemu dalam perjamuan di siang hari itu. Aku tak pernah menyangka, kamu yang tak aku lihat adalah apa-apa. Kamu yang aku pikir saat itu hanyalah lelaki lemah tanpa suara. Mudah menyerah. Dan hanya mampu berkata,"tolong tetap tinggal." Lelaki yang sangat tidak menarik bagiku ketika itu.

Ah, aku tak pernah menyangka, aku mengingat jelas banyanganmu ketika kita bertemu hari itu. Kita yang tidak saling mengenal tapi kini begitu akrab. Keakraban yang kadang membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Beterbangan hingga jantung. Menggelitik hati. Mewarnai hari. Membuatku merindu sebelum tidur lelapku.

Apa ini cinta? Bagaimana kalau kita anggap iya. Aku tahu rasa di hatiku dapat kusebut cinta. Cinta masa muda diantara pertumbuhan menuju kedewasaan ini. Aku yakin pada rasa yang kumiliki. Hanya saja, aku tak yakin padamu. Wajar bukan?

Aku mengingat jelas bagaimana putus asanya dirimu dihari itu. Masih jelas diingatanku bahwa mukamu bersemu syahdu ketika namanya di bahas. Silla. Iya, aku tahu betapa cantiknya dia. Aku tahu betapa pintarnya dia. Wanita yang sempurna dimatamu. Terkadang aku ingin mengatakan, "Tapi dia telah memilih kehidupannya, Ra."

Sayangnya, tak satupun kata bahkan huruf itu keluar dari mulutku. Sayangnya itu terus tertahan di hatiku. Mengendap. Menguap bersama rasa cinta yang terus aku sampaikan dalam doaku. Dalam kehingan aku selalu berusaha berkata pada hatimu, "di sini aku merindukanmu dengan cinta tanpa serpihan di hatiku." Berharap hatimupun lapang. Melepas masa lalu. Menyediakan sedikit tempat untuk aku. Sampai suatu titik aku tersadar, pertemuan-pertemuan kita terlalu erat. Terlalu rapat. Tanpa jeda. Mengutip kata Dee, kita baru bisa saling menyayangi jika ada ruang. Mungkin kamu butuh ruang. Aku dan kamu butuh jeda hingga akhirnya bisa menyepakatkan hati. Apakah begitu?
Ah, aku tak tahu pasti Nara.

Kamu adalah wajah yang sulit aku tebak. Kamu yang manis namun terkadang membuatku bingung. Baiklah, jika memang kita butuh jeda, maka kepergianku adalah cara terbaik membuatmu bahagia kan? Jika nanti suatu hari kita bertemu, kemuadian aku dan kamu saling jatuh cinta kembali untuk kedua kalinya, maka itu adalah cara terindah hidup mempertumukan kita. Indah bukan?

Sayangnya, mungkin saja kamu tidak pernah mencintaiku seperti yang aku banyangkan selama ini. Toh, kini saat aku melangkah mantap di depanmu menuju pintu penerbangan, kamu tidak memanggil namaku. Suaramu tak pernah kudengar. Yah, kini aku tahu jika rasa yang aku miliki hanyalah rasa milikku bukan milikmu. Hatimu masih belum melupakannya ya?
Ya, aku paham.
Karena jika kamu memiliki rasa yang sama yang kita sebut itu cinta, maka akan ada sebuah perjuangan bukan. Kamu tahu, kenapa perjuangan itu ada?
Satu jawabannya adalah "CINTA", ketiadaannya akan meniadakan perjuangan. Jadi, jelas bukan?
Rasa di hatimu kamu sebut itu apa?

Jika kamu pernah memperjuangkannya bersama rasa benama cinta, lalu kenapa kamu tidak memperjuangkanku juga? Terimakasih atas jawaban yang tak pernah kamu ungkap. Tak pernah kamu katakan. Tapi aku tahu pasti dari setiap ketiadaan perjuanganmu. 

Adalah sebuah pesan terakhir yang berani aku kirimkan melalui ponselku. Menghantarkan penerbanganku menuju kehidupan baru. Ketika pesawat lepas landas, aku suka sekali melihat wajahku di cermin. Aku tahu, kalau akan ada saat kita bertemu dan berpisah. Jika kita kembali bertemu dalam sebuah kisah berbeda namun tetap membuatku jatuh cinta, maka kamu adalah kehidupan terbaik yang pernah aku miliki. Dan selamat tumbuh menikmati hidupmu dengan segala senyuman tanpa aku, cinta yang tulus. Yang selalu merindukanmu. Memperjuangkanmu dalam setiap doa di kehenigan malam. Dalam pertemuan bersama hati yang suci. Di sini perjamuan diantara keheningan bersama hati, cinta, dan nafas.


-Naya Kanata-
April 2015