

Wooowm
ini perjalanan yang cukup menarik dan lagi lagi lagi aku jalan-jalan bukan
sekadar jalan-jalan. Sejak tahun 2012 ikut konfrensi di Kinabalu, Malaysia saya
jadi ketagihan untuk ikutan acara-acara gitu karena hasil sampingannya adalah
JALAN-JALAN. Tahun lalu terakhir saya presentasi penelitian saya adalah ke
Makau. Itu perjalanan paling seru menurut saya karena saya memasrahkan semuanya
pada Tuhan. Saat itu, dekat hari H saya belum punya uang untuk beli tiket
pesawat tapi Tuhan memberikan saya jalan ketika saya punya niat yang kuat (baca
aja kisah lengkapnya @Metropolitan Macau). Di tahun yang sama saya mulai jenuh
dengan aktivitas saya yaitu penelitian-gali dana-berangkat konfrensi-LPJan dan blab
la bla. Segala yang bersifat birocrazy. Sayangnya, kesukaan saya jalan-jalan
masih gak bisa hilang nih. Sampai-sampai saya berencana mau travelling sendiri
di bulan September nanti. Tujuannya sih Jakarta dan bogor.
Backpakeran(ceritanya). Jadi hemat. Berhubung juga saya gak terlalu suka
belanja (kecuali buku).
Yang
gak suka bilang Tuhan baik, boleh dong setelah baca ini bilang sekali aja TUHAN
BAIK. MAHA BAIK pake BANGET. Ternyata oh ternyata teman saya yang baik hati nan
manis ganteng (kalau baca tulisan ini semoga dia gak jadi pingsan ya #eeh) ngajakin
ikutan ke acara ASEAN LITERALY FESTIVAL. Jadi saya gak usah keliling Jakarta
sendiri deh. Lagipula itu sejenis acara konfrensi yang saya tidak perlu
mengeluarkan uang alias gratis. Jadi gak ada salahnya ikutan. Pasti ada ilmu
yang bisa di dapetin (Walaupun gak dapet sertifikat). Itu kebaikan Tuhan
pertama dikisah ini. Itu aja? Oh tidaak karena masih ada lagi nih kebaikan
berikutnya. Tiket pulang naik Tiger harganya hanya 95 ribu rupiah, Men. So,
jadi dan kita hanya menghabiskan uang 130 ribu (itupun kurang berapa rupiah)
untuk tiket berdua pulang pergi Jakarta-Bali dan sudah termasuk charger ATM
mandiri. (Ups, sorry ya. Disini saya gak akan sensor nama apapun).
Dengan
tiket tersebut maka berangkatlah kami ke Jakarta pada tanggal 20 Maret 2014
dengan jadwal penerbangan 13.40 WITA. Entah mengapa pagi itu hujan sangat
deras. Hujannya sampai siang lo L . Selain harus
memasukkan uang ke ATM saya juga harus menitipkan dua anak saya (kura-kuran
kesayangan saya) di Klinik tempat saya biasa mengobrol. Nah, saya sih ada
feeling kalau penerbangan bakalan delay dan ternyata benar. Saya udah
ngos-ngosan dari parkiran motor untuk menderek tas ke pintu masuk bandara agak
syok mendapatkan sms dari Ari (teman yang saya ajak berangkat) yang bilang
kalau dia masih di jalan. Seperti biasa, feeling saya benar lagi. Jadi
beruntunglah kami karena pesawat delay 30 menit. Itu kebaikan Tuhan yang ketiga
dikisah ini.
Boleh
sebut ini hal bodoh, atau terlalu berani. Kami ke Jakarta tanpa booking hotel
karena hotel yang kami incar pada full jadi kami berencana mencari hotel ketika
sudah sampai di Jakarta. Untuk sementara kami akan tinggal di kenalan dosen (Bu
Diah Lestari) yaitu bu Merti. Setibanya di Jakarta, kami menuju rawamangun
dengan dambri dan membayar tiket seharga 30 ribu. Curcol lagi dikit ya, nah, di
dalam bus ada bapak-bapak ngajak anak. Awalnya sih gak menarik ya, tapi saya
jadi tertarik ketika anaknya menangis dan dia dengan sosok ke bapakannya
menenangkan anaknya dengan cara memeluknya. Cara yang tepat. Cara bapak itu
menenangkan anaknya membuat saya berpikir pasti dia suami yang baik. Keliatan
kok sayang gitu sama anaknya. Jadi kalau nanti saya punya suami mau dong kayang
bapak itu. Bukan hanya karena tampangnya yang cakep tapi karena dia tahu cara
mengasuh anak. #ah lupakan soal suami. Langkah pertama cari pacar dulu yang
cakep dan bisa diajak belajar membina hubungan bersama. J
Dari
rawamangun (kami turun di halte rawasari) kami akan menuju Salemba tengah.
Untuk berangkat ke sana kami berjalan beberapa meter (dengan di jemput ibu
Merti), kemudian naik angkot dengan bayar 2 ribu rupiah. Sampai di rumah ini
mengingatkan saya pada sebuah rumah dimana tempat itu penuh dengan kehangatan.
