Setiap manusia pasti bertumbuh bukan? Usia pasti terus bertambah, begitu juga denganku. Hari-hari yang biasa kulewati seperti namaku, Ceria semakin lama terasa menyesakkan. Terkadang aku berpikir, inikah cara Tuhan menyadarkanku? Aku telah berpaling. Salahkah aku?
Lima tahun berlalu aku hanya mencintai seorang lelaki. Dia, Rahsya. Kukenal ketika pertama kali memasuki masa putih abu. Seorang yang begitu populer dikalangan perempuan sebayaku. Tidak hanya di sekolahku. Di sekolah tetangga alias sekolah lain juga beberapa wanita mengenalnya. Beberapa diantara mereka pasti terpesona ketika melihat dia pertama seperti aku yang menetapkan cinta pertamaku padanya. Dia tampan. Pintar. Sopan. Menarik. Cool begitu para wanita yang mengaguminya mengatakannya. Termasuk aku. Siapa yang tidak akan terpesona? Untuk seusiaku, dia adalah tipe paling ideal yang pernah ada. Seperti pangeran dalam dongeng-dongeng. Juga seperti pemeran utama dalam setiap film atau novel romantis. Ia, dia yang menempati hatiku lima tahun. Membuatku tak mampu berpaling.
Awal mengenalnya dia adalah hembusan angin. Ada disekitarku tapi tak mampu kugenggam. Tak mampu kumiliki. Hematnya hanya orang yang memiliki kantung plastik terhebatlah yang mampu memilikinya. Setidaknya itulah pemikiranku. Pemikiran tersebut membuatku bertekad memiliki kantong plastik terhebat. Akan kubuktikan hanya aku yang pantas disisinya. Membuatku terus saja tegila-gila untuk membuatnya terkesan. Aku mengikuti berbagai perlombaan. Aku akan mengusahakan yang terbaik dari diriku memenangkan setiap lomba yang aku ikut. Aneka lomba yang membuat potensiku terasah aku ikuti. Menulis. Drama. Karya Ilmiah. Presentasi. Olimpiade. Hanya menari dan menyanyi saja yang tidak pernah aku coba. Sayangnya, seiring dengan terasahnya sisi terbaik diriku, aku lupa bahwa cinta bukanlah tentang meng-aku-kan aku hingga ia melihatku sebagai aku yang agung. Aku lupa mengenalnya lebih dalam dirinya. Kami tidak banyak berinteaksi walaupun duduk bersebelahan. Kami tidak saling menyapa walaupun berpapasan. Tidak juga saling tersenyum. Iya, memori itulah yang ada di otakku.
Kalau berani bilang dong.
Smsku padanya. Tidak perlu menunggu lama hingga sebuah pesan darinya masuk ke handphone-ku.
Maksudnya, apa? Ini siapa?
Balasnya. Itulah pertama kalinya kami komunikasi secara tidak langsung. Sakit langsung mendera hatiku. Bagaimana tidak? Aku yang awalnya percaya diri bahwa dia mencintaiku. Aku yang yakin bahwa setiap kami berdekatan ia menatapku atau setidaknya ingin berinteraksi denganku, TIDAK MENGENALKU? Ia tidak mengenalku? Yang hampir setiap bulan maju ke depan karena menyumbangkan piala untuk sekolah. Yang hampir setiap guru mengenal.Yang karyanya dibaca seluruh siswa sekolah. Itu aku, tapi ya tak tahu?
"Ta, aku barusan sms-an sama Rahsya," kataku begitu sampai di kamar karibku yang juga tetangga.
"Akhirnya ada perkembangan," balasnya ceria.
"Tapi dia gak tahu aku. Dia bahkan gak kenal aku. Kami sekelas dan dia tidak mengetahui nomor telponku," paparku.
"Ehmm, Cer..," belum selesai ia berkata, air mata tak sanggup lagi kutahan. Sontak saja ia meloncat dari kelopak mataku tanpa bisa kuhentikan. Setidaknya itulah yang tercatan dalam diariku dengan judul 'jatuh'. Ya, itulah saat aku merasa terjatuh karena cinta.
