Alaaah... Dunia begitu menarik dengan segala degradasi warnanya. Merah. Kuning. Hijau... Biru.. Ungu... Semua menarik...
Tapi mengapa dunia yg kini aku jalani tak lagi menarik?
Bosan?
Jenuh?
Uang yg kurang?
Ah rasanya tidak.
Semua masih cukup. Hanya satu ya kurang.
Ya, CINTA.
Cinta yang dulu membuatku datang.
Cinta yang membuatku bertahan.
Cinta yang membuatku enggan beranjak.
Aku mencintai apa yang kulakukan, karenanya yang kulakukan penuh cinta.
Tapi kini?
Ya mungkin cinta itu mulai pudar karena usia dan kurangnya penghargaan.
Wah, itu berarti cintaku tak tulus?
Ah tidak juga. Hanya aja cintaku mulai memudar. Dan AKU INGIN PERGI.
AKHIRI apa yang pernah AKU MULAI.
Iaya, karena cinta :')
Kamis, 30 Oktober 2014
Selasa, 28 Oktober 2014
Jatuh (CINTA)
Well... Dijam gue ini menunjukkan pukul 12.37 wita. Dan mata gue belum bisa terpejam karena tenggorokan sakit tapi gak juga bisa buat apa-apa. Sakitnya dimana?
Dimana-mana. Nah jadi gue mutusi nulis di blog aja karena gue lagi galau dan berharap ada cowok yang baca ini trus nembak gue. #alah harapan bodoh. Tapi tetep berharap.
Nah jadi gue mau ceeita dong kalau gue lagi jatuh cinta. Tadi temen gue sempet muji sih kalau gue makin cantik. Hehehee... Ya mungkin karena gue lagi jatuh cinta kali ya.
Nah gue udab kenal lama sama ini orang. Sekitar 3 tahun. Lebih-lebih dikitlah. Terus, terus dari semua kriteria yang gue punya gak ada satupun yang masuk. Eh tapi ya kalau ketemu dia gue seneng
Dan bagusnya sih gue masih bisa ngendaliin diri buat gak nunjikin gue cemburu kalau dia lagi deket sama cewek lain. Yah gue udah kebal dan resisten
Gue udah berdamai sama.cemburu
Uhm... Gue sih pingin dia nembak gue sebelum atau pas diusia gue 21 tahun nanti. Tahun lalu dia ada kok di ultah gue, tapi dengan perayaan yang telat, gak ikut.ngasi hadiah dan tentu gak nembak gue.
Eh, ngomong-ngomong soal tembak.menembak. Sebenarnya gue udah putus harapan sejak gue usia 17 tahun. Inget bangey gue waktu itu berharap.banget ditembak sama gebetan gue.
Di mimpi gue, gebetan gue itu bawa bunga lili 24 tangkai, lengkap.dengan sedikit sedap malam dan.margot putih terus bawa.kue dan bilang seenggaknya "jadian yuk". Omigot, matrealistis banget ya gue. Dan kenyataannya adalah waktu itu dia jadian sama cewek lain. Sejak itu gue udah gak berharap banyak lagi soal ultah dab jadian
Yaudah jalanin aja. Gue gak lagi berharap bunga di ultah gue. Kalau dapat ya syukur. Kalau gak dapat ya syukur juga gue masih punya umur yang panjang. Gue juga gak ngarep banget punya cowok walau gue tetap berharap ditembak.cowok
Gue udah gak pusing lagi soal siapa dia. Gimana caranya dia nembak gue dan dia.bilang apa ke gue waktu minta kami jadia. GUE UDAH GAK PEDULI. Asal dia buat gue jatuh cinta dan ngajak gue.pacaran, dan bukan kode.Soalnya gue.sendiri gak ngerti kode.
