Kamis, 30 Mei 2013

HOME

Rumah.. Mendengar/melihat kata itu apa yang kamu pikirkan pertama kali?

Jika aku ditanya begitu, dengan pasti aku akan menjawab
"Rumah adalah tempatku tumbuh dan berkembang sejak aku lahir hingga sekarang. Sebuah tempat yang nyaman, ada orang-orang yang saling menyayangi dan sangat berharga bagiku. Orang-orang yang lebih dari segalanya berada berkumpul di tempat yang bernama 'rumah'. Sebuah tempat yang sangat indah menyenangkan, nyaman dan membuatku merindukan tempat ini selalu."
Setidaknya itulah gambaran rumah bagiku selama ini.

Ketika aku mengatakan tempat yang nyaman, indah, dan menyenangkan jangan bayangkan sebuah rumah besar dengan segala perabotan mahalnya. Rumahku sederhana tempat kami membuat dan berbagi cerita.

Diantara kami semua nenekku adalah orang yang paling suka bercerita. Dari dia aku tahu cukup banyak penderitaan yang membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Selain itu akupun dapat menyimak perubahan rumah kami dari masa ke masa.

 Seperti rumah Bali, ada 4 petak bagunan. Di pojok timur laut ada sebuah tempat ibadah bernama 'sanggah', di depannya ada bangunan bernama bale daje,  kemudian di bagian timur ada bale dangin, dan ada sebuah dapur yang seukuran 3x4.

Ku dengar dari cerita nenekku yang memiliki 6 orang anak, sebelum aku lahir ayahku, dan bibiku selalu berbagi segalanya. Makan. Minuman, dan apapun yang mereka punya. Jika punya satu, maka masing-masing dari mereka hanya mendapatkan 1/6. Yah, anak-anak nenekku terutama yang ketiga seperti anak lainnya juga ada yang tetap ingin lebih maka dimakanlah diam-diam makanan bagian kakaknya. Namun itu semua tidak mengurangi sedikitpun kehangatan dalam keluarga itu.

Sebuah cerita lain yang menarik. Bale Dangin, bukanlah bangunan yang mewah. Kala itu penerangan belum benar ada (cerita nenekku). Anak pertama nenekku memegang beban yang cukup berat sedari kecil. Ia mengurus adiknya. Kamar di bale dangin tidaklah berpintu. Suatu malam dengan hujan dan badai, nenekku melahirkan anaknya yang keempat. Saat itu anak pertama dan keduapun masih sangat kecil. Dalam keadaan seperti itu (nenekku melahirkan) dan bibiku melindungi adiknya dari hujan dan badai.

Aku tersenyum haru mendengar cerita nenekku. Yah, walaupun keadaan itu menyedihkan mereka dapat melewati semuanya.

Menurut keluargaku, aku adalah anak yang cukup beruntung karena aku tidak perlu melewati masa seperti yang mereka alami. Yaaah, aku sadari aku memang langsung mendapati rumah yang nyaman. Kamar-kamar berderet empat dengan pintu yang cukup bagus. Dapur bukan lagi dapur terbuka namun semua sudah menggunakan keramik.

Semuanya nyaman. Satu yang aku sukai adalah kami semua saling menyayangi. Semua hal boleh berubah, namun sangatlah menyenangkan ketika kasih sayang yang kami miliki tetap sama, Kami saling menyanyangi satu sama lain.

Setidaknya begitulah yang kurasakan sampai 3 tahun lalu. Tiga tahun lalu, anggap saja rezeki nomplok datang ke rumah kami. Ada uang yang mengalir ke rumah kamu. Ya. Itu adalah sebuah warisan dari sanak keluarga yang tidak menikah dan telah meninggal.

Mungkin bagi keluargaku itu adalah rezeki. Namun bagiku itu adalah kutukan.
Bagaimana  tidak ? Sejak itu ada, walaupun ayahku tidak mau ikut campur dengan uang itu, bibi sulungku ingin mempertahankan uang itu agar tidak habis. Kini, ada banyak pertengkaran di dalam keluargaku yang hangat karena hal menyebalkan itu datang ke dalam keluarga kami.

