Jumat, 25 Januari 2013

Embun di Kala Senja

Tidak seperti biasa, matahari hari ini malu-malu bersembunyi di balik mega. Mendung menutipi sinarnya yang menyengat. Bersyukur juga aku hari ini tidak sepanas biasanya. Aku punya seribu rencana untuk bepergian.
Sudah lama aku tak bertemu seorang sahabatku. Setahun.

Terakhir aku melihatnya adalah ketika kamu reuni setahun lalu. Dan hari ini, adalah pertama kali kami bertemu setelah setahun. Kini aku berdiri di depan gedung sekolah kami bersiap bertemu dengannya.

"Duaar", seseorang mengangetkanku. Aku langsung memeluk orang itu begitu melihatnya. 
"Dani, " sapaku sambil memeluknya, melepaskan kerinduan. "Waah, tambah kurus saja kamu. Lihat aku, woow, bajuku tambah sempit semua."
"Alaah,, tidak juga. Kamu masih sama seperti dulu.."
"Iya, sama tembemnya" jawabku sedikit kesal.
"Sudahlah, Sa itu tidak telalu penting. Aku sangat merindukanmu".
"Aku juga." jawabku datar.
"Ahh, kamu nii kebiasaan. Dari SMA sampai sekarang gak pernah serius tanggepin kalau ada orang menyatakan perasaannya."
"Yee, aku serius lagi. aku juga rindu."
"Habis muka dan suaramu datar begitu."
"Ehmm.." jawabku seadanya, tidak mau membahas itu lebih lanjut.
"Mau kemana sekarang?"
"Pantai Pelilit"
"Yakin? Mau ke pantai pelilit ?" Tanyanya heran. Aku yang tahu keheranannya hanya tersenyum menyakinkan bahwa aku ingin pergi ke tempat itu.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke pantai yang dikenal sebagai tempat singgah orang yg lalau lalang di jalan menuju sebuah pelabuhan di dekat sana. Jauh dari espektasiku pantai itu tidak seindah bayanganku. Tidak sebersih dugaanku. Cukup banyak sampah berkeliaran. Dibenakku hanya terbesih, bahwa keadaan pantai ini sebuah tanda kurangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan. Mungkin menunggu alam marah, barulah kita peduli. 

"Heei, Sa. Kenapa kamu tumben mau ke sini ?"
Aku hanya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu dari Dani. Aku kembali menatap pantai yang biru. Di tengah terdapat sebuah karang yang menarik hatiku. Sebuah karang yang memecah tengah lautan dan bibir pantai. Membuatku membayangkan seseorang berdiri di sana bersama...
"Apa kamu gak sakit, Sa?"
"Sakit?" tanyaku balik pada Dani.
"Iya, apa tempat ini tidak membuatmu kembali terluka?"
"Ah, luka itu." Jawabku sambil tersenyum.
"Apa kamu sudah melupakannya?" Tanyanya lagi, memegang bahuku,
"Aku ingin melupakannya saat - saat itu, Dani. Tapi, aku tidak akan bisa melupakannya. Luka yang pernah dia berikan adalah sebuah semangat untuk aku bangkit dari keterpurukanku karenanya."
"Apa tempat ini..."
"Aku hanya ingin membuktikan kalau aku sudah tidak sakit lagi, Dan. Aku tidak habis pikir, bagaimana Ari memilih tempat seperti ini untuk menyatakan cintanya pada Saria waktu itu. Tempat ini bukan tempat yang tepat untuk menjadi tempat kenangan menurutku."
"Beneran, kamu tidak sakit" tanyanya lagi, meyakinkan.

Petanyaan itu membuatku tersenyum sendiri. Sakit. Entahlah. Aku tidak merasakan apapun lagi. Hatiku tidak senyeri dulu. Dulu, jika ada orang yang mengingatkanku pada Ari, seseorang yang pernah dekat denganku itu hatiku akan nyeri mengingatnya dan penghianatannya bersama Saria. Namun, dua bulan ini berbeda. Jika orang mengingatkanku padanya, aku hanya ingin tersenyum mengingat kebodohanku mencintainya begitu lama. Aku terlalu beku dalam mimpi bersamanya hingga aku tak melihat sebuah pintu indah menuju masa depan. Untunglah aku tidak terus terkurung dalam mimpi buruk itu. 

Aku tersenyum menatap lautan itu. Memandang betapa luasnya dunia. Di dunia seluas ini tentunya bukan hanya di huni aku dan dia. Ada banyak penghuni lain. Matahari beranjak menuju peraduannya. Menyusup diantara lautan luas itu. Membuatku membayangkan seseorang yang jauh di sana...

"Misa..Misa, kamu gak pernah berubah. Penuh misteri, yah aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu. Apapun keputusanmu, asal kamu mampu bertanggungjawab, aku akan mendukung. Satu-satunya orang yang berhak memutuskan hidupmu adalah kamu. Aku hanyalah pendukung, dan datanglah selalu padaku jika keputusanmu membuatmu sakit. Aku akan selalu ada untukmu"



Minggu, 20 Januari 2013

Sepotong Surat untuk Pangeran Hatiku (Dulu)

Aku menikmati senja dari ini di sebuah taman. Tenang. Damai. Langit tampak manis dengan segala hiasannya. Di cakrawala senja itu tergambar goresan-goresan merah dengan wajah matahari yang malu-malu, perlahan menuju tempat tidurnya. Semua indah, tapi semua mengingatkanku padamu. Kenangan kita di masa putih abu itu. Haaah. Aku hanya dapat menghela nafas lega. Apa yang dapat ku perbuat. Aku merindukanmu terkadang. Namun, semua telah berubah. Aku dan kamu bukan lagi kita. Aku adalah diriku dan kamu adalah bagian yang tidak bisa lagi mengisi hidupku. Sejak aku dan kamu memutuskan memilih jalan masing-masing semua telah berubah,bukan? Haaah. Aku menarik nafas panjangku untuk kedua kalinya dalam 5 menit terakhir.

Aku ingin menceritakan semua perasaan yang bertumpu di hatiku kali ini. Namun, dimana mereka teman-temanku. Tidak ada yang bisa mendengarkanku. Tiba-tiba terbesik dalam benakku. Yah, aku dapat menuliskan semuanya dalam sebuah kertas. Tekad ku bulatkan, aku ingin mempersiapkan sebuah surat cinta termanis untuknya, Nara. Pena yang ku pengang mulai menari-nari di atas kertas putih itu.


Dear Nara,

Dulu ketika kita masih sama-sama menggunakan seragam putih abu itu. Tidak akan terlupakan kenangan ini dari memoriku. Betapa tidak, karena berkat kejadian itu aku mampu berdiri setegak sekarang dan memiliki sebuah tujuan seperti sekarang ini. 

Dulu tepat ketika aku menerima pialaku, sebuah kabar datang dari seorang sahabatku. Handphoneku berkicau, menyampaikan sebuah pesan yang intinya seseorang yang mengisi hatiku bersama orang lain. Sakit. Tentu. Sedih. Pertanyaan bodoh! Merasa jatuh, percuma. Betapa tidak ?

Saat itu adalah saat-saat terburuk sepanjang kehidupanku (hingga sekarang). Menyakitkan memang hari-hari itu. Tapi terpuruk dalam luka toh tidak membuatku berharga di matanya, bukan ? Jatuh toh tidak akan membuat dia meninggalkan pacarnya dan membantuku bangkit. Aku bangkit dibantu teman-temanku kala itu. Betapa aku tak akan pernah lupa akan saat itu. Berhari-hari ku habiskan untuk menangis, dan yang disebut anak muda sekarang "menggalau". Dan satu-satunya orang yang dapat membuatku menangis ketika aku menerima kemenangan adalah dia. Dia adalah kamu, Nara.

Berhari-hari aku tidak percaya bahwa kamu telah memilih seseorang di sisimu. Bagaimana mungkin aku mudah menerima semua itu, sedang tepat dua hari sebelum kamu bersama Asih, kamu mengatakan kepada Lamda di depan mataku sendiri kamu tak ingin bersama siapapun untuk saat itu. Yaaah, mungkin  aku salah mengerti akan maksudmu. Kurasa maksudmu 'untuk saat itu' adalah ketika kamu mengatakannya.

