Senin, 11 Februari 2013

Mungkin

Deru motor terdengan jelas ditelingaku. Ada banyak. Satu. Dua. Tiga. Empat, sudah tidak terhitung lagi berpa motor yang melewati motorku. Terlalu banyak. Mereka terlalu cepat mengedarinya atau aku yang terlalu hati-hati.

Ya, mungkin aku yang terlalu hati-hati.

Aku hati-hati ? 

Iya. Begitulah kenyataan yang dapat dipungkiri, Spidometer menunjukkan kecepatan motorku hanya 40 km/jam. Hati-hati? Itu keterlalu hati-hati namanya untuk ukuran jalan baypass. 

Satu penyebab pasti, kelambanan motorku adalah kecepatan otakku berpikir.Tak kalah dengan banyaknya motor yang berlalu itu, pikiran di otakkupun banyak melintas.

Aku jatuh cinta. Sayangnya, aku kembali jatuh cinta dengan orang yang salah. Ini adalah kesekian kalinya aku jatuh cinta dengan orang yang salah. Harirama, kamu adalah yang pertama. Aku terluka dan menimbulkan trauma mendalam di diriku. Apa setelah itu aku tidak pernah jatuh cinta ?

Oh, ternyata setelah aku berpikir kembali. Sudah 3 kali aku kembali jatuh cinta. Namun akhirnya, aku kembali padamu, Harirama. Mungkin bukan kembali, namun menjadikanmu tameng.Atau mungkin aku memang tak pernah jatuh cinta lagi. Aku hanya mencintaimu. Aku tak yakin. Ini hanya mungkin.

Pertama, mungkin cintaku padamu telah sangat mendalam. Aku tak bisa melepasmu. Aku tak mampu mengikhlaskanmu. Hingga sakit yang kurasa karena mencintaimu membuatku tak mampu lagi mencintai orang lain. Ini hanya mungkin.

Kemungkinan lainnya adalah aku jatuh cinta. Contohnya saat ini, aku jatuh cinta dengan seseorang yang bersamaku. Menemaniku bekerja. Rekan kerjaku. Seorang senior dalam pekerjaan ini. Namun belakangan aku tahu, dia pernah juga menjalin hubungan dengan rekan kerjanya yang membuat mereka tak berakhir bahagia. Beberapa hari lagi, aku akan mempertemukan mereka. Dia dan mantan kekasihnya, dan tentunya ada aku. Jika benar aku mulai mencintainya, aku akan sakit. Jalan satu-satunya adalah mengingatmu Harirama. Menceritakan bahwa aku masih mencintaimu. Agar perasaan cintaku padanya tak ia ketahui. Semua berakhir bahagia, walau hatiku sakit mengingatmu Harirama. Mungkinkah begini ? Mungkinkan inilah yang selama ini ku lakukan ? menjadikanmu tameng. Oh, Harirama. Aku tak tahu. Semua mungkin. Hanya mungkin. Dan akupun tak tahu bagaimana perasaanku saat ini.

Aku hanya ingin, sesuatu yang kita awali dengan baik berakhir dengan baik. 

Di bawah bayang putih abu

Sabtu, 02 Februari 2013

Tentang Sunny

Aku berjalan menelusuri dua tembok besar sekolahku dulu. Masih tak berbeda. Memasuki gerbang besar ini, disambut oleh sebuah kolam besar penuh teratai. Penegok ke kanan, ada sebuah pura kecil yang kami sebut padmasana. Aku langkahkan kakiku menuju tempat suci itu.

Memasuki gerbang padmasana yang mungil. Menapakkan lagi kakiku di tempat ini membuat sebuah cerita terlintas di benakku. Aku duduk di tempat aku biasa duduk dua tahun lalu. Sebuah tempat yang disebut piasan. Sebuah tempat yang digunakan untuk menata persembahan sebelum di haturkan kepada Tuhan. Tempat ini menghadap selatan yang menyuguhkan pemandangan kolam dan jalan menuju ruang kelas.

Ah, duduk di tempat ini mengingatkanku pada tahun-tahun aku masih mengenyam ilmu di sekolah menengah atas. Di tempat suci dan mungil ini kami pertama bertemu. Piasan ini merupakan tempat aku biasa menantinya di tahun-tahun lalu. Dia. Dia yang mengisi hatiku selama aku melewatkan masa putih abuku. Selama tiga tahun, dan aku tak tahu hingga kapan. Hingga saat ini, saat kami tak pernah terhubung lagipun aku masih membiarkannya mengisi hatiku.

