Ada kalanya gue ngerasa sepi. Sepi banget dunia ini walaupun di sekitar gue lagi ada banyak orang. Ketika itu terjadi, gue ngerasa muak banget sama semua orang di sekitar gue. Ada kalanya, gue ngerasa butuh sendiri. Maka gue pergi sendiri ke tempat yang gue mau. Tapi kadang ketika itu, gue ketemu orang yang ngajak gue ngobrol. Kadang ini buat gue sebel. Tapi ada kalanya gue lagi butuh banget temen ngobrol dan gue baru sadar kalau gue gak punya siapapun lagi buat gue andelin.
Dari dulu, dari zaman gue baru sadar kalau di dunia ini gak cuma ada gue dan keluarga gue, gua gak percaya yang namanya keabadian. Menurut gue, semua hal itu bakalan hilang. Pengalaman gue ngajarin gitu. Satu-satunya yang nguatin gue adalah keluarga gue. Tapi suatu hari, keluarga gue udah gak kayak dulu lagi. Jadi, mulai ketika itu gue ngerasa gak punya siapa-siapa dan gue ngerasa gue butuh yang namanya orang lain seperti teman, sahabat atau pacar.
Kayak kalau gue lagi galau sekarang ini. Gue "ngerasa" butuh yang namanya pacar atau sahabat.
Dulu, waktu SMP gue pernah bilang ke seseorang kalau gue gak percaya yang namanya persahabatan. Tapi di lubuk hati gue yang paling dalam gue pingin banget punya sahabat. Seseorang yang bisa gue ajak berbagi bukan sekadar tentang duka tapi juga tentang kebanggan yang gue lakuin di hari-hari gue tanpa dia berkomentar bahwa gue sombong.
Sometimes (apa sih bahasa indonesianya, gue lupa), gue butuh seseorang yang peluk tubuh gue ketika gue nangis. Ketika hati gue sakit banget. Tapi Tuhan sedang ngajarin gue hal yang berbeda. Gak semua yang gue rasa butuhin adalah benar yang gue butuhin. Ini gue pelajari dari dulu sebenarnya, tapi maknanya baru semakin gue pelajari ketika gue mamasuki usia 20 Tahun.
Bukan gue gak menghargai teman-teman gue yang selalu bilang bahwa mereka adalah sahabat gue. Tapi di ekspektasi gue sahabat itu adalah seseorang yang lebih dari teman. Seseorang yang ngerti gue dan juga gue ngerti. Bisa gue ajak bercerita dan dia juga bercerita. Intinya bukan hanya komunikasi satu arah tapi komunikasi dua arah.
Sebenernya gue agak sakit hati dengan perkataan teman gue yang nanyain, "apa dulu loe pernah punya sahabat?"
Gue sendiri gak tahu jawabannya. Sometimes, gue menghargai teman-teman gue. Sampai sekarang gue sayang banget sama mereka. Gue menghargai banget apa yang mereka lakuin ke gue waktu gue patah hati di tahun 2010 dulu. Mereka bantu gue bangkit. Mereka semangat gue. Tapi sekarang, apa persahabatan bisa dipisahkan oleh jarak atau perubahan status?
Di ekspektasi gue jawabannya ENGGAK. Tapi pada kenyataannya jawabannya "YA" pake BANGET TENTU SAJA.
Yah, anggap aja gue ngeluh dengan hidup gue ini. Bahkan sekarang gue udah gaak tahu kabar mereka. Dan mereka juga gak tahu kabar gue kan? Yah, cukup mereka tahu bahwa gue bahagia dengan kehidupan gue sekarang. Gue sibuk dengan kehidupan gue sehingga gue gak sempet menghubungi mereka.
Walaupun sebenarnya bukan itu. Ada hal yang gue butuh ceritain tapi gak ada yang mau dengerin gue. Gue cuma butuh seseorang buat dengerin gue dan seenggaknya bilang "Ceria, kamu kuat dan semua memang tidak sedang baik, tapi semua baik saja." Kenyataannya cuma diri gue sendiri yang bilang itu ke diri gue sendiri. Yah, setidaknya itu guatin gue.
