Minggu, 11 Januari 2015

Tanpa Judul Seperti Tak Berwajah


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
Dengan kata 
yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu....

Aku ingin mencintai dengan sederhana, 
Dengan isyarat 
yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

~Sapardi Djoko Damono~ 

Ada yang penah dengan puisi itu. 
Ya, sebuah puisi karya pujangga dari era pujangga baru, Sapardi Djoko Damono. Puisi yang jika didengar dan diresapi maka memberi banyak arti. Tentang cinta. Cinta yang universal.

Banyak orang (termasuk saya) cukup sering mengeluhkan bahwa cinta rumit. Oh, sebenarnya cinta tidaklah rumit. Seperti kata Sapardi, CINTA SEDERHANA. Sangat sederhana seperti halnya kebahagiaan. Seperti Hidup menurut Confosius.



"Life is really simple, but we insist on making it complicated"


-Confucius-

Benar. Begitulah seringnya. Entah itu hidup. Entah itu bahagia. Entah itu masa depan. Entah itu "Cinta". Sebenarnya semua begitu sederhana tapi seringnya kita sendiri membuat semuanya begitu rumit.

Hidup misalnya. Kalau hidup ya hidup saja. Bernafas. Makan. Minum. Lakukan saja yang memang ingin dilakukan. Begitu juga dengan cinta.

Cinta sejatinya adalah memberi. Tapi seringnya cinta itu kita campurkan dengan keinginan dan pemikiran hingga ia melahirkan sebuah belenggu dalam jiwa. Ia disanalah letak kelembutannya. Jika cinta itu memberi, mengalir seperti air ya sudah. Begitulah adanya. SEDERHANA. Sesederhana kebebasan.

Kebabasan memilih. Sama halnya kita yang berhak mencintai, apa yang kita cintai juga berhak tak mencintai kita. Jika kita berfokus pada cinta adalah "take and give" maka kita akan memaksa untuk mendapatkan sesuatu. Tapi, cobalah lepaskan.Berikan. Jika memang mencintai, ya berikan saja cinta itu. Jika ia memberi juga cinta yang sama dengan kita maka itu bagus. Tapi jika dia tidak memberi cinta yang sama, ya sudah. Tidak apa-apa. Bukankah memberi itu sebuah kelegaan? Bukankah ada nasihat kuno mengatakan "memberi tidak akan membuatmu kehilangan lebih banyak, justru membuat mendapatkan lebih banya." Percayalah memberi dengan ikhlas membuat kita lega. Bahagia. Begitu juga memberi cinta. Ceria sudah buktikan itu dengan baik.

Ya, dengan memberi cinta itu aku telah mendapatkan namaku kembali Ceria. Aku telah kembali seperti Ceria. Sederhananya, aku mulai memberikan cintaku pada semua orang. Cinta yang berbeda jenis tentunya. Simpelnya, cinta hanya perlu mengikuti kata hati. Jika hati mengatakan 'ya berikan' ya berikan saja. Pada siapapun yang hati katakan berhak mendapatkan. Tapi penting diingat bahwa cinta itu butuh ketegasan. Ya adalah ya. Tidak adalah tidak. Ragu hanyalah membuat kebimbangan atau yang disebut anak zaman sekarang Galau.

Ya, itulah yang aku alami beberapa waktu lalu. Ketika dia 'cintaku' kembali beberapa hari yang lalu, aku yang mulai stabil merasa terjatuh lagi. Aku bimbang untuk melanjutkan hidupku. Padahal sebelumnya aku bertekat untuk menerpa diri dulu menjadi pribadi lebih baik. Tapi ketika ia kembali rasanya semua benteng yang sedang mulai ku bangun runtuh. Hatiku hancur lagi.

Satu hal yang aku syukuri selain teman-teman yang mendukungku adalah di hari ulang tahunku aku tahu ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Dan aku tahu bahwa hatiku benar. TIDAK ADA MASA DEPAN UNTUK KAMI. Sudahlah, seperti katanya. Aku tahu bahwa seseorang yang lebih baik sedang disiapkan untukku. Yang walau aku tak tahu apa dia sedang di dekatku atau sedang jauh denganku sekarang. Aku tak tahu. Yang aku tahu, hati kami masih belum sepakat untuk bersama. Begitulah aku menyadari bahwa ini adalah kesempatan diriku untuk tumbuh menjadi sebuah pribadi hingga aku "bertemu" dengannya. Kami hanya sedang berproses untuk sama-sama dewasa hingga hati kami sepakat untuk bersama. Selama itu, ya cintai saja dulu semuanya. Siapapun. Apapun. SEMUANYA.