Dengan langkah pasti seseorang menghampiriku. Tersenyum lembut. 
"Sudah lama ? " tanyanya.
"Belum setahun lah," jawabku tersenyum "Apa kabar?"
"Semakin baik, ketika melihatmu hari ini baik."
"Aku tak sebaik yang kamu,pikir Ram."
"Apa ? "
Aku hanya tersenyum, tak menjawab rasa penasarannya. Matahari senja mulai menyentuh lengan kananku. Membuat tanganku terasa sedikit panas. 
"Ayo, kita ke aula." Ajakku. 
Kami berjalan beriringan membuat orang yang hadir dalam reuni kali ini berbisik mengembangkan pemikiran mereka tentang kami. 
"Hey, kalian lesbi ya?" tanya seseorang teman pria pada kami "Sejak SMA, aku tak pernah melihat kalian punya pacar. Kalian selalu berdua."

Ku lihat raut wajah Rami berubah merah ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Entah karena marah. Karena malu. Atau gugup. Atau sedih. Atau takut, aku tak tahu. Dan aku tak bisa menebak. Namun, yang pasti ada sebuah kemarahan dari dalam diriku. Sebuah kekuatan yang membuatku menarik tangan pria tadi. Diikuti Rami.

"Apa yang salah?" tanyaku pada priia itu.
"Yah.." jawabnya gugup" yah,..."
"Apa? apa kamu anggap tidak normal?" bentakku. Rami yang ada di sampingku hanya terdiam. Yah, aku maklum. Dia memang sosok pendiam.Kurasa kehadirannya disini untuk mencegah jika amarahku tak sanggup ku tahan dan mungkin bisa saja melukai mangsaku. Eh, maksudku seseorang yang kuajak bicara kali ini.
"Habis kalian.."
"Bukan itu pertanyaanku. Apa kamu anggap tidak normal bila seseorang perempuan memilih pasangan perempuan. Atau laki-laki memilih pasangan laki-laki?"
"Ya.." Jawabnya.
"Aku tak menyangka pikiranmu sesempit itu, Hari." Kataku mulai tenang. "Beginilah kita yang telalu hidup dalam dunia heteronormatif. Ketika hanya ada dua, normal dan tidak normal. laki-laki dan perempuan. Apa mencintai seseorang adalah kesalahan? apakah itu bukan hal normal"
"Tidak. Mencintai seseorang adalah hal normal."
"Jika kamu setuju bahwa mencintai seseorang adalah bukan kesalahan, bagaimana mungkin kami menganggap bahwa memilih pasangan sejenis adalah tidak normal. Itu adalah pilihan. Jika, seandainya aku memang mencintai Rami yang seorang perempuan dan aku seorang perempuan, apa aku salah ? Tidak seharusnya kamu bilang kami tidak normal. Bukankan mencintai seseorang itu normal. Hanya saja kita berbeda. Bukan berarti aku tidak normal kan? Aku tidak mengganggu siapun, ini ada pilihan jika seseorang memilih pasangan. Tidak ada yang dibuat menderita dari pilihan itu. Dan aku tidak ingin kamu menganggap seorang dengan pasangan sesama jenis itu tidak normal. "Ceramahku panjang, membuatnya hanya bengong mendengar.
"Kami tulus saling menyayangi, Hari. Sebagai dua orang yang saling menerima dan tanpa pamrih. Sebagai dua orang yang berbagi cerita. Dan sebagai dua orang yang saling belajar mengerti." Akhirnya Rami angkat bicara.
"Sebaiknya kamu cerna kata-kataku tadi. Dan sebagai seorang calon dokter, kamu lebih banyak membaca agar pengetahuanmu tak sesempit daun kelor." Kataku lagi, bersiap pergi meninggalkan mereka. 

Aku tidak melihat Rami mengikutiku seperti tadi. Ada yang masih dia katakan pada pria menyebalkan itu.
 Samar-samar aku masih mendengar sedikit suaranya yang lembut. "Kami saling.." aku tidak tertarik lagi mendengar pembicaraan mereka. Aku mempercepat langkahku. Perasaanku begitu kacau. Senja kali ini lebih menusuk di bandingkan senja sebelumnya. Air mataku menetes tanpa aku sadar. Aku tak tahan lagi jika berada dalam reuni penuh hingar bingar ini. Kuputuskan menelusuri kelasku yang terpencil. Jaraknya sedikit jauh dari aula tempat reuni. Walaupun masih terdengar suara musik dari aula, setidaknya aku memiliki tempat untuk menangis. Sendiri.