Sudahkah aku lupa kan kejadian itu ? Tidak . Aku tidak akan pernah melupakannya dan kejadian itu. Tapi aku mengingatnya bukan dalam sebuah wujud yang sama dengan perasaanku dulu padamu. Dulu aku menyukaimu, teramat sangat. Hingga kemarin sebelum aku sampai kembali di Indonesia pun aku masih menyukaimu dan mengharapkanmu. Kemarin ketika aku ke negeri di seberang sana, aku masih berharap ketika aku kembali kamu mampu menghargai perasaanku selama ini. Namun, siapa sangka rencana Tuhan ? Tuhan memang maha baik, adil dan menyayangi semua umatnya. Tuhan sungguh tahu apa yang terbaik bagiku dan buruk. Tuhan memang selalu memilihkan yang terbaik bagiku. 

Beberapa jam sebelum keberangkatanku kembali ke Indonesia, seorang kakak kelas meramalku. Tak urung, ramalan tersebut membuat luka yang coba ku kubur bangkit kembali. Air mata yang kucoba bendung jatuh. Di saat yang bersamaan seseorang menyadarkanku. "Dia yang dulu pernah mengisi hatimu bukanlah orang yang tepat," perkataannya padaku membuatku sadar. Aku mulai berpikir kembali. Aku menjadi tak yakin jika aku bersamamu, aku tak akan sakit. Tak yakin mampu bergerak sebebas sekarang ini. Berteman dengan siapa saja, memilih siapa saja untuk temanku bekerjasama. Berlari ke sana kemari seenak diriku sendiri.

 Masalah sepatu saja, aku suka sepatu yang melindungiku namun masih membebaskanku bergerak kesana dan kemari. Apalagi seseorang yang berarti di hidupku, tentunya aku tak siap untuk di kekang. Aku tak siap ada sebuah tali pelana di leherku. Menjerat hingga aku terluka jika aku melawan. Sedang kamu, menjadi teman saja sudah terlalu posesif , begitu mengekang, apalagi lebih. Aku jadi tak yakin bisa sebebas merpati.

Benar, tidak membiarkanku bersama dengannya adalah keputusan terbaik yang tuhan buatkan untukku. Memberikanku luka ketika masa putih abu itu, adalah anugrah yang patut ku syukuri. Berkat hari itu, aku memilih hidupku menjadi diriku hari ini. Belajar. Mengajar. Bermain. Bersenang senang. Semua ku lakukan.

 Aku berdiri, dan mengikuti berbagai kegiatan yang membuat hidupku sebagai remaja menyenangkan. Bergabung dengan teman-teman sebaya mengajar, sungguh itu pengalaman yang tak ternilai harganya. Melancong ke berberapa tempat dengan bekerja keras. Hingga aku memiliki kenangan ini  
Sepanjang tahun 2012 :)

Kenangan ini membuatku bertemu dengan seseorang. Dia pria yang baik, cerdas, dan tampan lebih dari kamu. Dia juga membuatku semakin menyadari tujuanku. Tepat ketika aku kembali, ketika ulangtahunku yang ke 19. 

Dulu, aku menjadikanmu tujuan ku. Aku melakukan hal-hal untuk dirimu agar kamu melihatku. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku sadar tidak seharusnya itu ku lakukan. Ia menyadarkanku hal yang ku lakukan seharusnya untuk diriku sendiri. Berbanding terbalik dengan dulu, aku melakukan sesuatu bukan untuknya, namun untukku. 

Aku berusaha untuk diriku sendiri agar mampu sejajar dengan dirinya yang hebat. Walaupun kami terpisah jarak puluhan bahkan jutaan kilometer untuk saat ini, namun kepercayaan membuat kami tetap dekat, bukan ? :) Aaah, dulu kamu adalah prioritasku. Sekarang ? Aku adalah prioritas diriku, kebahagiaanku. Keluargaku adalah kebahagiaanku. Kesuksesanku adalah kebagiaanku. temanku adalah kebahagiaanku. dia adalah kebahagiaanku. dan kamu ? hanyalah bagian dari masalalu yang tidak membahagiakan namun memiliki kontribusi dalam kesuksesan. Jadi bisa kau hitung sendiri, urutan keberapa kamu dalam prioritasku !
 :)

Kamu memang menempati sebuah tempat di hatiku. Sebuah tempat terindah bernama kenangan. Sebuah tempat luas bernama masa lalu. Namun, mulai hari ini dan hingga aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, dia adalah satu-satunya pria yang memiliki tempat dihatiku. Tempat termegah bernama impian. Tempat terluas bernama masa depan.

Aira 
Desember 2012