Cinta itu menguatkan. Itulah cerita-cerita yang aku baca dan aku alami. Terjatuh kali itu tidak membuatku ambruk, patah apalagi mati. Itu malah membuatku ingin segera berlari. Jauh darinya dan suatu hari aku akan kembali menjadi seseorang yang membuatnya menyesal. Begitulah tekad kuatku. Terlebih ketika ditahun ketiga penantianku, cinta yang kuberikan tak pernah dibalas. Dan lebih menyakitkan lagi adalah enam hari dalam seminggu dan 9 jam dalam sehari, aku harus tahan banting melihatnya bermesraan dengan teman sekelasku. Mengingat itu hari ini membuatku tak percaya bahwa aku mampu melewati hari itu tanpa cacat sedikitpun. Aku tak pernah menangis di depan mereka walaupun di kamarku yang sepi air mata sering mengalir. Aku tak pernah mencoba merusak hubungan mereka. Saat itu aku merasa saat aku belajar ikhlas tanpa merasa bahwa hidupku hancur. Aku melihat harapan-harapan untuk masa depanku yang indah. Kupikir begitulah cara Tuhan mengajarkanku kuat dengan berbagai dukungan dari sahabat dan kerabat. Aku sendiri tak menyangka aku sekuat itu.
Benar saja, hubungan mereka tak bertahan lama. Dan aku tak pernah tahu kalau takdir akan membawaku memiliki waktu untuk mengenalnya lebih baik. Kami berdekatan. Kami saling berkomunikasi dan kami berinteraksi. Aku tak tahu, apa penyebabnya. Dekat dengannya tidak membuatku bersyukur. Aku tak memiliki hasrat lagi ingin memilikinya. Berpikir menjadikannya pacarku pun tidak ada dalam pikiranku. Bahkan, ketika teman kuliahku mengatakan dia menyukainya hatiku biasa saya. Tidak bimbang. Tidak juga sakit. Apakah hatiku sudah mengeras? Terlatih sakit hati seperti lagu yang sering terdengar di radio?
Ah, tidak juga. Aku merasakan sesak. Sakit. Tercabik ketika seorang teman yang aku anggap tidak spesial sama sekali bersentuhan fisik dengannya. Seseorang yang mengenalkan diri sebagai Kana tiga tahun lalu dalam sebuah acara. Yang sering menemaniku hanya untuk sekadar menghadiri pesta ulang tahun. Yang sering menemaniku setiap aku ingin pergi ke sebuah tempat. Yang sering ada di dekatku setiap senja. Yang sering memberiku apa yang kuinginkan. Saking seringnya kami bersama ia sama sekali biasa buatku.
Kuakui dia tampan, manis dan menawan. Tidak kalah dari Rahsya. Tetapi dia tidak menarik bagiku. Walaupun teman-temanku sering mengejek karena kedekatan kami, aku berani pastikan bahwa dihatiku hanya ada Rahsya seorang dan dia hanyalah teman yang terlanjur biasa. Tetapi kenapa hatiku begitu sesak ketika ia dekat dengan orang lain? Kenapa hatiku hancur ketika dia tidak memperhatikanku? Tidak tahu ia sadari atau tidak, air mataku sering menetes diam-diam ketika dia mengabaikanku saat kami berdekatan. Aku tidak lagi menjadi aku yang kuat. Apa karena usiaku bertambah dan kekuatan masa remajaku telah mulai berkurang?
Temanku berkata, "itu namanya kamu cemburu?"
"Cemburu? Ya, tak mungkinlah. Dia itu cuma teman,"
"Yang buat nyaman? Kamu gak mungkin nangis dua hari gini cuma karena pelukan sama temenmu. Itu hal biasa yang dilakukan teman kan? Temanmu temannya. Temannya temanmu. Sudah. Apa yang perlu ditangisi kalau kamu gak cemburu?" pendapat temanku.
Aku tentu tidak menerima pendapat itu begitu saja. Namun, dadaku begitu sesak. Rumahku seperti hancur dan menimpa badanku. Bahkan nafasku mulai tak teratur. Untunglah, dosenku seorang terapis-terapis jiwa yang handal. Aku menemui salah seorang yang sangat aku percaya dan menceritakan semua sesak di dadaku. Buuum, tak kusangka dan tak kuduga. Beliau berkata,"sebaiknya kamu bilang ke temanmu kalau kamu cemburu."
Apa ini? Aku masih saja menyangkal. Aku masih saya tidak mengakui dan menyakini bahwa Rahsyalah cintaku sampai saat ini. Lagipula sekarang kami sedang dekat. Saling berkomunikasi dan berinteraksi. Berbekal keyakinan itu aku mulai belajar bangkit. Aku tak pernah merasa belajar sesusah kali ini. Jika boleh aku bandingkan, ada perbedaan hingga 80 persen kesulitan bangkit kali ini dengan bangkit ketika aku mulai mencintai Rahsya.