Gue gak pernah tahu gimana cowok suka sama gue
Gue gak ngerti kalau mereka punya sikap yg seandainya mereka bilang pingin lebih deket sama gue. Gue gak.ngerti kalau mereka gak bilang
bilang. So jadi gue bakalan mereapon.kalau mereka bilang. Ah? Jadi apa hubungannya.dengan judul jatuh cinta?
Oiya, ada jelas dong. Kalau dia udah bilang, gue akan belajar buat jatuh cinta. Bukan cinta ya. Soalnya kalau.cinta, cinta gue itu terlalu universal
universal. Gue cinta sama ortu gue. Sama alam. Sama barang-barang yg gue punya. Sama teman. Sama semua orang. Semuanya sama. Gue cinta kayak gue cinta sama diri gue. Cuma kalau ada yg bilang mau standar cinta yang lebih, yuk mengalir kayak air. Hehehe
Dan mari lihat kemaja arahnya. Apakah gue bisa jatuh cinta kayak air yg ngalir ke samudra atau kayak air yang akhirnya kering di tengah sungai. Semua cuma waktu yang bisa.menjawab.
Selamat mencintai
I love you all :)
Rabu, 22 Oktober 2014
Udah Lama
. Lama juga ya. Kalau diingat lagi udah hampir setahun aku sadar mulai mencintai cintaku sekarang. Setahun itu cepet ya? Sejak Januari lalu padahal ketakutan banget bakalan ditinggal dia, tapi ternyata ditinggal dia gak semenakutkan yang aku bayangkan. Setahun juga keluargaku berubah Dan aku mulai membenci senja. Tapi bulan demi bulan aku mulai menerima senja. Walau senta tetap mengingatkanku bahwa ada banyak.lenangan kami ketika senja. Andai saja satu diantara kami masih mau berjuang dan bertahan maka senja tak akan semenyakitkan hari-hari yang harus kulalui kini.
Belakangan ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Buat aku gak ke pantai menyaksikan setiap harapanku telah tenggelam hilang bersama senja. Sedih dab sakit tapi dengan menyaksikannya aku bisa belajar mengenai tumbuh Dewasa. Belajar mengenai kebahagiaan yang aku ciptakan dan musnakan sendiri.
Aku rindu senja. Rindu senja kami semua
berkumpul dan tertawa bersama. Duduk dan bercerita bersama. Aku rindu senja. Aku rindu senja katika lukaku terobati dengan bertemunya kami di sebuah tempat terindah bernama rumah. Sebuah tempat dimana aku dapat menumpahkan segala keluh kesahku. Aku didengar dan meperoleh semangat baru
Tapi kini? Rumah itu telah sepi.
Aku bahkan tak kenal lagi itu sebagao sebuah rumah. Sayang ya?
Tiap senja aku hanya mampu mengenang dan membiarkan kenanga itu musnah bersama air mataku.
Kini aku hanya punya diriku sendiri untuk bisa berdiri. Aku tak bisa lagi mengharapkab siapapun bertahan seperti aku. Seandainya saja hari di bulan juli ini tak pernah terjadi mungkin aku masih punya mereka. Tapi itu semua sudah lama sekali. Lama sekali. Dan aku akan bertahan
Bukankah tuhan memberikan segala sesuatu karena ia tahu kita mampu? Ya aku mampu. Dan badai pasti berlalu hingga senjaku kembali terlukis indah. :)
Kamis, 09 Oktober 2014
I Can't Speak
Belakangan gue kangen banget sama cinta gue. Ehm.. Udah lama banget gak pergi ke Vihara. Udah lama banget gak pergi meditasi. Sejak pisah sama "dia" gue gak lagi ke Vihara. Dan satu sisi buat gue kembali ngerasa sepi.
Bedanya adalah sejak gue pisah sama dia, gue lebih rajin ketawa. Berat badan gue juga udah nambah. Bahkan sekarang udah kayak ibu hamil, wkwkwkw..