Aku tidak lagi merasakan hangatnya kasih sayang. Semua saling mencurigai. Tidak ada lagi kepercayaan, semua saling menuduh. Tidak ada berbagi, semua ingin menguasai.

Aku yang biasa hidup di tempat yang hangat akan cinta. Dalam keluarga yang saling menyayangi. Dalam hidup yang saling mengisi. Dalam taman yang indah penuh cahaya terang dengan bunga warna warni namun saling melengkapi. Kini aku tidak lagi melihat warna warni bunga yang saling melengkapi. Semua bunga layu. Aku tak melihat taman yang indah. Aku hanya melihat penuh dengan rumput liar. Aku tak lagi melihat cahaya terang. Semua gelap hingga aku tak melihat apapun. Benar-benar gelap.

Aku hampir saja putus asa, ketika ku mengedip2kan mataku untuk menyesuaikan penglihatanku, Aku sadar ini mungkin sebuah masalah. Iya.Sebuah masalah yang akan membuat kami lebih saling menyayangi. Sebuah masalah yang akan sama-sama mendewasakan kami. Aku yakin cahaya yang hilang akan hadir kembali dengan tingkat terang yang jauh lebih terang. Bunga-bunga akan mekar lebih indah dan harum. Dan begitulah semua ini disebut dengan PROSES.

Ibarat sebuah tembikar yang dijual ayahku.
Segenggam tanah liat yang terlihat tak berharga, akan sangat berharga ketika ia telah menjadi tembikar yang indah. Ada sebuah proses yang cukup rumit untuk menjadikan tanah liat sebuah tembikar yang indah. Dan tembikar adalah tanah liah yang telah berproses sedemikian rupa dan kini telah tampak indah .

Minggu, 26 Mei 2013

ZZZZ.. Antara Kita


Aku masih sendiri hingga saat ini. Iya, aku masih sendiri. Apa aku pernah jatuh cinta ?
Oh, tentu saja. Aku adalah manusia yang berkembang secara normal dan wajar. Usiaku sekarang 19 tahun, itu artinya aku remaja. Sesuai tahap perkembanganku tentu saja aku pernah jatuh cinta. Jatuh hingga hampir tak mampu berdiri.
Lima tahun lalu, ketika itu aku baru menggunakan serangan putih abu. Aku berjalan pulang dengan sepupuku. Dalam perjalanan pulang, aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang tidak aku ketahui. Yah, begitulah remaja. Aku melihatnya cukup tampan, membuatku tertarik. Aku lupa kapan tepatnya, sepupuku memberitahuku bahwa ia teman sekolah kami dan namanya Rama (bukan nama sebenarnya, kaia kasus kejahatan apa gitu ya #abaikan).
Mengetahui namanya membuatku penasaran dan mencari tahu. Kami tidak sekelas, namun beberapa waktu sempat membuatku memperhatikannya. Aku tak yakin kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta. Namanya juga remaja, masih belum stabil. Aku mencintainya dengan berbagai alasan yang jelas dan sesuai logikaku. Dia pintar, dia tampan, dan dia membuatku termotivasi untuk bersaing. Begitula h logikaku cukup memainkan peranan dalam urusan cinta monyet ini (cinta pertama lo ya, cinta moyet bukan berarti aku monyet #abaikan).

Cintaku semakin bertambah ketika kamu mulai sekelas (maklum waktu awal SMA kami berbeda kelas, miris kan, wkwkwk). Waktu berjalan, 1,5 tahun kami sekelas. Menurutku cukup lama dan aku tak yakin menyenangkan. Selama itu, aku masih dipenuhi ego. Aku cemburu padahal dia bukan pacarku. Aku bersedih, padahal dia tak sedikitpun menganggapku. Aku bahagia dan mungkin bisa di sebut keGRan.
Dua tahun yang lalu, yang aku lupa tepatnya di bulan oktober atau November dia memilih bersama orang lain. Sakitkah aku ? Bohong banget kalau aku bilang ooo, aku baik-baik saja (kaia lagu deh ya). Aku sedih. Aku kecewa. Aku marah. Aku menangis berhari-hari. Aku berharap itu hanya mimpi buruk dan ketika aku terbangun dia bersamaku. Tapi itulah kenyataan.
Kemarin, aku mengikuti sebuah pelatihan. Point penting yang ku dapat adalah belajar ikhlas itu sulit, tapi akan menyenangkan. Melegakan. Ia, benar. Aku pernah mengalaminya.
Ketika dia memilih bersama orang lain, aku sedih dan terus mengharapkan dia bersamaku. Sebaliknya kenyataannya setiap hari aku harus melihat dia bermesraan dengan pacarnya. Ada kalanya aku lelah dan mempasrahkan semuanya. Jika memang dia bukan untukku, aku merekalan dia bersama pacarnya. Akupun akan berusaha bahagia. Ketika itu ku lakukan, dia mendekat kepadaku.
Sakit hatiku ketika itu berimbas kepada pemilihan kuliah. Aku menggunakan emosi memilih kuliah. Dengan alasan agar jauh dan melupakannyan, aku memilih bandung sebagai kota tujuanku melanjutkan hidup. Tapi siapa sangka, hari ini detik ini aku masih berasa di kota yang sama dengannya. Aku masih di Bali. Bahkan kami berada dalam universitas yang sama. Terkadang aku tersenyum mengingat semuanya. Aku begitu menginginkan pergi dari Bali dan aku gagal di terima di universitas yang kuinginkan. Begitu aku berdoa, aku ingat sekali isi doaku “jika memang kami harus satu universitas, aku akan berusaha menerima kenyataan dan tidak melarikan diri. Yang terpenting adalah aku dapat universitas negeri.”
Mungkin tuhan bener-bener di sampingku ya waktu itu. Then, aku diterima dan kami satu universitas. Tahun awal kami masih sering bertemu. Cukup sering berkomunikasi, walaupun komunikasinya kurang baik. Oiya, dia putus dengan pacarnya ketika kami memasuki universitas.
Aku sempat berpikir, kami akan bersama (bisa pacaran). Tapi aku salah. Dia tidak pernah menyukaiku (#miris).  Aku sempat berambisi membuatnya mencintaiku seperti aku mencintainya. Pelatihan kemarin membuatku sadar “dia hanya benda (benda tuhan/makhluk ciptaan tuhan)”. Dalam keberadaannya, dia tiada. Dia tiada namun ada. (bingungkan? #guejuga#). Kelekatan akan membuatku terlalu terbawa nafsu duniawi. Aku tak tahu kapan, tapi cepat atau lambat, dia atau aku akan meninggalkan baju ini (tubuh). Dia bisa saja tak tampan seperti dulu. Dia bisa saja tak pintar. Akankah aku masih mencintainya ketika itu ?
Yah, ketika itulah kata “dia hanyalah benda” (begitupun aku, “aku hanyalah benda”) menjawab pertanyaanku. Aku harus mengikhlaskannya. Apapun yang terjadi. Dia mencintaiku atau tidak. Dia akan bersamaku atau tidak. Aku mengikhlaskannya. Walaupun aku masih mencintainya, namun mengikhlaskannya membuat hidupku terasa lebih nyaman. Tepatnya aku telah pasrah. Aku tidak lagi berambisi memilikinya. Jika dia memang bisa mencintaiku, aku akan bersyukur. Jika dia tidak bisa mencintaiku, akupun bersyukur. Itu artinya tuhan sedang mengajarkanku untuk menikmati hidup dalam keikhlasan. Lagipula, mencintainya dan melihatnya berbahagia adalah sebuah kebahagiaan yang indah. Aku tidak tersakiti jika dia berbahagia dengan orang lain. Itulah kebahagiaan, tidak menyakiti siapapun. Dan tetap mencintainya dengan perasaan ikhlas ini juga membuatku tetap tersenyum (ini beneran loo, gak munafik. Karena aku lagi berproses untuk hidup lebih baik, maka aku belajar ikhlas). J
Jadi tetaplah tersenyum sekalipun cinta tidak terbalas. Karena pada dasarnya cinta membuat kita tersenyum. Walaupun ada sedih, tersenyum dapat mengurangi kesedihanmu dan bersyukur karena dia membuatmu belajar mengenai sebuah proses kehidupan. J