Aku hanya butuh waktu 2 hari untuk kembali bangkit dan menjadi aku yang kuat. Sekarang? Sudah satu bulan berlalu dan aku masih sesak dengan segala memori tentang kontak fisik mereka. Aku masih saja takut bertemu. Dan aku sangat benci ketika mereka berdekatan. Aku benci mereka ada di tempat yang sama di waktu yang bersamaan. Pikiran negatif selalu menghantui kalau salah satu dari mereka menyebut nama yang lainnya. Tapi aku harus belajar bangkit bukan? Ya, perlahan dan tidak pasti aku bangkit. Dan buuum, bom kedua datang padaku. Belum sembuh secara menyeluruh sesak di dadaku, dan kini dadaku semakin sesak karena mereka. Hingga menbuatku bertanya, KEMANA CERIA YANG DULU? Wajah Ceria tak lagi ceria. Mengapa hanya ada air mata?
"Itu kan kamu cemburu?"
"Cemburu..,"ulangku datar.
"Ya," jawab karibku dengan enteng."Kamu gak akan nangis kayak gini cuma gara-gara Kana ngasi sesuatu ke temanmu. Sama aja kan kayak kamu dikasi sesuatu sama Kana. Tapi gak ada yang nangis kan? Terus kamu? Kenapa nangis? Jawabannya cuma satu. Kamu cemburu. Bu Disa juga bilang begitukan."
"Tapi kenapa harus dia?"
"Yah, gampang aja. Dia yang ada di deket Kana. Masak dia harus nyari kami," katanya dan melanjutkan meniru logak Kana, "Ceri ini buat kamu. Udahlah. Saat cemburu itu segala sesuatu tampak lebay."
Karibku mungkin benar aku cemburu. Kami memang dekat. Aku memang nyaman di dekatnya. Tapi satu sisi diriku takut jika dia tak nyaman di dekatku. Bagaimana kalau dia nyaman dengan teman yang dipeluk itu? Aku selalu takut itu. Sesak langsung saja menghampiri dadaku mengingat mereka melakukannya. Aku cemburu? Kali ini aku tak bisa menyangkal lagi perasaanku. Aku pun tak bisa sepenuhnya menerima perasaan ini. Tetapi, setiap kali rasa yang menurut banyak orang disebut cemburu ini menghampiri aku sama sekali tak bisa berpikir rasional. Aku selalu berkata pada diriku bahwa aku harus dewasa, namun ketika rasa ini datang benar saja semua pertahananku hancur. Seperti kata karibku, saat cemburu semua tampak lebay.
Lalu, pertanyaan selanjutnya yang muncul di benakku adalah mengapa perasaan ini muncul sekarang? Aku sendiri tak tahu rahasia Tuhan. Mungkin ini cara Tuhan menyadarkanku bahwa hatiku telah berpaling bahkan mungkin bukan baru tetapi sejak awal kedekatan kami. Toh kami sama-sama single. Tidak masalah jika kami dekat. Saling mengenal. Cocok dan merasa nyaman. Hanya saja aku sepertinya sulit sadar karena dibutakan ambisi memiliki cinta pertamaku. Hingga aku tak menyadari bahwa ada seseorang yang jauh lebih menghargai dan mencintaiku.
Kemudian, bagaimana hubungan yang terlalu biasa ini bisa berubah menjadi luar biasa? Oh, kembali itu adalah rahasia Tuhan. Aku hanya berusaha, merencanakan dan semua akan terjadi jika Tuhan mengizinkan dengan jalannya. Ibaratnya, hidup itu penyelenggaraan kegiatan. Kegiatan perlu sponsor bukan? Nah, begitu juga hidup. Perlu pendukung, siapa lagi kalau bukan Tuhan yang baik. Karena perlu sponsor jadi perlu juga proposal. Keinginan ditambah usaha itu proposalnya. Simpelnya adalah kita ajukan proposalnya nanti Tuhan tinggal ACC. Tidak perlu pusing yang mana yang akan di ACC karena itu urusannya. Dan karena Dia disebut TUHAN maka ia tahu mana proposal yang terbaik. Kalau ngajuin 1 proposal dan proposalnya dianggap jelek, lalu proposalnya disuruh revisi seperti hubunganku dengan Rahsya, mau gimana? Maka dari itu, kali ini aku percayakan saja semua pada Tuhan. Aku percaya setiap hal yang terjadi adalah jalannya. Proposal atau keinginanku yang memang baik untukku. Jika dihubungkan dengan cinta aku suka sekali kalimat Rolo May yang aku baca beberapa minggu lalu. Yang mengatakan bahwa setiap cinta punya waktu, jika waktu bukan buat kita bukan berarti itu bukan cinta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar