Senin, 31 Maret 2014

GREAT @MACAU

Hingga akhir Tahun lalu, Perjalanan ini adalah terbaik bagiku. Aku menempuh perjalanan ini ketika masa-masa aku terjatuh dan bersyukurlah aku ketika itu dosen saya yang sangat baik bernama bu Deby memberikan dukungan terbesarnya. Saya bahkan tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih atas segala dukungan beliau. Ups, mari lanjut bercerita tentang perjalanan ini. Kali ini saya berangkat ke Macau, China bersama seorang dosen, Bu Deby untuk mempresentasikan hasil penelitian kami tentang HIV-AIDS. Sebenarnya saya mau banyak cerita tentang pengalaman di sana, tapi karena sudah malam jadi saya pamer foto aja yah. Ceritanya disambung ke @Metropolitan Macau aja yah. hehehee


ini waktu numpang pipis dan bernafas di Singapore

Nah, ini di hotel tempat Kami konfrensi

Tempat Wisata dekat penginapan pertama kami

Berikutnya adalah makanan yang membuat saya harus bekerja keras menurunkan berat badan. Tubuh saya yang biasanya konstan di angka 48-50 langsung mencapai angka 55 gara-gara makan-makan ini >"< (gak dimakan saya, dimakan jadi penumpukan lemak). Sungguh, disini saya rindu sekali makanan-makanan ini. Enak banget. Ada lagi mie yang dijual di dekat penginapan. Mie China yang saya bingung banget di sini dimana yang jual. 

Kue kacang, melon, puding, nyamnyam

 aneka shuzi 

 aneka Salad, nyamiiii

 Makanan Jepang lagi, enakk 

 aneka kue menggoda selera

 Nah, kalau ini hotel Vi (apa gitu namanya) tempatnya BBF syuting looo
 Ini juga
 Ini museum, beda banget sama di sini. Ini tempat wisata GRATIS
 Casino (bukan Dono, Casino, Indro lo), alias tempat Judi yg ada hotelnya
 Kalau malam, beginilah penampakan jendela penginapan kedua kami
 Ini tempat tidurnya, NYAMAN banget
 Penampakan jalanan
 Dari bangunan kuning ini sampai air mancurnya itu di Lapangan De Sonado (kalau gak salah), ini lapangan terkenal lah di Macau, ke Macau gak ke sini = Gak komplit


 Tempat Konfrensinya
 Penampakan jendela di Pagi hari 


 Penampakan jendela di kala Senja



Malam hari 

Cerita CERIA #Kelahiranku

(Ups, ini foto entah siapa ya. Maaf aja saya comot. Gak papalah kalau saya pake model untuk cerita ini)

Saya diberinama Ceria. Tanya kenapa! Katanya ketika aku lahir aku langsung ketawa bukan nangis. Percaya gak? Yahaa, emang gak usah dipercaya kaeleees. It's false. Hehehee, biar mudah aja saya jawab setiap orang bertanya karena pada kenyataannya sejarah nama ini cukup panjang. Puaaaanjaaaang pake banget. Mau diceritain? hehehe

Jadi, keluarga saya itu cukup besar.

bersambung #lagi ngantuk berat nii hehehehe

Our First Trip @JAKARTA



Wooowm ini perjalanan yang cukup menarik dan lagi lagi lagi aku jalan-jalan bukan sekadar jalan-jalan. Sejak tahun 2012 ikut konfrensi di Kinabalu, Malaysia saya jadi ketagihan untuk ikutan acara-acara gitu karena hasil sampingannya adalah JALAN-JALAN. Tahun lalu terakhir saya presentasi penelitian saya adalah ke Makau. Itu perjalanan paling seru menurut saya karena saya memasrahkan semuanya pada Tuhan. Saat itu, dekat hari H saya belum punya uang untuk beli tiket pesawat tapi Tuhan memberikan saya jalan ketika saya punya niat yang kuat (baca aja kisah lengkapnya @Metropolitan Macau). Di tahun yang sama saya mulai jenuh dengan aktivitas saya yaitu penelitian-gali dana-berangkat konfrensi-LPJan dan blab la bla. Segala yang bersifat birocrazy. Sayangnya, kesukaan saya jalan-jalan masih gak bisa hilang nih. Sampai-sampai saya berencana mau travelling sendiri di bulan September nanti. Tujuannya sih Jakarta dan bogor. Backpakeran(ceritanya). Jadi hemat. Berhubung juga saya gak terlalu suka belanja (kecuali buku).

Yang gak suka bilang Tuhan baik, boleh dong setelah baca ini bilang sekali aja TUHAN BAIK. MAHA BAIK pake BANGET. Ternyata oh ternyata teman saya yang baik hati nan manis ganteng (kalau baca tulisan ini semoga dia gak jadi pingsan ya #eeh) ngajakin ikutan ke acara ASEAN LITERALY FESTIVAL. Jadi saya gak usah keliling Jakarta sendiri deh. Lagipula itu sejenis acara konfrensi yang saya tidak perlu mengeluarkan uang alias gratis. Jadi gak ada salahnya ikutan. Pasti ada ilmu yang bisa di dapetin (Walaupun gak dapet sertifikat). Itu kebaikan Tuhan pertama dikisah ini. Itu aja? Oh tidaak karena masih ada lagi nih kebaikan berikutnya. Tiket pulang naik Tiger harganya hanya 95 ribu rupiah, Men. So, jadi dan kita hanya menghabiskan uang 130 ribu (itupun kurang berapa rupiah) untuk tiket berdua pulang pergi Jakarta-Bali dan sudah termasuk charger ATM mandiri. (Ups, sorry ya. Disini saya gak akan sensor nama apapun).
Dengan tiket tersebut maka berangkatlah kami ke Jakarta pada tanggal 20 Maret 2014 dengan jadwal penerbangan 13.40 WITA. Entah mengapa pagi itu hujan sangat deras. Hujannya sampai siang lo L . Selain harus memasukkan uang ke ATM saya juga harus menitipkan dua anak saya (kura-kuran kesayangan saya) di Klinik tempat saya biasa mengobrol. Nah, saya sih ada feeling kalau penerbangan bakalan delay dan ternyata benar. Saya udah ngos-ngosan dari parkiran motor untuk menderek tas ke pintu masuk bandara agak syok mendapatkan sms dari Ari (teman yang saya ajak berangkat) yang bilang kalau dia masih di jalan. Seperti biasa, feeling saya benar lagi. Jadi beruntunglah kami karena pesawat delay 30 menit. Itu kebaikan Tuhan yang ketiga dikisah ini.
Boleh sebut ini hal bodoh, atau terlalu berani. Kami ke Jakarta tanpa booking hotel karena hotel yang kami incar pada full jadi kami berencana mencari hotel ketika sudah sampai di Jakarta. Untuk sementara kami akan tinggal di kenalan dosen (Bu Diah Lestari) yaitu bu Merti. Setibanya di Jakarta, kami menuju rawamangun dengan dambri dan membayar tiket seharga 30 ribu. Curcol lagi dikit ya, nah, di dalam bus ada bapak-bapak ngajak anak. Awalnya sih gak menarik ya, tapi saya jadi tertarik ketika anaknya menangis dan dia dengan sosok ke bapakannya menenangkan anaknya dengan cara memeluknya. Cara yang tepat. Cara bapak itu menenangkan anaknya membuat saya berpikir pasti dia suami yang baik. Keliatan kok sayang gitu sama anaknya. Jadi kalau nanti saya punya suami mau dong kayang bapak itu. Bukan hanya karena tampangnya yang cakep tapi karena dia tahu cara mengasuh anak. #ah lupakan soal suami. Langkah pertama cari pacar dulu yang cakep dan bisa diajak belajar membina hubungan bersama. J

Dari rawamangun (kami turun di halte rawasari) kami akan menuju Salemba tengah. Untuk berangkat ke sana kami berjalan beberapa meter (dengan di jemput ibu Merti), kemudian naik angkot dengan bayar 2 ribu rupiah. Sampai di rumah ini mengingatkan saya pada sebuah rumah dimana tempat itu penuh dengan kehangatan. Rumah itu terdiri dari 3 kamar. Ari mendapatkan kamar dekat toilet dan saya tidur dengan bu Merti (boleh gak dia saya panggil nenek?) Sayangnya rumah yang ada diingatan saya kini hanya menjadi kenangan. Sebuah rumah dimana semua cinta dalam diri saya pernah berkembang dan hidup. Dimana saya mendapatkan kekuatan saat saya rapuh. Dan tempat dimana saya mendapatkan kehidupan ketika saya merasa mati. Semua itu membuat saya tidak tahan karena penuh emosional dan gejolak dalam hati saya. Then, apa yang terjadi, hanya saya dan Tuhan yang tahu. Well, lucunya padahal cuma dipisah tembok, tinggal buka pintu ketuk pintu kamar sebelah kami bisa saling bicara untuk membahas mencari tempat tinggal. Tetapi saya dan Ari memilih sms-an  untuk membahas pindah rumah (tempat tinggal), hehehee.

Pagi-pagi kami berangkat ke Cikini dengan naik trnasjakarta seharga 3500. Di sana kami mencari hotel. Sayangnya budget kami tidak mencukupi jadilah kami mencari hotel di daerah hutan kayu. Ada sebuah hotel dengan harga 115 ribu. Kami memutuskan menginap di sana. Ohmigod, saya sarankan kalau ke Jakarta lebih baik cari penginapan yang tidak dibawah 200 ribu karena ASTAGAA si Ari menemukan kondom di kamar mandi. Kami harus memotong botol air mineral untuk digunakan sebagai centong mandi. Terus, nguras bak mandi dulu karena bak penuh dengan rambut. Belum selesai sampai disana, seprai ada bercak mirip darah. OMG. OMG.OMG.
Berikutnya saya menghubungi seorang teman bernama Moren. Dia mau berbaik hati untuk kami menumpangkan barang-barang kami di rumahnya. Itu kebaikan Tuhan berikutnya. Walaupun dia gak bisa ngasi kami tempat tinggal, tetapi setidaknya dia memberi tumpangan barang-barang kami sehingga kami tidak perlu membawa banyak barang ketika berjalan di malam hari untuk mencari hotel baru. Berikutnya kami menginap di hotel DC (aduh lupa namanya) tempatnya diujung hutan kayu pokoknya. Harganya sih cukup menguras kantong kami yaitu 280 ribu. Hahahaa, setelah sampai di kamar dan dihitung habislah uang kami untuk bayar hotel itu. Tapi beruntungnya kami karena keesokan harinya seorang teman fasilitator, Mbak Asti memberikan kami tempat tinggal di apartemennya. Setidaknya tenanglah kami satu hari. Lumayan untuk mengurangi budget hotel yang emang udah seret banget. Sekarang kami harus memikirkan hotel yang dapat fasilitas setidaknya bukan tempat buat chek in dengan harga 50 ribu rupiah. Sayangnya keliling-keliling sampai gempor ditambah nyasar kami tidak menemukan hotel seperti itu. Untung beruntungnya Mbak Asti memberikan kami izin tinggal di apartemennya sampai kami pulang ke bali.

Well, hari kedua sampai keempat kami habiskan untuk ke Cikini dan mencari hotel. Hari kelima kami habiskan untuk ke UI. Sebenarnya saya Cuma maksa Ari buat nganterin saya ketemu temen lama sih di UI. Kangen banget lama gak ketemu. Hehehee. Dari Pramuka Lia (apartemen tempat kami tinggal di kawasan ini) kami naik trans dengan harga 3500 menuju manggarai. Nah, dari stasiun manggarai kami ke UI Depok dengan comuterline dengan harga 8000 (5 ribu sebagai uang jaminan kartu). Nah, kami balik dari depok cukup bayar 3000 rupiah dan uang jaminan dikembalikan ketika mengembalikan kartu. Maka dengan berakhirnya perjalanan kami ke UI berakhir pulalah petualangan kami di Jakartah. Karena hari berikutnya kami habiskan dengan NONTON DRAMA KOREA di apartemen. Kemudian berenang di sore hari, masak-makan-cuci peralatan dapur. Udah. Itu aja. Malam itu saya ngerasa rindu banget sama Mama saya. Hehehee, dan beruntungnya saya karena ditelpon. J Keesokan harinya apa yang special ya?

Banyaklah ya (biar bisa tetap bersyukur). Besok paginya setidaknya kami masih bisa bernafas, bisa sarapan, bisa makan (mie instan + sayur) dan sampai di Bali dengan selamat. Wooow, ini perjalanan yang menyenangkan. SANGAT MENYENANGKAN. Walaupun pakai biaya sendiri, saya TIDAK PERNAH menyesal karena saya jadi tahu kalau TUHAN SANGAT BAIK dan selalu MEMBERI KEBERUNTUNGAN. Selain itu, saya juga bisa dapat beberapa ilmu dan inspirasi untuk penelitian (terapi kalau seandainya dua tahun lagi saya lanjut S2).
Satu lagi yang saya pelajari adalah berjalan banyak di Jakarta membuat saya sadar kalau kampus dan tempat kos saya itu sangat dekat. Jadi kenapa saya harus pakai sepeda motor. Rencananya mulai 2 April ini saya akan berjalan kaki. Semoga bisa terlaksana. J

Nice Trip, Nice Day, and Thanks to GOD, Thanks to Ari, Bu Merti, Mbak Moren, Mbak Wikan, terutama MBAK ASTI. Semoga tuhan selalu memberi kita semua keberuntungan. Dan semoga saya bisa jalan-jalan lagi #tetap.