Rumah itu terdiri dari 3 kamar. Ari mendapatkan kamar dekat toilet dan saya
tidur dengan bu Merti (boleh gak dia saya panggil nenek?) Sayangnya rumah yang
ada diingatan saya kini hanya menjadi kenangan. Sebuah rumah dimana semua cinta
dalam diri saya pernah berkembang dan hidup. Dimana saya mendapatkan kekuatan
saat saya rapuh. Dan tempat dimana saya mendapatkan kehidupan ketika saya
merasa mati. Semua itu membuat saya tidak tahan karena penuh emosional dan
gejolak dalam hati saya. Then, apa yang terjadi, hanya saya dan Tuhan yang
tahu. Well, lucunya padahal cuma dipisah tembok, tinggal buka pintu ketuk pintu
kamar sebelah kami bisa saling bicara untuk membahas mencari tempat tinggal.
Tetapi saya dan Ari memilih sms-an untuk
membahas pindah rumah (tempat tinggal), hehehee.
Pagi-pagi
kami berangkat ke Cikini dengan naik trnasjakarta seharga 3500. Di sana kami
mencari hotel. Sayangnya budget kami tidak mencukupi jadilah kami mencari hotel
di daerah hutan kayu. Ada sebuah hotel dengan harga 115 ribu. Kami memutuskan
menginap di sana. Ohmigod, saya sarankan kalau ke Jakarta lebih baik cari
penginapan yang tidak dibawah 200 ribu karena ASTAGAA si Ari menemukan kondom
di kamar mandi. Kami harus memotong botol air mineral untuk digunakan sebagai
centong mandi. Terus, nguras bak mandi dulu karena bak penuh dengan rambut.
Belum selesai sampai disana, seprai ada bercak mirip darah. OMG. OMG.OMG.
Berikutnya
saya menghubungi seorang teman bernama Moren. Dia mau berbaik hati untuk kami
menumpangkan barang-barang kami di rumahnya. Itu kebaikan Tuhan berikutnya.
Walaupun dia gak bisa ngasi kami tempat tinggal, tetapi setidaknya dia memberi
tumpangan barang-barang kami sehingga kami tidak perlu membawa banyak barang
ketika berjalan di malam hari untuk mencari hotel baru. Berikutnya kami
menginap di hotel DC (aduh lupa namanya) tempatnya diujung hutan kayu pokoknya.
Harganya sih cukup menguras kantong kami yaitu 280 ribu. Hahahaa, setelah
sampai di kamar dan dihitung habislah uang kami untuk bayar hotel itu. Tapi
beruntungnya kami karena keesokan harinya seorang teman fasilitator, Mbak Asti
memberikan kami tempat tinggal di apartemennya. Setidaknya tenanglah kami satu
hari. Lumayan untuk mengurangi budget hotel yang emang udah seret banget.
Sekarang kami harus memikirkan hotel yang dapat fasilitas setidaknya bukan
tempat buat chek in dengan harga 50 ribu rupiah. Sayangnya keliling-keliling sampai
gempor ditambah nyasar kami tidak menemukan hotel seperti itu. Untung
beruntungnya Mbak Asti memberikan kami izin tinggal di apartemennya sampai kami
pulang ke bali.
Well,
hari kedua sampai keempat kami habiskan untuk ke Cikini dan mencari hotel. Hari
kelima kami habiskan untuk ke UI. Sebenarnya saya Cuma maksa Ari buat nganterin
saya ketemu temen lama sih di UI. Kangen banget lama gak ketemu. Hehehee. Dari
Pramuka Lia (apartemen tempat kami tinggal di kawasan ini) kami naik trans
dengan harga 3500 menuju manggarai. Nah, dari stasiun manggarai kami ke UI
Depok dengan comuterline dengan harga 8000 (5 ribu sebagai uang jaminan kartu).
Nah, kami balik dari depok cukup bayar 3000 rupiah dan uang jaminan
dikembalikan ketika mengembalikan kartu. Maka dengan berakhirnya perjalanan
kami ke UI berakhir pulalah petualangan kami di Jakartah. Karena hari
berikutnya kami habiskan dengan NONTON DRAMA KOREA di apartemen. Kemudian
berenang di sore hari, masak-makan-cuci peralatan dapur. Udah. Itu aja. Malam
itu saya ngerasa rindu banget sama Mama saya. Hehehee, dan beruntungnya saya
karena ditelpon. J Keesokan harinya apa
yang special ya?
Banyaklah
ya (biar bisa tetap bersyukur). Besok paginya setidaknya kami masih bisa
bernafas, bisa sarapan, bisa makan (mie instan + sayur) dan sampai di Bali
dengan selamat. Wooow, ini perjalanan yang menyenangkan. SANGAT MENYENANGKAN.
Walaupun pakai biaya sendiri, saya TIDAK PERNAH menyesal karena saya jadi tahu
kalau TUHAN SANGAT BAIK dan selalu MEMBERI KEBERUNTUNGAN. Selain itu, saya juga
bisa dapat beberapa ilmu dan inspirasi untuk penelitian (terapi kalau
seandainya dua tahun lagi saya lanjut S2).
Satu
lagi yang saya pelajari adalah berjalan banyak di Jakarta membuat saya sadar
kalau kampus dan tempat kos saya itu sangat dekat. Jadi kenapa saya harus pakai
sepeda motor. Rencananya mulai 2 April ini saya akan berjalan kaki. Semoga bisa
terlaksana. J
Nice
Trip, Nice Day, and Thanks to GOD, Thanks to Ari, Bu Merti, Mbak Moren, Mbak
Wikan, terutama MBAK ASTI. Semoga tuhan selalu memberi kita semua
keberuntungan. Dan semoga saya bisa jalan-jalan lagi #tetap.