Ketika malam-malam gue keinget sama kejadian yang buat gue sakit. Ketika gue inget kenangan tentang keluarga gue. Ketika gue inget tentang cinta gue yang gak merhatiin gue. Ketika gue butuh pelukan seseorang buat nenangin gue, gak ada siapapun di samping gue. Tapi gue tahu, Tuhan ngasi ini ke gue karena gue kuat. Karena gue masih punya DIRI GUE sendiri. Dan maka, gue peluk diri gue sendiri. Setidaknya itu buat gue lega. Dan keesokan harinya gue udah bisa melenggang menghadari hari baru tanpa ada yang tahu berapa liter air mata yang gue keluarin selama berjam-jam semalam. #Enough
Ketika gue pingin jalan-jalan ke sebuah tempat, dan gue sadar gue gak punya siapa-siapa lagi. Dulu, gue sempet ngajakin teman-teman gue buat jalan. Gak jarang mereka menerima. Dan sering juga mereka menolak ajakan gue. Sampai suatu titik gue bosen ngajak mereka, karena yang gue inget yang terakhir kali pergipun gue yang gajakin mereka pergi. Gue gak inget kapan mereka inget ngajakin gue hagout atau sekadar ngumpul bareng. Tapi gue seneng kalau liat mereka upload foto mereka lagi jalan bareng sama teman-teman barunya. Dan ketika gue pingin jalan tapi gak ada siapa, gue jalan aja sendiri. Toh, tujuannya adalah jalan-jalan kan? Jadi gak ada bedanya gue pergi bareng siapa atau sendiri aja. Dan gue paling benci pertanyaan "Sendiri aja?" kalau lagi jalan ketemu sama kenalan. #Enough
Kayak yang gue bilang tadi, gue bersyukur banget banyak orang pernah menjadi teman gue. Gue tetap berterima kasih sama teman gue yang ngusir gue secara halus dari rumahnya ketika gue butuh banget tumpangan. Walaupun kadang gue dongkol dan dipikiran gue muncul pikiran macem-macem tentang gak dihargainya pertolongan gue ke dia. Tapi balik lagi ke prinsip awal gue, gue mungkin gak benar-benar butuh dia.
Loe percaya gak yang namanya ikatan? Nah, jadi mungkin ikatan gue sama mereka semua emang segitu aja. Kalau seandainya suatu saat kita dipertemukan lagi itulah artinya ikatan kita emang masih ada.
Ah, satu lagi. Kadang gue ngerasa butuh pacar. Cinta gue kapan loe nembak gue? hehehe,
Kalau lagi pisah gini, gue ngerasa banget butuh pacar. Kalau lagi ngumpul bareng teman-teman dan bareng dia, gue ngerasa gue butuh status yang lebih. Tapi, lagi-lagi balik ke prinsip awal, mungkin tuhan menganggap gue belum butuh.
Intinya gue pingin nyampein ke loe semua kalau loe semua boleh menjalin ikatan ke orang tapi suatu saat ikatan itu akan putus. Gak ada yang abadi di dunia ini. Cuma kepentingan yang abadi. Ngapain loe temenan? Karena loe butuh hubungan yang hangat kan? Nah, itu juga kepentingan. Seiring dengan perubahan kepentingan itu, maka hubunganpun akan berubah. Jadi kalau loe mau bergantung, bergantunglah pada diri sendiri. Semua orang yang hadir di hidup kita itu cuma dipinjam Tuhan biar kita belajar. Biar kita jadi pribadi yang lebih matang. So, kalau tugas mereka udah selesai, mereka pasti pergi dari hidup kita. Dan ketika itu terjadi, loe tetap gak sendiri. Loe punya diri loe sendiri buat nolongin diri loe sendiri. So, berdirilah di atas kedua kaki sendiri karena tak ada kaki yang lebih kuat menopang tubuh orang lain.