"Misa," Kata seseorang memegang pundakku.
"Aku sakit," kataku, begitu melihat wajah Rami.
"Maafkan aku, Misa". Kata seorang pria, membuatku menoleh. "Bolehkah aku bicara dengannya, Rami?"
"Yah, aku rasa kalian memang butuh bicara berdua." Kata Rami memengang pundakku. "Katakan semuanya, Misa." bisiknya di telingaku sebelum pergi. Tersenyum pada kami berdua.

***
"Rami telah mengatakan semuanya padaku,Misa." Buka Hari.
"Semuanya?" Tanyak. Kaget.
"Ya. Dia telah mengatakan bahwa kalian saling menyayangi seperti kakak dan adik. Kalian sahabat, bukan pasangan sejenis." 
"Apa lagi yang iya katakan?" tanyaku penuh selidik. Takut jika sebuah rahasia besar terbongkar.
"Hanya itu." katanya, membuatku akhirnya menghela nafas tenang. "Aku minta maaf. Kupikir kamu benar. Aku berpikir terlalu sempit."
"Sudahlah, maaf bukanlah kata yang tepat lagi." Kataku, beranjak pergi.
"Kenapa kamu tidak jujur, Mis ? " tanyanya membuat langkahku terhenti.
"Apa?"
"Kamu mencintaiku,kan?" Tanyanya lagi.
"Apa?" Kataku sambil tertawa kembali ke tempat dudukku semula.
"Rami sudah menceritakannya..." katanya membuatku menarik nafas putus asa."Kenapa kamu tak pernah jujur?" tanyanya membuatku bisu.
"Kamu tahu film Cinta pertama, bukan?" bukaku lagi setelah diam beberapa saat."Nama kami sama. Alya..."
"Gadisalya" gumamnya.
"Iya. Aku takut memiliki kisah seperti Alya. Dia hanya mampu memendam perasaannya pada Sunny. Dan Sunnypun tak pernah bertanya akan perasaan Alya. Sunny menikah dengan orang lain, saat Alnya masih juga mencintainya. Aku tak ingin memiliki kisah seperti itu. Namun pada kenyataannya kisahku berakhir dengan lebih buruk." Kataku, menatapnya. "Kamu seperti Sunny untukku. Kamu adalah cinta pertamaku. Aku seperti matahari yang membuatku bersemangat ke sekolah setiap hari. Kamu membuatku belajar mencintai. Kamu, dan kamulah yang ada dihariku. Sayangnya, Aku tak pernah memiliki keberanian menyatakan perasaanku, dan kamu pun telah memilih orang lain, Hari."
"Maafkan aku."
"Tidak, Hari. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tak pernah memiliki kesalahan padaku. Mencintai bukanlah kesalahan. Kamu mencintai Sari, dan itu bukanlah kesalahan padaku. Kita tak pernah terikat hubungan apapun."
"Sekarang kita bisa bersama, Mis." Katanya, membuatku tersenyum.
"Jika ini tiga tahun lalu, aku akan sangat senang. Tapi ini hari ini. Aku mencintaimu, tapi aku memilih mengikhlaskanmu, Hari."
"Mengapa?"
"Hari. Aku hanya tidak ingin hidup dalam masalaluku. Kamu memang tidak memiliki kesalahan padaku, namun aku menyimpan luka. Aku tak mau, luka itu menjadi penyulut api dalam sekam."
"Tapi Rami bilang, kamu belum punya pacar sampai sekarang."
"Sepertinya ada yang belum Rami sampaikan. Selama ini aku hanya belum mengikhlaskanmu, Hari. Tapi aku salah. Sama halnya seperti melupakan sama halnya seperti mengikhlaskan. Sangat sulit. Namun, aku pasti bisa. Aku harap kamu menghargai keputusanku. Aku mencintaimu, tapi aku memilih mengikhlaskanmu. Aku rasa selama ini aku mempertahankan hal yang sebenarnya tak pernah aku miliki. Dan dirikulah yang membentuk itu. Aku hanya perlu waktu untuk mengikhlaskanmu bersamanya." Kataku meninggalkannya sendirian.
"Walaupun aku mulai mencintaimu?" katanya samar kudengar. Aku memilih mengabaikan kata-kata itu. Aku tak ingin lagi kembali padanya, masalaluku. Setiap orang memang terikat pada masalalu. Satu hal penting adalah orang tersebut dapat memilih kembali dan diam terus pada masalalunya. Terjebak. Atau maju meninggalkan masa lalunya memwujudkan mimpi yang ingin diraihnya. Aku memilih yang kedua. Ikatan masalalu mungkin akan mempertemukan kami di masa depan. Namun, ikatan itu hanyalah ikatan yang membuatku terus belajar bukan tenggelam. :))