Rintik hujan terdengar merdu di telingaku. Suara derap langkah air dari langit ke tanah nampak jelas. Indah. Nyaring. Membuatku rindu. Suara itu begitu lembut namun pasti. Selembut nafas yang mengiringi kepastian rinduku. Oh, aku yang terpisah puluhan bahkan mungkin ribuan mil darinya. Aku yang kini mengelana beberapa di negeri orang. Yah, aku tak yakin mampu menopang kerinduan ini.
Perasaan ini, begitu membuat diriku... apa yang dapat ku sebut ? Aku tak yakin ini sebuah penderitaan. Aku pun tak yakin ini sebuah kebahagiaan. Ini adalah sebuah perasaan yang tidak jelas, tapi begitu nyata.
Walau ini hanya lima hari, aku tak yakin mampu hatiku mampu menopang kerinduan ini, Aku rindu dirimu yang tersenyum padaku setiap kali kita bertemu. Aku rindu ketika kau ku abaikan, aku bersabar. Aku rindu, ketika kau begitu mengerti aku yang kekanak-kanakan. Aku rindu semua hal tentangmu dan cintamu.
Dulu, yah itu dulu. Ketika kita bersama. Ketika kita masih menulis cerita dengan cinta dan kecembuaruan antara kita. Sepulu tahun berlalu, tak membuatku berhenti merindukanmu.
Minggu, 19 Agustus 2012
Sabtu, 18 Agustus 2012
Metamorfosis Layang-layang
Tahukah kau bagaimana layang-layang bagi sang pemilik ?
Layangan indah di terbangkan. Begitulah sang pemilik beranggapan. Ya, itu memang tak dapat di pungkiri. Ada kepuasan tersendiri melihat layangan terbang di langit luas. Indah, hingga sang pemilik layangan akan takut kehilangan layang-layangnya. Sang pemilik mengulur tali layangan karena suka melihat layangannya terbang di langit nan tinggi. Membuat iri orang yang melihatnya, namun begitu angin menerbangkan layangan , mengajaknya lebih lepas, tali segera di tarik. Begitulah layangan terus ditarik ulur. Tanpa disadari layang-layang pun lelah hingga terjatuh suatu saat nanti. Semua hanya menunggu waktu. Layangan itu tak ubahnya hati Aura.
Diawali dari pertemuan di masa putih abu dengan seorang pria bernama Nara, ia melintasi begitu banyak jurang cinta. Menelusuri jalan gelap kehidupan. Menjalani indah dan sakitnya proses. Akan tetapi ada yang janggal dari semua proses yang ia tempuh. Tiga tahun bersama dengan penuh keyakinan Aura percaya Nara mencintainya. Kini hingga mereka sama-sama mengenyam bangku kuliah Nara tak pernah mengungkapkan apapun.
Bagaimanakah aku menjalani kehidupanku ini ? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Aku hanyalah tetesan embun kehidupan yang ikut mengalir bersama arus takdir. Aku percaya pada Tuhan. Aku yakin tuhan akan menjaga kepercayaanku dengan takdir terindah untukku. Layaknya ulat menjijikkan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah, aku yakin bertemu denganmu, mencintaimu, dan tertarik ulur olehmu adalah bagian dari proses kehidupanku. Suatu hari hatiku yang kau anggap layang-layang akan bermetamorfosis, membuatmu diam seribu bahasa.
Tekad Aura memulai peristiwa-peristiwa baru dalam hidupnya. Memulai cerita baru dalam takdirnya. Namun, masalalu tetap menjadi sebuah bayang suram bagi Aura.
Akankah tekad Aura mejadi pisau tajam yang dapat melepasnya dari tali cinta Nara yang tak pasti ? Bagaimanakah Aura dapat memulai metamorfosisnya? Atau Mungkinkah ia menjadi layang-layang Nara selamanya ?
Layangan indah di terbangkan. Begitulah sang pemilik beranggapan. Ya, itu memang tak dapat di pungkiri. Ada kepuasan tersendiri melihat layangan terbang di langit luas. Indah, hingga sang pemilik layangan akan takut kehilangan layang-layangnya. Sang pemilik mengulur tali layangan karena suka melihat layangannya terbang di langit nan tinggi. Membuat iri orang yang melihatnya, namun begitu angin menerbangkan layangan , mengajaknya lebih lepas, tali segera di tarik. Begitulah layangan terus ditarik ulur. Tanpa disadari layang-layang pun lelah hingga terjatuh suatu saat nanti. Semua hanya menunggu waktu. Layangan itu tak ubahnya hati Aura.
Diawali dari pertemuan di masa putih abu dengan seorang pria bernama Nara, ia melintasi begitu banyak jurang cinta. Menelusuri jalan gelap kehidupan. Menjalani indah dan sakitnya proses. Akan tetapi ada yang janggal dari semua proses yang ia tempuh. Tiga tahun bersama dengan penuh keyakinan Aura percaya Nara mencintainya. Kini hingga mereka sama-sama mengenyam bangku kuliah Nara tak pernah mengungkapkan apapun.
Bagaimanakah aku menjalani kehidupanku ini ? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Aku hanyalah tetesan embun kehidupan yang ikut mengalir bersama arus takdir. Aku percaya pada Tuhan. Aku yakin tuhan akan menjaga kepercayaanku dengan takdir terindah untukku. Layaknya ulat menjijikkan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah, aku yakin bertemu denganmu, mencintaimu, dan tertarik ulur olehmu adalah bagian dari proses kehidupanku. Suatu hari hatiku yang kau anggap layang-layang akan bermetamorfosis, membuatmu diam seribu bahasa.
Tekad Aura memulai peristiwa-peristiwa baru dalam hidupnya. Memulai cerita baru dalam takdirnya. Namun, masalalu tetap menjadi sebuah bayang suram bagi Aura.
Akankah tekad Aura mejadi pisau tajam yang dapat melepasnya dari tali cinta Nara yang tak pasti ? Bagaimanakah Aura dapat memulai metamorfosisnya? Atau Mungkinkah ia menjadi layang-layang Nara selamanya ?
Langganan:
Komentar (Atom)