Senin, 16 Juni 2014
Minggu, 15 Juni 2014
Wanna Say "THANK YOU"
Adakah yang percaya "Karma" ?
Kalau ditanya ke saya, pasti saya menjawab sangat percaya. Bahkan kalau ditanya lebih percaya mana antara karma dan Tuhan? Kalian boleh mencibir bahwa saya lebih percaya yang namanya karma dibandingkan dengan Tuhan. Kadang bahkan sering saya sering mempertanyakan kehadiran tuhan. Sering kali saya bertanya, apa Tuhan benar ada? Apa tuhan bukan hanya sebuah mitos yang kemudian dipercaya dan diwariskan secara turun temurun? Jika dia ada, mengapa ia tak berwujud, maka semua jawabannya mengarahkan saya untuk lebih percaya yang namanya karma.
Yang saya kenal, karma adalah perbuatan. Pernah dengar hukum tarik menarik bukan? Nah, begitulah menurut saya karma juga bekerja. Ketika kita berbuat maka terjadilah yang harus terjadi. Dan begitulah akhirnya saya yakin bahwa segalanya merupakan hasil dari karma. Disamping juga bahwa semuanya telah diizinkan Tuhan terjadi. Yah, kalau saya sendiri mengibaratkan Tuhan seorang pemimpin besar yang jika berkata "Ya" maka semua akan terjadi. Tapi, karma itu adalah proposalnya. Kalau kita buat kegiatan kan harus ada proposal baru bisa di-"Ya" atau "Tidak" kan kegiatan tersebut. Nah, begitu juga hidup dan segala kejadian yang terjadi.
Hoho, untuk semua kejadian itu maka saya berterimakasih. Karena semua orang yang hadir. Karena semua kejadian yang ada. Maka saya berada di titik saya sekarang. :)
Kalau ditanya ke saya, pasti saya menjawab sangat percaya. Bahkan kalau ditanya lebih percaya mana antara karma dan Tuhan? Kalian boleh mencibir bahwa saya lebih percaya yang namanya karma dibandingkan dengan Tuhan. Kadang bahkan sering saya sering mempertanyakan kehadiran tuhan. Sering kali saya bertanya, apa Tuhan benar ada? Apa tuhan bukan hanya sebuah mitos yang kemudian dipercaya dan diwariskan secara turun temurun? Jika dia ada, mengapa ia tak berwujud, maka semua jawabannya mengarahkan saya untuk lebih percaya yang namanya karma.
Yang saya kenal, karma adalah perbuatan. Pernah dengar hukum tarik menarik bukan? Nah, begitulah menurut saya karma juga bekerja. Ketika kita berbuat maka terjadilah yang harus terjadi. Dan begitulah akhirnya saya yakin bahwa segalanya merupakan hasil dari karma. Disamping juga bahwa semuanya telah diizinkan Tuhan terjadi. Yah, kalau saya sendiri mengibaratkan Tuhan seorang pemimpin besar yang jika berkata "Ya" maka semua akan terjadi. Tapi, karma itu adalah proposalnya. Kalau kita buat kegiatan kan harus ada proposal baru bisa di-"Ya" atau "Tidak" kan kegiatan tersebut. Nah, begitu juga hidup dan segala kejadian yang terjadi.
Hoho, untuk semua kejadian itu maka saya berterimakasih. Karena semua orang yang hadir. Karena semua kejadian yang ada. Maka saya berada di titik saya sekarang. :)
Jumat, 13 Juni 2014
I Can't Speak Part I
Hari ini gue lagi duduk di beranda rumah dengan perut yang super buncit dan bakalan tambah buncit lagi dua bulan mendatang. Terus membuncit dan bikin tubuh gue makin melar gak jelas. Dan, dan kayaknya gue bakalan ngerasa gak seksi sama sekali dua bulan mendatang. Walaupun kata cinta gue, gue lebih seksi dari Angelina Jolie. Gue harap juga gitu. Tapi kenyataannya itu, tubuh gue dengan suburnya melar. Memekar dan gak kayak bunga. Tapi satu hal yang tetep bikin gue PD ke mana-mana karena cinta gue tampan dan ganteng ini tetap mau nemenin gue kemanapun gue mau. Hahahaha, itu bikin gue bersyukur.