Seperti aku mencintai langit biru. Sinar matahari. Udara yang bisa ku hirup. Kaki yang membawaku melangkah. Tangan yang dengan cantik bergerak. Semua. Semua tubuh. Semua teman. Semua alam. Semua keluarga. Cintai saja. Cintai dengan mendengarkan kata hati.

Aku tak menaruh harapan dalam setiap cinta yang kuberikan. Seperti kataku, cinta itu memberi. Hanya satu harapanku, semoga seseorang (cinta sejatiku) juga mendengarkan kata hatinya. Karena kata hati hanya kita yang tahu, mari dengarkan kata hati kita masing-masing. Percayalah, hati ini akan menuntun kita untuk melangkah. Dan hati inilah yang akan menuntun kita untuk bersepakat. BERSAMA.

Semoga kita segera bertemu dalam keadaan penuh cinta. Dewasa. Dan dapat bertumbuh bersama.

So, FOLLOW YOUR HEART PLEASE. :)

I LOVE YOU, ALL.

-Teruntuk semua orang, selamat mengikuti kata hati. SEMOGA BERBAHAGIA-
Karena cinta dan kebahagiaan, BEGITU SEDERHANA.

Sabtu, 03 Januari 2015

SIAPA "AKU" (?)

Hey, HAPPY NEW YEAR...

Yeah, ternyata tanpamu langit masih biru. Lagu ini sedang mengalun lantang di sebelah telingaku. Benar, ternyata tanpamu langit masih biru. Benar, masih indah seperti langit-langit yang aku suka. Langit punya fungsi yang sama seperti warna-warna biru lainya. Penyembuh. Ah, sudahlah. Ya, sudahlah seperti "katanya" waktu itu.

Ada banyak kata yang ingin aku tulis. Ada banyak huruf yang aku ingin ketik. Tapi otakku tak mau memprosesnya. Tanganku ingin sekali menari diatas keyboard hanya saja diantara keramaian ini otakku tak memproses satupun kata itu.

Tahun baru. Semua suka. Aku juga (?).
Apa harapanmu di tahun ini.
Harapanku ?

Aku? Aku ingin mencari, tapi aku sendiri tak tahu apa yang ingin ku cari. Pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi sendiri tak tahu apa yang kamu inginkan?
Pernahkah?
Itu terasa begitu membingungkan. Sangat membingungkan. Aku ingin, tapi aku sendiri tak tahu apa yang aku inginkan. Atau sebenarnya ada banyak yang aku inginkan?

Ehm, entahlah. Aku sekarang tak memiliki keinginan apapun, kecuali satu LULUS.

LULUS? Yeah, lulus dari ujian hidup ini. Wkwkwkwk.
Benar. Konon katanya, ibarat sebuah cuaca, sekarang, oh bukan sekarang tapi tahun lalu adalah masa badai. Baiklah, aku hanya butuh sedikit bertahan untuk melihat pelangi. Oke,oke.

Sebenarnya kalau aku ingin, aku ingin sekali memaksa mengubah semua keadaan ini. Tapi siapa aku?
Baiklah, bukankah cara terbaik adalah menerima semuanya. Ya, terima saja.

Setahun yang lalu aku pernah menolak semua terjadi, tapi semua terasa begitu menyakitkan bukan? Baiklah, terima saja semuanya. Begitu dia hadir, ya hadir saya. Suatu hari dia akan terlepas. Suatu hari ia akan pergi dan akan datang sesuatu yang baru.
Ya, ya sudahlah.

Pada tahun ini, siapa sih aku yang ingin menolak semuanya?
Siapa aku yang ingin memaksa keadaan. Sudahlah. Sudahlah seperti pesan seseorang. Semua pasti berlalu. Dan rasa ini pasti berlalu. Seperti langit. Pagi, siang, sore dan malam. SEMUA BERLALU. YA BERLALU.