Then, tentang keluarga gue. Gue udah mulai yang namanya nerima kalau semua emang udah berubah. Mereka adalah pilihan yang gak bisa gue pilih. Mereka adalah keluarga gue. Cinta gue. Sumber energi gue. Yah, walaupun mereka gak utuh, tapi mereka masih bisa jadi semangat gue kan?
Iya, gue tahu tuhan ngasi ini semua karena dia tahu gue mampu.
Sekarang gue ngelakuin sesuatu bukan lagi demi ini atau itu. Demi siapa atau siapa. Tapi buat diri gue sendiri. Karena gue tahu, udah gak ada siapa-siapa lagi. Gue pingin banget ada seseorang yang bisa gue pinjem pundaknya buat gue bersandar, tapi gue sadar kalau gue cuma punya dua pundak gue sendiri. Gue pingin bangat pinjem tangan orang lain buat megangin gue waktu gue gundah, tapi gue sadar gue cuma punya dua tangan gue. Oke, itu gak papa. Gak papa ketika gue butuh pelukan, gue meluk diri gue sendiri. Gak papa ketika gue nangis gue butuh pundak orang dan gak ada siapapun. Gue tahu masih ada diri gue sendiri. Gue tahu gue masih punya jiwa gue. Nafas dan hidup gue. Satu hal yang buat gue bertahan adalah ketika gue inget kalau gue gak punya siapapun di dunia ini, gue masih punya diri gue sendiri. Dan gue udah cukup bersyukur kalau gue punya diri gue sendiri.
Orang lain akan datang dan pergi seiring waktu. Kayak cinta gue, tapi diri gue, hati gue yang bersemayam cinta gak bakalan ninggalin gue. Gue berkali-kali tanemin itu di diri gue buat bertahan. So, kita semua sedang bertumbuh. Mari bertahan dalam setiap kehampaan. Karena semua akan berlalu.
Bedanya adalah sejak gue pisah sama dia, gue lebih rajin ketawa. Berat badan gue juga udah nambah. Bahkan sekarang udah kayak ibu hamil, wkwkwkw..
Then, tentang keluarga gue. Gue udah mulai yang namanya nerima kalau semua emang udah berubah. Mereka adalah pilihan yang gak bisa gue pilih. Mereka adalah keluarga gue. Cinta gue. Sumber energi gue. Yah, walaupun mereka gak utuh, tapi mereka masih bisa jadi semangat gue kan?
Iya, gue tahu tuhan ngasi ini semua karena dia tahu gue mampu.
Sekarang gue ngelakuin sesuatu bukan lagi demi ini atau itu. Demi siapa atau siapa. Tapi buat diri gue sendiri. Karena gue tahu, udah gak ada siapa-siapa lagi. Gue pingin banget ada seseorang yang bisa gue pinjem pundaknya buat gue bersandar, tapi gue sadar kalau gue cuma punya dua pundak gue sendiri. Gue pingin bangat pinjem tangan orang lain buat megangin gue waktu gue gundah, tapi gue sadar gue cuma punya dua tangan gue. Oke, itu gak papa. Gak papa ketika gue butuh pelukan, gue meluk diri gue sendiri. Gak papa ketika gue nangis gue butuh pundak orang dan gak ada siapapun. Gue tahu masih ada diri gue sendiri. Gue tahu gue masih punya jiwa gue. Nafas dan hidup gue. Satu hal yang buat gue bertahan adalah ketika gue inget kalau gue gak punya siapapun di dunia ini, gue masih punya diri gue sendiri. Dan gue udah cukup bersyukur kalau gue punya diri gue sendiri.
Orang lain akan datang dan pergi seiring waktu. Kayak cinta gue, tapi diri gue, hati gue yang bersemayam cinta gak bakalan ninggalin gue. Gue berkali-kali tanemin itu di diri gue buat bertahan. So, kita semua sedang bertumbuh. Mari bertahan dalam setiap kehampaan. Karena semua akan berlalu.
Langganan:
Komentar (Atom)