Sometime, kalau gue lagi jalan sama cinta gue ini dan ketemu temennya yang jadi model, gue ngerasa gue enggak banget ya buat cinta gue. Ya, ampun gue itu beruntung banget bisa sampe dapet ni cowok. Kadang gue mikir sendiri, gue pake pelet apa ya ampe ni cowok nempel gini sama gue dan sekarang bakhan di perut gue sekarang lagi ada juniornya dia, hehehe. Uhm, pake pelet apa coba gue? Loe semua mau tahu gak? Gue cuma punya satu pelet yaitu cinta yang tulus.
Itu jawaban gue jujur kalau teman-teman gue yang baru kenal cinta gue ini syok ngeliat kami jalan bareng. Gak bisa gue pungkiri yaang, untuk ukuran cewek itu gue itu standarnya pake banget. Tinggi gue cuma 153 doang, walaupun masih dibilang proporsional ya dengan berat badan 50 kg (dulu waktu gue belum isi makhluk lucu diperut gue, sekarang jangan tanya). Kulit gue sawo matteng gak jelas gitu. Satu sih yang bagus di gue (itu menurut teman-teman gue), taraa, itulah rambut gue. Rambut gue lurus secara alami dan item. Rambut gue setipe sih sama rambut cinta gue ini. Dan, cuma itu persamaan kami. Sisanya, cinta gue ini manis manget. Loe pada tahu artis Thailand Mario Maureel kan? Nah, cinta gue mirip banget sama itu. Senyumnya,wajahnya, mata sipitnya. Bedanya sama si Mario itu ya cuma satu, orangnya. hehehe, Oiya, cinta gue ini bisa dibilang putih lah untuk ukuran cowok. Dulu ya, waktu pertama kali kami berenang bareng, gue sempet minder liat warna kulitnya. Dibandingin sama kulit gue, miris gue. Yah, kalau ada dongeng yang bilang beauty and the biz, nah gue ini charming and the standar (asal banget). wkwkwk. Yah, intinya gue standar dia itu cakep banget di mata gue. Gak tahu ya, gimana gue dimata dia, secara dia gak pernah muji gue. Gak waktu nembak, gak waktu jadian, gak waktu malam pertama, dan gak sampai sekarang. Jadi bingungkan kenapa dia jatuh cinta sama gue. Ah, gue aja bingung.
Walau dia gak pernah muji gue (atau sebenarnya dia pernah muji tapi gue gak inget? entahlah. Ntar deh gue inget-inget lagi), gue tetap cinta setengah hidup sama dia. Eh, cinta pake banget sekali teramat sangat loo. Karena dia itu cintaa gue. Cinta sejati gue. Cinta yang sangat lucu perjalanannya.
"Kenapa?" tanya cinta gue, narik gue dari dunia memori alias ngejutin gue. Bukannya tadi dia lagi baca koran ya? Diliatnya gue lagi senyum-senyum sendiri kali ya.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" jawabku, membuatnya menarik nafas panjang dan bilang, "ya udah gak usah dikasi tahu."
"Okee, manis" jawabku mendaratkan ciuman lembut di pipi kanannya.
Weist, apa kalian pikir kami marahan? Nononooo, kalian salah. Tapi memang begitulah komunikasi kami setiap hari. Apa terlihat dingin? Sebenarnya gak juga sih, cuma kami saling menghargai. Tepatnya aku mencoba mengerti setiap apa yang dia inginkan. Setiap hal lo, dan apa kalian berpikir ini sulit? Tidak, ini tidak sulit. Ini sangat mudah, karena aku melakukannya dengan setulus hati dan tanpa mengharapkan dia juga mengerti seperti apa yang aku inginkan. Apa aku bodoh?
Gue sendiri akan memberikan pembelaan kalau setiap orang boleh berpikir apapun tentang gue dan sikap gue terutama ke cinta gue ini, tapi gue pribadi berpikir gue gak bodoh. Karena dengan semua hal yang gue lakuin sama dia gue bahagia selama dia gak melanggar hal-hal yang kami sepakati di awal pernikahan kami. Gue gak pernah merasa keberatan buat nurutin kemauan dia yang masih masuk akal. Gue juga gak pernah mau maksaain apa yang gue mau ke dia. Gue cukup minta sekali, kalau dia gak mau ya udah. Itu yang dia latih ke gue sejak kami temenan sampe sekarang kami resmi jadi keluarga. Gue juga sama sekali gak mau ngontrol dia. Karena kalau gue mulai ngontrol dia, guelah yang akan sakit sendiri.Rasa sakit yang ngingetin gue pada masa awal gue baru sadar kalau gue jatuh cinta sama cinta gue ini.
Sometime, kalau gue lagi jalan sama cinta gue ini dan ketemu temennya yang jadi model, gue ngerasa gue enggak banget ya buat cinta gue. Ya, ampun gue itu beruntung banget bisa sampe dapet ni cowok. Kadang gue mikir sendiri, gue pake pelet apa ya ampe ni cowok nempel gini sama gue dan sekarang bakhan di perut gue sekarang lagi ada juniornya dia, hehehe. Uhm, pake pelet apa coba gue? Loe semua mau tahu gak? Gue cuma punya satu pelet yaitu cinta yang tulus.
Itu jawaban gue jujur kalau teman-teman gue yang baru kenal cinta gue ini syok ngeliat kami jalan bareng. Gak bisa gue pungkiri yaang, untuk ukuran cewek itu gue itu standarnya pake banget. Tinggi gue cuma 153 doang, walaupun masih dibilang proporsional ya dengan berat badan 50 kg (dulu waktu gue belum isi makhluk lucu diperut gue, sekarang jangan tanya). Kulit gue sawo matteng gak jelas gitu. Satu sih yang bagus di gue (itu menurut teman-teman gue), taraa, itulah rambut gue. Rambut gue lurus secara alami dan item. Rambut gue setipe sih sama rambut cinta gue ini. Dan, cuma itu persamaan kami. Sisanya, cinta gue ini manis manget. Loe pada tahu artis Thailand Mario Maureel kan? Nah, cinta gue mirip banget sama itu. Senyumnya,wajahnya, mata sipitnya. Bedanya sama si Mario itu ya cuma satu, orangnya. hehehe, Oiya, cinta gue ini bisa dibilang putih lah untuk ukuran cowok. Dulu ya, waktu pertama kali kami berenang bareng, gue sempet minder liat warna kulitnya. Dibandingin sama kulit gue, miris gue. Yah, kalau ada dongeng yang bilang beauty and the biz, nah gue ini charming and the standar (asal banget). wkwkwk. Yah, intinya gue standar dia itu cakep banget di mata gue. Gak tahu ya, gimana gue dimata dia, secara dia gak pernah muji gue. Gak waktu nembak, gak waktu jadian, gak waktu malam pertama, dan gak sampai sekarang. Jadi bingungkan kenapa dia jatuh cinta sama gue. Ah, gue aja bingung.
Walau dia gak pernah muji gue (atau sebenarnya dia pernah muji tapi gue gak inget? entahlah. Ntar deh gue inget-inget lagi), gue tetap cinta setengah hidup sama dia. Eh, cinta pake banget sekali teramat sangat loo. Karena dia itu cintaa gue. Cinta sejati gue. Cinta yang sangat lucu perjalanannya.
"Kenapa?" tanya cinta gue, narik gue dari dunia memori alias ngejutin gue. Bukannya tadi dia lagi baca koran ya? Diliatnya gue lagi senyum-senyum sendiri kali ya.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" jawabku, membuatnya menarik nafas panjang dan bilang, "ya udah gak usah dikasi tahu."
"Okee, manis" jawabku mendaratkan ciuman lembut di pipi kanannya.
Weist, apa kalian pikir kami marahan? Nononooo, kalian salah. Tapi memang begitulah komunikasi kami setiap hari. Apa terlihat dingin? Sebenarnya gak juga sih, cuma kami saling menghargai. Tepatnya aku mencoba mengerti setiap apa yang dia inginkan. Setiap hal lo, dan apa kalian berpikir ini sulit? Tidak, ini tidak sulit. Ini sangat mudah, karena aku melakukannya dengan setulus hati dan tanpa mengharapkan dia juga mengerti seperti apa yang aku inginkan. Apa aku bodoh?
Gue sendiri akan memberikan pembelaan kalau setiap orang boleh berpikir apapun tentang gue dan sikap gue terutama ke cinta gue ini, tapi gue pribadi berpikir gue gak bodoh. Karena dengan semua hal yang gue lakuin sama dia gue bahagia selama dia gak melanggar hal-hal yang kami sepakati di awal pernikahan kami. Gue gak pernah merasa keberatan buat nurutin kemauan dia yang masih masuk akal. Gue juga gak pernah mau maksaain apa yang gue mau ke dia. Gue cukup minta sekali, kalau dia gak mau ya udah. Itu yang dia latih ke gue sejak kami temenan sampe sekarang kami resmi jadi keluarga. Gue juga sama sekali gak mau ngontrol dia. Karena kalau gue mulai ngontrol dia, guelah yang akan sakit sendiri.Rasa sakit yang ngingetin gue pada masa awal gue baru sadar kalau gue jatuh cinta sama cinta gue ini.
I Can't Speak (Prolog)
Ceria. Itu namaku. Pemberian tidak resmi dari keluargaku. Kusebut tidak resmi karena nama itu bukanlah nama yang tertulis di akta kelahiranku. Tidak tertulis juga di seluruh ijazahku sejak TK sampai aku sekarang kuliah. Tidak tertulis di satupun sertifikat yang aku kumpulkan. Ceria hanyalah sebuah nama ketika aku kecil. Nama yang terbawa hingga sekarang. Sebuah nama penuh sejarah.
Konon katanya nama itu diberikan karena senyumku. Hohoo, bukanya ke GRan atau terlalu PD ya, tapi kata keluargaku senyumku itu bawa keceriaan bagi mereka. Aku hidup dalam keluarga yang keras, tapi aku masih bisa tersenyum. Itulah yang membuat mereka lebih suka memanggilku Ceria dibandingkan nama asli yang tertera di akta.Nama dan cerita itulah yang selalu membuatku kuat ketika aku terluka. Hingga suatu hari aku pernah lupa cara tersenyum.
Itu terjadi ketika orang yang aku sukai menjadi pacar orang lain. Ah, siapa sangka ternyata aku mengalaminya lagi tiga tahun kemudian. Tapi dengan kasus yang berbeda. Kali ini, keluarga sebagai penguatkulah yang hancur. Ternyata itu tak cukup bagi tuhan untuk mengajariku arti bertanya, disaat yang bersamaan pula aku menyadari cintaku yang baru. Bukan kesadaran yang membuatku semakin kuat. Tapi kesadaran yang membuatku semakin rapuh karena hari itu aku termakan cemburu yang tak tanggup aku bendung selama berbulan-bulan. Oh, kenangan menyakitkan penuh pembelajaran dan kelucuan jika diingat. Kenangan tentang menemukan cinta sejatiku. Cintaku. Cinta yang kini dihadapanku. Calon ayah dari kehidupan mungil di perutku hari ini.
Langganan:
Komentar (Atom)